PETUALANGAN MARSANI

Karya : M. Wisnu Jadmika, S.Pd.

sampul

 

”Tatapan matamu tajam menusuk kalbu

tergores di bilik hatiku

luka menganga takkan pernah hilang

saat jemarimu menari di pipiku

gelora hati bagai bara api

membakar jemari dan wajahmu

yang tertunduk malu

saat waktu tak bersahabat padaku

saat gelora dihatimu seperti amuk Rr. Jonggrang

pada Bandung Bandawasa

saat terpaku di bawah pohon jambu”.

 

***

Cerita ini merupakan cerita perjalanan cinta dari seorang gadis yang salah dalam menentukan jalan hidupnya. Gadis ini hanya menuruti keinginan hati yang membawanya ke petualangan kisah cinta yang berakhir menyedihkan. Mengikuti kehendak hati tanpa menggunakan logika akan membawanya dalam perjalanan hidup yang penuh liku. Ternyata cinta itu dapat membuat bahagia bukan karena keelokan wajah kecantikan atau ketampanan, kekayaan yang melimpah, atau pendidikan yang tinggi. Cinta dapat membawa kebahagiaan apabila di dalam hati tumbuh rasa suka sama suka dan didasari rasa saling percaya dan menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing. Cerita petualangan Marsani ini terdiri dari beberapa cerita yang berbeda dengan mengambil tokoh yang sama. Dengan membaca cerita ini diharapkan pembaca dapat terhibur dan mengambil manfaatnya.

Cerita ini dapat dibaca di cerpenku www.wisnujadmika.wordpress.com

***

Kabut pagi masih menyelimuti kampung Kedung Dalem, matahari masih malu-malu untuk bangun di pagi hari. Awan hitam berjejer di ufuk timur, menyelimuti puncak gunung Lawu.  Ayam jantan sudah sejak tadi berkokok bersahut-sahutan. Pertanda pagi telah datang, malam telah meninggalkan jejaknya. Bintang-bintang mulai menghilang di balik luasnya alam raya. Diantara awan hitam yang sudah mulai memudar, sinar merah jingga menerobos disela-selanya. Bagaikan pedang berkilauan menebas dan memporak-porandakan awan hitam hingga tinggal kepingan berserakan. Matahari mulai menampakkan wajahnya, dengan sinar merah keemasan menerobos ke penjuru dunia. Pohon-pohon mulai kelihatan hijau daunnya, kuning padi di sawah mulai kelihatan. Angin pagi sepoi-sepoi menghantarkan dinginnya pagi untuk pergi. Burung-burung mulai bersahut-sahutan menyambut datangnya matahari.

Kaki-kaki tua berjalan tertatih bersandarkan tongkat kayu seadanya menuju ke pohon besar tempat sumber air. Sumber air yang mengalir dari pohon tersebut digunakan oleh  masyarakat kampung Kedung Dalem untuk keperluan memasak. Begitu pula dengan Mbah Sani, mengambil air di sumber mata air untuk memasak. Lumayan susah untuk mendapatkan seember air bersih, harus berjalan tertatih berdesakan dengan warga lainnya. Begitulah kehidupan Mbah Sani yang sendirian di rumahnya di pojok kampung. Untuk mendapatkan makan hari itu saja harus bekerja keras mendapatkan upah dari membantu tetangganya.

“Aduuh….badanku koq terasa capek banget ya?” batin Mbah Sani saat membawa seember air yang diambilnya tadi. Mbah Sani merasakan badannya agak kurang sehat.

Sesampai di rumahnya, Mbah Sani duduk bersandarkan dinding  rumahnya. Tangan berkeriput tersebut perlahan menyelusuri kaki-kaki tuanya. Sambil dipijit-pijitkan untuk menghilangkan rasa capek yang ia rasakan. Semakin lama badannya merasa berat untuk bangun. Rasa capeknya juga belum juga hilang, malah kini semakin menggerayang ke seluruh tubuhnya.

“Kalau terus-terusan begini aku tidak dapat kemana-mana, lebih baik ke dokter saja”, perasaan Mbah Sani semakin tidak menentu tatkala membuka dompet lusuh satu-satunya.

“Uang sudah tidak punya lagi, terus nanti membayar dokter menggunakan apa? Menghutang jelas tidak boleh, menjual pisang belum tua”. Ia terdiam sejenak sambil bersandarkan dinding rumahnya yang mulai dimakan rayap tersebut.

Akhirnya ia memberanikan diri ke dokter Ambar, satu-satunya dokter di kampung tersebut yang buka praktik. Dengan langkah tertatih-tatih menyelusuri jalan kampung menuju rumah dokter Ambar. Dokter yang buka praktik pagi dan sore hari itu adalah merupakan dokter desa yang menjadi kepala Puskesmas terdekat. Kebetulan sore itu tempat praktik dokter Ambar masih sepi, baru Mbah Sani satu-satunya pasien yang datang ke tempat tersebut.

“Selamat sore Bu Dokter” sapa Mbah Sani sambil terbata menahan sakit.

“Selamat sore Mbah, silahkan masuk”, jawab dokter Ambar sambil mempersilahkan Mbah Sani duduk, “Kenapa Mbah?” lanjut dokter Ambar setelah mengeluarkan data-data pasien yang ia miliki.

“Ini lho nak dokter, badan saya terasa tulang-tulangnya akan copot dan badanku terasa pegal-pegal semua.”

“Mbah, itu tandanya badan Mbah Sani sedang kecapaian, atau tadi pagi habis makan apa Mbah?”

“Makannya sih biasa saja, sayur-sayuran di kebun rumah”, jawab Mbah Sani.

“Coba Mbah berbaring sebentar, aku periksa dulu”

Demikianlah Mbah Sani diperiksa oleh dokter Ambar. Setelah diperiksa tekanan darahnya, dan detak jantungnya, kemudian Mbah Sani diminta untuk bangun. Sambil menekan-nekan bagian-bagian tertentu dari badan Mbah Sani, kemudian dokter Ambar mengambilkan obat-obatan yang ada di rak almari. Obat-obatan yang ada di rak almari tersebut terdiri dari berbagai macam botol, sebagian besar terdiri dari botol yang berwarna putih. Tangan dokter Ambar dengan cekatan memilih beberapa botol kemudian mengeluarkan isinya. Ada 4 jenis obat yang diberikan Mbah Sani, sebagian besar berwarna putih hanya satu tablet yang berwarna kuning.

“Mbah, kenapa ke sini sendirian, tidak ada yang mengantar?”

“Aku ini hanya tinggal sendirian koq, nak.”

“Ma’af ya saya tidak tahu, lha anak-anaknya pada kemana to Mbah?” tanya dokter Ambar penuh selidik. Sebentar-sebentar memperhatikan wajah Mbah Sani yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dokter Ambar, sepertinya ada beban berat yang menyelimuti wajahnya.

“Nak dokter, anak saya sudah pergi bersama bapaknya dan tidak pernah lagi menengok saya.”

“Lha, kemana suaminya, Mbah?” tanya bu dokter Ambar, sambil mencarikan obat yang tepat untuk penyakitnya Mbah Sani.

“Ceritanya panjang, apa nak dokter mau mendengarkan ceritanya?”

“Iya, tidak apa-apa Mbah. Kalau memang cerita tersebut dapat meringankan beban Mbah Sani, kebetulan juga belum ada pasien lagi yang datang.”

“Ceritanya begini, Nak ….”, sambil menghela nafas panjang Mbah Sani memulai ceritanya.

DI BAWAH POHON BOUGENVILLE UNGU

Marsani merupakan gadis cantik yang ceria, wajahnya berseri-seri menatap masa depan. Tergambar dari keceriaan wajahnya akan masa depannya yang gemilang. Orang-orang kampung akan selalu memuji akan kecantikannya, walaupun tubuhnya kurang tinggi sedikit. Sejak remaja Marsani terkenal sangat dekat dengan para lelaki. Teman-temannya lebih banyak laki-lakinya dari pada perempuan. Dia lebih suka bergaul dan bercanda dengan teman laki-laki. Punya teman laki-laki dianggapnya lebih berarti daripada teman perempuan. Seperti tidak ada batasan antara Marsani dengan teman-temannya. Mereka kadang bergandengan tangan, dirangkulnya pundaknya dan apabila berboncengan sepeda motor seperti sepasang suami istri.

Bunga desa yang semakin hari semakin berkembang, harumnya menyeruak diantara rerimbunnya laki-laki bujangan. Tatkala banyak laki-laki lain yang datang dari luar desanya untuk menyatakan cinta selalu kandas terhantam perasaan dingin yang tidak meresponnya. Marsani juga manusia yang menggeliat tatkala nafsu melumuri jiwanya yang masih labil. Disaat-saat bercanda dan berkumpul-kumpul dengan teman-temannya, salah satu teman cowoknya terjatuh saat akan meraih bunga bougenville ungu di atasnya. Badannya melayang menimpa Marsani yang sedang duduk di bawahnya.

“Auuuwwhh……..”, jerit Marsani saat tertimpa tubuh Gunawan dengan posisi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Tubuh Gunawan menimpa kaki-kaki Marsani dan tubuhnya berada di atas perut Marsani. Sedangkan tangan kanan Gunawan yang tadi akan meraih bunga Bougenville ungu tepat berada di dada sebelah kiri Marsani. Keterkejutan Gunawan dan Marsani membuat mereka berdua bagaikan patung yang menggambarkan dewa-dewi kesuburan. Angan mereka berdua sedang merenda awan-awan di angkasa untuk merangkai titik-titik air hujan. Tangan Gunawan merasakan bahwa yang dipetik sekarang ini bukan lagi bunga bougenville tetapi bunga desa. Sangat terasa getaran dari kedua tubuh manusia itu berpacu melawan dahsyatnya gelora jantung mereka yang berdetak sangat kencang.

“Ma’af…ma’af, aku tidak sengaja,” begitu pinta Gunawan kepada Marsani yang masih terlentang di antara rerumputan di bawah bunga bougenville ungu. Itulah kenangan terindah yang mereka berdua rasakan saat berada di bawah bunga bougenville ungu.

“Rasanya ingin mengulanginya lagi,” pikir Gunawan sambil menatap Marsani yang mulai duduk kembali. Teman-teman yang lain sepertinya tidak memanfaatkan momen sekejap yang monumental tersebut.  Mereka asyik dengan canda tawa mereka, sehingga saat ada kejadian yang begitu mempesona tiada terabadikan.

Keduanya duduk terdiam, walaupun mereka duduk saling berdekatan, mata mereka sama-sama menatap teman-temannya yang sedang bermain. Obsesi dalam pikiran mereka membawa angan keduanya menuju angkasa. Seolah mereka sedang bergandengan di antara awan-awan membuat mereka semakin diam membisu. Terkadang wajah mereka dihiasi dengan senyum tipis, seolah-olah mentertawakan teman-temannya yang lain, padahal senyum mereka adalah senyum kebahagian di awan-awan. Marsani juga membayangkan suatu kebahagiaan yang dibangun bersama Gunawan, begitu pula dengan Gunawan membayangkan kebahagiaan seandainya Marsani jadi kekasih hatinya.

Perjalanan angan keduanya melayang-layang menyeruak diantara rimbunnya bunga bougenville ungu. Bergandengan tangan seakan tiada akan dilepaskan. Mereka menyambut datangnya malam hari dengan bersuka cita. Menunggu datangnya rembulan yang hadir diantara gelapnya malam. Bintang-bintang berkelap-kelip mulai menemani rembulan yang tinggal separuh tersebut. Walaupun rembulan tinggal separuh tapi hati Gunawan dan Marsani penuh dengan cahaya terang yang menyejukkan. Kelap-kelip bintang di langit sana bagaikan hati keduanya yang sedang mengembara.

“Hoooi…ayo pulang sudah magrib nih!” tiba-tiba Hartana mengejutkan lamunan mereka berdua.

SEKOLAH KE KOTA

Waktu-waktu telah berlalu, sejalan dengan bertambahnya usia Marsani menuju ke usia dewasanya. Marsani baru saja lulus dari SMP dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di desa mereka sekolah setingkat SMA belum ada. Desa Kedung Dalem memang terletak jauh dari pusat kota. Jauhnya desa mereka tidak menghalangi semangat Marsani untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Setinggi angannya yang terus melayang-layang. Apalagi selama ini teman-temannya selalu member harapan yang indah-indah tentang kemewahan hidup di dunia. Padahal mereka juga anak-anak sebaya Marsani, teman bermainnya. Diantara teman bermain Marsani tersebut ada seseorang yang telah membuatnya punya rasa dalam hati. Siapa lagi kalau bukan Gunawan, laki-laki yang memiliki wajah lumayan manis dan memiliki kulit yang bersih, rambut yang lurus dan rapi.

Diantara mereka tidak ada yang berani mengungkapkan perasaan masing-masing. Mereka masih menghargai persahabatan dari pada percintaan. Masa depan keduanya masih sangat jauh dari harapan. Mereka berusaha untuk menggapainya terlebih dahulu. Pikiran Marsani mulai diracuni oleh sinetron-sinetron di televisi. Obsesi Marsani menginginkan seperti tokoh yang dikagumi, walaupun itu tokoh antagonis.

“Seandainya aku menjadi dirinya pasti akan kulakukan hal-hal yang tidak pernah dibayangkan seseorang. Mereka mendapatkan kemewahan dengan mudahnya. Dengan kemewahan yang mereka miliki mereka dapat tinggal di mana mereka mau, di perumahan elit, di hotel berbintang, di apartemen, atau di villa. Mereka tiap hari tidak pernah tersentuh sinar matahari karena keluar dari rumah mewahnya langsung masuk ke dalam mobil ber-ac, keluar dari mobil langsung masuk gedung mewah ber-ac pula. Alangkah nikmatnya menjadi orang kaya, ingin apa saja pasti bisa. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan hanya menjadi istri kedua, ketiga, atau bahkan hanya jadi seorang simpanan. Nah, lihat itu di berita berjalan ada tulisan yang mengatakan bahwa seorang jenderal kaya raya memiliki selusin rumah mewah tersebar diseluruh Indonesia, dengan tiga orang istri tertangkap KPK. Ternyata menjadi orang kaya itu tidak nikmat ya? Mereka selalu berpikir memutar otak bagaimana membagi waktu untuk menempati rumah-rumahnya, bagaimana membagi waktu dengan istri-istrinya, bagaimana membagi tidurnya dengan pekerjaannya. Aduuh!! koq malah ikut-ikutan mikir to aku ini. Mungkin lebih tentram hidup sederhana di kampung, bersama keluarga sederhana dengan rumah mungil penuh bunga-bunga di taman didampingi oleh suami yang setia, alangkah bahagianya.  Memikirkan apa to aku ini?” batin Marsani menimpali kecamuk pikirannya saat menyaksikan sinetron di televisi.

Marsani kini bukan lagi gadis kecil yang masih suka dolan bersama teman-teman yang lain. Namun kini sudah menginjak dewasa dan sepertinya harus banyak hidup di dalam kamar merawat tubuh dan wajahnya biar tambah cantik. Hal ini terjadi hampir menimpa semua gadis yang menginjak dewasa. Mereka risih apabila wajahnya tidak bersih. Apalagi kini teman-teman Marsani berasal dari berbagai penjuru desa yang ada di kabupaten tersebut, karena sekolah Marsani termasuk SMA favorit. Kini ia semakin banyak teman dengan berbagai karakter yang berbeda-beda. Pada awal masuk dulu, ia termasuk murid yang cepat akrab dengan teman-teman yang lain, baik teman cewek maupun teman cowok. Marsani tidak pernah minder, walaupun ia berasal dari kampung, tetapi orang tuanya termasuk keluarga yang berada dibandingkan dengan warga di kampung tersebut.

BUKAN PERAWAN LAGI

Hari telah berganti minggu, minggu telah berganti bulan, begitulah perjalanan waktu yang kian berputar. Setahun telah dilalui Marsani di sekolah tersebut, walaupun bukan termasuk golongan cewek papan atas tapi ia menjadi pusat perhatian para cowok-cowok di sekolah tersebut. Gaya bicaranya yang supel dan senyumnya yang selalu mengembang, membuat cowok-cowok ingin mendekati.

“Mar, ayo ke kantin yuk!” ajak Neni sambil meraih tangan Marsani.

“Eh, sebentar Nen, aku ke toilet dulu ya. Tunggu sebentar.”

Mereka berdua menuju ke kantin sekolah. Perjalanan mereka ke kantin melewati perpustakaan sekolah. Terlihat dari pintu perpustakaan seorang cowok tampan berdiri di depan petugas perpustakaan. Dilihatnya sebentar cowok tersebut oleh mereka berdua, kemudian berlalu menuju ke kantin.

“Nen, cowok tadi kelas berapa, sih?” selidik Marsini, seolah bertanya pada Neni.

“Itu kan cowok kelas dua,  Mar.”

“Masa sih, cowok kelas dua ada yang tampan seperti itu?”

“Kamu ini tanya atau mau memberi informasi sih?”

“Ya, bertanya to Nen, gitu saja kok sewot to. Jangan-jangan pacarmu ya?”

“Ah, kamu ada-ada saja to Mar, itu kan adik kelas kita masa sih aku pacari. Ya tidak level gitu.”

“Nggak level, nggak level, tahu-tahu nemplok saja, hahaha..”

“Naksir ya?”

“Naksir sih kagak ya, tapi kalau dianya mau, aku ya mau, Nen.”

“Alah…itu ya sama saja Mar.”

Keduanya telah sampai di kantin dan mengambil tempat duduk masing-masing.

“Pesan apa Mar?”

“Soto saja lah Nen.”

“Minumnya apa Mar, kalau aku es jeruk soalnya ini tenggorokanku agak serek.”

“Sama saja Nen.”

“Mar, ngomong-ngomong kamu ini sudah punya pacar belum sih?”

“Pacar sih belum, tapi kalau rasa pernah ada waktu SMP dulu dengan teman se kampung, namanya Gunawan. Itu masa lalu sekarang setelah melihat cowok ganteng-ganteng jadi lupa sama dia, haha.”

“Pengin kenal tidak dengan cowok yang ada di perpustakaan tadi?”

“Wah, banget Nen. Memangnya kamu kenal sama dia?”

“Tidak.”

“Gombal ah.”

Setelah dari kantin mereka langsung menuju ke kelas. Saat di sudut ruang kelas, tiba-tiba Marsani bertabrakan dengan cowok tampan yang ada di perpustakaan tadi. Marsani sampai terjatuh karena cowok tadi berlari kawatir terlambat masuk kelas.

“Ma’af, ma’af ya mbak.”

“Aduh, gimana sih, dik. Kamu kok nabrak-nabrak, ditolongi nih.” Rengek Marsani sambil mengulurkan tangannya agar bisa berdiri lagi.

“Ma’af ya mbak, ini tadi tidak sengaja kok.”

“Tidak apa-apa dik, eh boleh kenalan nggak?”

“Aditya.”

“Marsani, panggil Mar.”

“Oke mbak, makasih ya.”

“Ya, silahkan dik.”

“Cie, cie, yang sudah kenalan sama cowok tampan, terus lupa sama teman.” ejek Neni sambil mencubit lengan Marsani, karena temannya itu hanya diam saja sejak cowok tampan tersebut berlalu.

Perkenalan mereka ternyata berlanjut dikemudian hari. Perjalanan hari-hari bagi Marsani sangat menyenangkan apalagi Aditya telah menyatakan cintanya dengan seribu rayuan yang meluluh lantakkan pertahanan hatinya. Mereka tidak perduli walaupun Aditya adalah adik kelasnya, tetapi mereka merasa nyaman dengan pacaran mereka. Sebulan lagi Marsani akan menghadapi ujian. Ujian yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya bagi Marsani dan teman-teman lainnya. Ujian di kelas tiga sangat menguras tenaga dan pikiran. Sebelum ujian sekolah dimulai sudah ada latihan-latihan ujian, setelah itu ada ujian praktik. Belum selesai capek-capeknya sudah disusul dengan ujian tulis sekolah. Selama sebulan penuh pikiran Marsani tidak sempat memikirkan Aditya. Pikirannya sedang melayang-layang sendiri mencari kunci jawaban soal-soal yang membuatnya pusing. Apalagi kepalanya setiap hari dijejali dengan latihan-latihan soal, belum lagi malam hari harus menyelesaikan tugas rumah yang setumpuk. Cinta di hati itu luntur bersama lunturnya memori di kepala Marsani. Setiap kali menjawab soal dicarinya jawabannya, ternyata begitu sulitnya mencari brankas ilmu pengetahuan di kepalanya.

Sehabis membaca SMS dari Aditya, wajah Marsani semakin kelihatan carut marut tidak karuan. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sakit hati, sakit kepala, dan sakit lainnya. Kepalanya semakin pusing, cenut-cenut terasa menusuk-nusuk syaraf-syaraf yang ada di kepalanya. Selain dibebani dengan harapan akan ujian juga mendapat beban yang sangat berat dari pacarnya.

“Akhir-akhir ini sepertinya aku telah dilupakan, disapa juga tidak, ngabari juga tidak, apa sebenarnya yang kau pikirkan? Apakah sampai di sini saja hubungan kita”. Begitulah SMS yang dikirim Aditya untuk Marsani.

“Adit, percaya padaku kalau aku masih sangat mencintaimu”.

“Ah, mana buktinya!” balas Aditya saat Marsani meyakinkan bahwa dia masih mencintainya.

“Baiklah Dit, jemput aku, kita bicarakan hal ini”. pintanya kepada Aditya, walaupun sebenarnya agak berat juga karena harus mengejar materi belajar untuk ujian. Namun demi meyakinkan kekasihnya Marsani menyempatkan diri untuk membicarakan keraguan Aditya. Beberapa jam kemudian Aditya telah datang di rumahnya. Marsani pun segera muncul dan langsung membonceng di belakang Aditya.

“Kemana kita Mar?”

“Terserah kamu sajalah, kemana aku akan kamu ajak”. Kepasrahan Marsani seakan menandakan betapa dalam cintanya pada Aditya. Mereka melaju di jalanan menuju ke arah barat, sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu. Seakan-akan mereka tengah asik mempermainkan perasaannya masing-masing. Berandai-andai kemana sebenarnya mereka akan berlabuh. Atau bahkan berandai-andai apa yang nanti mereka bicarakan. Beberapa saat berlalu mereka ternya menuju ke sebuah telaga yang sangat nyaman untuk bersantai-santai menikmati pemandangan alam.

Telaga dengan air yang sangat jernih, berwarna biru bening dengan pohon-pohon di sekitarnya membuat tempat tersebut menjadi sejuk dan nyaman. Rumput-rumput pun ikut menikmati segarnya air danau, mereka menari-nari dengan menggoyang-goyangkan badan dan kepalanya. Sepasang angsa putih pun ikut merasakan betapa nikmatnya mereka berdua di tempat seperti itu. Dengan alunan langkah yang perlahan kedua angsa itu pun selalu beriringan berputar ke sana ke mari.

“Lihatlah angsa itu Mar!” pinta Aditya kepada Marsani sambil menunjukkan jarinya ke arah angsa tersebut, “Mereka kelihatan bahagia sekali ya?”

“Kelihatannya seperti itu”. Jawab Marsani sekenanya. Saat itu pula tangan kanan Aditya berlabuh di pundaknya, sambil ditekankan kepelukannya. Marsani merasa nyaman berada dipelukan Aditya, apalagi di depannya danau biru bening menyejukkan hati. Pikiran Aditya pun melayang menembus batas alam nyata.

“Pertama melintas dalam bayang khayalku, wanita sempurna dalam hidupku yang mengisi hari-hariku dalam dunia ini, tergambar jelas dipelupuk mataku wanita anggun nan cantik mengulurkan tangan gapai air kehidupan, dengan lirikan mata yang tajam menusuk  cinta di dalam kalbuku, langkahnya yang menggoda menarik perhatian setiap mata yang memandang, cantik dan menarik hati. Duh,  kekasihku dalam anganku. Aku datang bukan sebagai teman, tetapi aku datang sebagai pelayan yang melayani setiap keinginan hatimu. Wanginya tubuhmu menusuk hidungku, merambat menjalar dalam sel darah merahku. Membangunkan semangat juangku, telah bangun dari tidur panjangku tentang keyakinan diri. Salammu sebelum tidur menghantarkan mimpiku melayang ke nirwana  mengguyur tubuh tergenang madu asmara, di ujung jalan tiada lambaian tangan, apalagi jabat tangan mesra,  hanya tatapan mata sampai kau menghilang. Begitu dalam perasaan cintaku padamu, tidak dapat kuucapkan lewat rangkaian kata-kata, kumintakan ijin kepadamu aku titip benih cintaku dalam kamar hangat di rahimmu, jagalah baik-baik benih cintaku itu kekasihku. Ciumanku di pagi ini mengawali duniamu yang baru. Kicauan burung mendendangkan lagu bangun sayangku, kuciumi seluruh bau tubuhmu tuk memberi semangatmu hari ini. Hari ini aku pelayanmu kekasihku, minta apakah tuan putriku, aku siap mengantarkan diri melayanimu”.

Keduanya telah terbaring berjam-jam ditepian telaga tersebut, mereka saling berpelukan erat seperti tiada akan terlepas. Badan keduanya terasa lemas, terasa perih di ujung pusar buminya. Hanya dedaunan yang dapat dijadikan saksi bahwa mereka berdua telah melewati batas alam nyata menuju alam khayal mereka. Seakan tiada percaya keduanya berpandangan dalam kekecewaan yang mendalam. Suara tangis mulai terdengar perlahan serta sesenggukan dari mulut Marsani. Air matanya pun mulai membasahi pipinya. Suara-suara jengkerik mulai nyaring terdengar seakan menyambut rembulan mengintip diantara daun-daun pepohonan. Saat itu Aditya memeluk erat tubuh Marsani yang mulai bergemuruh bak gunung Merapi yang akan meletus.

Setelah kejadian tersebut Aditya seperti menghilang di telan belantara. Setiap kali ketemu dengan berbagai alasan untuk menghindar. Sedangkan betapa perih hati Marsani yang telah kehilangan jaring emas bertahtakan berlian. Padahal ujian telah di depan mata. Bagaimana Marsani dapat konsentrasi belajarnya, saat ia memikirkan kehilangan jaring emasnya dan Aditya yang selalu menghindar dari dirinya.

JATUH DIPELUKAN SANG DOSEN

Ujian telah dilewatinya dengan susah payah. Ditunggunya seseorang datang untuk menemuinya. Orang yang ditunggu pun belum juga datang. Pesan singkatnya juga tidak pernah dijawab, apalagi apabila dihubungi lewat teleponnya selalu sibuk. Apa yang bisa diharapkan dari Aditya yang hanya menawarkan ketampanan wajah, tetapi tidak berani bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya. Penyesalan bukan jalan keluar, penyesalan hanya akan menumpuk kesedihan di dalam hati. Marsani telah menjadi korban karena ketampanan seseorang. Ternyata wajah yang tampan, tubuh yang gagah hanya selimut dari kekurangan di dalam dirinya.

Begitu juga dengan Marsani, dia tidak akan menyesali dengan apa yang pernah dia lakukan bersama Aditya, walupun sebenarnya hatinya terasa teriris-iris merasa telah dikianati Aditya. Yang dikawatirkan Marsani adalah apabila benih cinta yang ada di rahimnya berkembang menjadi orok yang tidak diinginkan.

Hari itu hatinya merasa sangat senang tatkala tamu rutin yang tidak pernah diundangnya datang juga. Itu menandakan bahwa dia benar-benar stiril dari hal yang sangat dikawatirkannya. Apa yang telah diusahakannya ternyata membuahkan hasil. Setiap hari ia selalu berusaha melakukan olah raga dengan sangat giat. Padahal hal itu sangat jarang dilakukan sebelumnya. Suka citanya pagi itu diwujudkan dengan lari-lari pagi, kebetulan hari itu adalah hari minggu. Sambil menghirup udara pagi yang sangat segar dengan pemandangan alam yang sangat menyenangkan. Pagi itu awan cerah mendung hanya segelintir yang berseliweran di puncak gunung Lawu. Matahari pagi mulai bangun dari tidur malamnya. Sinar kuning keemasan mulai berpencar ke penjuru dunia. Kicauan burung ikut menyambut datangnya pagi itu. Cerianya hari seakan menyambut kebahagiaan Marsani pada saat itu.

Setelah lulus dari SMA, Marsani mendaftarkan diri ke universitas negeri favorit di kota Solo, namun apa dikata apa yang diharapkan tidak terwujud. Kenyataannya ia hanya kuliah di universitas swasta di kota Solo juga. Awal-awal kuliah sungguh menyenangkan bagi Marsani. Perkuliahan dilaluinya dengan senang hati, dilupakannya apa yang dulu pernah menimpanya. Hingga semester tiga, dia belum juga tertarik dengan laki-laki sebagai teman untuk saling berbagi. Hal ini sangat kontras sekali dengan masa-masa kecilnya dulu yang sangat suka sekali bermain dengan teman laki-laki.

Pada saat yudisium ternyata ada nilainya yang belum keluar. Hal ini membuat Marsani harus berhubungan dengan dosennya, Pak Setyo Utomo seorang dosen yang masih muda dan ganteng. Memperhatikan tingkah dosennya yang penuh perhatian Marsani begitu ingin selalu dekat dengannya. Dengan segala alasan yang dicari-cari untuk dapat bertemu dengan Pak Setyo Utomo. Marsani sepertinya sangat tertarik dengan dosen muda yang sudah berkeluarga tersebut. Apa yang diharapkannya pun bersambut, Pak Setyo Utomo sepertinya juga mempunyai rasa yang sama dengan Marsani. Akhir-akhir ini Pak Setyo Utomo sering mengajak Marsani pergi makan berdua, bahkan sering diajak ke tempat-tempat yang romantis. Mereka seakan telah memproklamirkan dengan sembunyi-sembunyi tentang hubungan mereka. Pak Setyo selalu memberikan apa yang diminta Marsani baik yang diminta maupun yang tidak dimintanya. Dosen muda walaupun sudah berkeluarga tapi telah memikat hati Marsani yang menginginkan kehangatan. Kesenangan Marsani menjadi suatu kebiasaan, karena luka oleh perbuatan Aditya yang tidak bertanggung jawab.

“Semua laki-laki adalah pengkhianat”, begitulah pikir Marsani untuk membenarkan apa yang diperbuatnya, “aku harus dapat membuatnya bertekuk lutut padaku. Siapapun dia, aku tidak perduli karena harga diriku, keyakinanku, kepercayaanku, kesempurnaanku, masa depanku semua telah dirampas laki-laki.”

Penampilan Marsani kini kelihatan semakin menarik. Dengan berbagai fasilitas yang diberikan oleh Pak Setyo membuat teman-temannya iri padanya. Bayangkan awalnya Marsani hanyalah gadis biasa-biasa, dengan penampilan yang biasa, dengan wajah yang biasa, dengan kemampuan otak yang biasa, dengan pakaian yang biasa, dengan aksesoris yang biasa. Kini penampilannya berubah 180 derajat dari semula. Pakaiannya yang digunakan kini termasuk pakaian bermerk dan wajahnya kini sering difacial di salon. Pokoknya sekarang Marsani menjadi cewek yang luar biasa, menjadi point of interestnya para cowok di kampus.

“Mar, habis kuliah nanti ikut aku ya?” ajak Pak Setyo Utomo pada Marsani waktu berpapasan di lobi kampus.

“Baiklah, aku tunggu ya, tapi aku nanti kuliah sampai jam 13.00 lo!”

“Tidak masalah, Mar”.

Tiba waktunya Pak Setyo menjemput Marsani yang sudah menunggu di depan ruang kuliah. Dipersilahkan Marsani masuk ke dalam mobil jazz warna merah. Dibawanya Marsani menuju ke sebuah penginapan yang jauh dari kampus, kira-kira dari kampus 40 kilometer ke arah timur.

“Lho, apakah sudah ijin sama ibu, Pak?”

“Tenang saja Mar, semua sudah aku atur, kamu tidak perlu kawatir. Kita nanti menginap selama dua hari”.

“Kuliah saya gimana, Pak?”

“Mudah itu, soal nilai nanti aku yang minta sama dosen-dosen yang lain”.

“Trimakasih, sayang”. Marsani sambil memeluk dan mencium Pak Setyo di dalam mobil yang melaju ke arah timur menuju penginapan.

Dunia ini sungguh menyenangkan, alam yang sejuk membawa kehangatan di hati, karena ada bidadari membawanya melayang. Berlarian di malam dan siang hari diantara kabut yang menyelimuti kaki gunung Lawu. Noda-noda di hati terasa tetesan embun di malam hari. Kicauan burung seakan ikut menemani. Ringkikan kuda seakan membawanya ikut berlari. Memacu birahi di arena lautan cinta. Pengalaman berdua menghasilkan madu cinta yang mengalir bagaikan larva gunung berapi. Rembulan telah dua kali mengintip diantara jeruji jendela kamarnya. Suara desah nafas terengah semakin hilang bersama tetesan gerimis di malam menjelang pagi. Pelukan erat seakan tidak mau terlepaskan. Perbuatan yang didasari nafsu birahi, tanpa ikatan atau janji. Kepercayaan yang mereka bangun untuk merekatkan hati mereka. Marsani sadar kalau Pak Setyo telah berkeluarga. Begitu juga dengan Pak Setyo juga menyadari bahwa dia tidak mungkin menikahi Marsani, karena dia telah berkeluarga bahkan telah memiliki  2 anak, laki-laki dan perempuan.

Cinta mereka telah membenamkan segala tanggung jawab. Marsani sebagai mahasiswa telah melalaikan kuliahnya, Pak Setyo sebagai dosen telah melalaikan  tugas mengajarnya. Akhir-akhir ini Pak Setyo sering pergi ke luar kota dengan berbagai alasan mendapat tugas dari kampus. Padahal semua itu hanya tipu daya Pak Setyo agar dapat berduaan dengan Marsani. Cinta telah membutakan keduanya, umur bukan lagi halangan bagi mereka. Seakan dunia ini akan dapat dikuasainya, dapat disuap agar tidak bicara dengan orang lain. Padahal kekuatan keduanya tidaklah sebanding dengan kejujuran alam.

Hari-hari dilalui dalam menjalani hidup dengan penuh bintang-bintang. Kecerian selalu tergambar di wajahnya, walaupun terkadang kerikil kecil menusuk telapak kakinya, namun semua itu tiada arti. Apalagi kini Marsani telah dibelikan rumah mungil di perumahan yang tidak jauh dari kampus mereka. Mereka berdua dapat menikmati indahnya hidup berdua setiap hari. Orang tua Marsani merasakan ada sesuatu perubahan dalam diri Marsani. Dia kini jarang pulang, dan jarang pula meminta uang saku. Sampai kini orangtuanya belum tahu bahwa Marsani telah keluar dari jalur kehidupan yang lurus. Ibaratnya kereta api yang telah lepas dari relnya, begitulah kehidupan Marsani akhir-akhir ini.

TERLANTAR

Pak Setyo Utomo datang ke rumah Marsani pagi-pagi sekali saat dia sedang mandi. Dibukakan pintu rumahnya saat Marsani hanya berlilitkan handuk. Tubuhnya yang putih mulus membuat Pak Setyo tidak dapat menahan gelora cinta yang ada di dadanya. Di peluknya Marsani erat-erat sambil dibimbingnya ke kamar tidur. Pergumulan batin dan pergumulan badan tiada terelakkan lagi. Angin berembus sepoi-sepoi menyapu wajah mereka yang penuh dengan keringat. Lama-kelamaan angin pun berembus semakin kencang menggugurkan daun-daunan di lantai kamar.  Cemara pun menjulang menembus awan, air danau mendidih bergejolak menghangatkan pagi yang masih dingin. Saat keduanya terkulai tiada berdaya setelah berlari mengejar hasrat insan yang sedang kehausan bagaikan melihat sumber mata air di tengah padang pasir.

“Mas, pagi ini aku ada pendadaran skripsi, lo!”, ucap Marsani sambil duduk di tepi ranjang.

“Lho, koq tidak bilang-bilang, tadi kalau bilang pagi ini ada pendadaran skripsi pasti aku tidak mengganggumu.”

“Ya, masih nanti jam 9 kok, Mas,” jawab Marsani sambil mengajak Pak Setyo ke kamar mandi untuk mandi bersama.

Pagi itu Marsani mempersiapkan segala keperluan yang akan digunakan untuk pendadaran skripsinya. Persiapan segala hal, baik skripsi yang akan diujikan, LCD, maupun tempat dan snack untuk penguji. Pak Setyo memang sengaja untuk tidak menjadi pembimbingnya. Namun dia bermain di belakang layar untuk membantu Marsani dalam menyelesaikan skripsinya. Pendadaran pagi itu berjalan lancar, Marsani dapat berhasil menyelesaikan pendadaran dengan nilai memuaskan. Nilai yang cukup untuk syarat mengikuti wisuda.

Betapa bahagia hati Marsani setelah menyelesaikan kuliahnya. Pak Setyo juga sering berada di rumahnya. Beberapa bulan kemudian kebahagiaan Marsani berubah menjadi kesedihan. Kesedihannya dipengaruhi karena mendengar kabar bahwa Pak Setyo mengalami kecelakaan dan dalam keadaan kritis. Mobil yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah truk tronton yang melaju dari arah Jogya menuju terminal Solo. Pagi itu Marsani masih sempat SMS dengan Pak Setyo, saat itu dia sedang mandi. HP yang ada di meja diambil istrinya dan dibaca isinya. Betapa terkejutnya istri Pak Setyo membaca SMS yang isinya mesra sekali. Kemudian dicari-cari lagi file-file SMS yang lain serta membuka-buka dokumen foto yang ada di HP tersebut. Betapa terkejutnya istri Pak Setyo waktu itu, suami yang selama ini dipercaya menjadi suami yang baik bagi anak-anaknya ternyata mempunyai istri simpanan. Setelah selesai mandi dan mempersiapkan diri berangkat, istrinya menanyakan posisi seseorang dengan dirinya. Jawaban yang diterima dari Pak Setyo berupa bentakan-bentakan kepada istrinya. Terdengarlah keributan di rumah yang biasanya sepi dan nyaman tersebut. Dengan perasaan marah Pak Setyo berangkat menuju kampus dan akhirnya terjadilah tabrakan yang tidak  dapat dihindarkan lagi. Kecelakaan tersebut membuat koma selama dua hari di rumah sakit yang akhirnya, Pak Setyo menghembuskan nafas yang terakhirnya.

Kesedihan berlanjut menyelimuti kabut hatinya, yang kian hari kian dalam. Puncak kesepian telah merobek jiwa bagi Marsani yang sendirian dalam hari-hari yang sepi. Kesediahan Marsani memuncak tatkala harus meninggalkan rumah yang ditempatinya. Ternyata rumah yang ditempatinya bukan rumah yang dibeli oleh Pak Setyo tetapi hanya rumah kontrakan, dan sekarang masa kontraknya telah habis. Kini Marsani  pulang ke Kedung Dalem tepatnya ke rumah orang tuanya.

TERGADAIKAN

Orang tua Marsani kini telah dililit banyak hutang, selain untuk menyekolahkan anaknya juga untuk makan sehari-hari. Barang-barang di rumahnya sudah habis bersih diambil oleh Pak Gunarso. Kondisi orang tuanya sudah semakin rapuh dan sakit-sakitan. Apalagi pikirannya semakin tertekan dengan masih banyaknya hutang kepada Pak Gunarso yang belum terbayarkan.

“Mar, ma’afkan orang tuamu ini yang tidak dapat memberi apa-apa, aku dan ibumu tidak bisa memberimu sesuatu yang berharga dan mungkin kamu malu melihat kondisi orang tuamu seperti ini. Apalagi sekarang aku dan ibumu sering sakit-sakitan. Mar, aku harap kamu tidak malu dengan kondisi orang tuamu yang seperti ini. Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui bahwa orang tuamu ini masih memiliki hutang yang sangat banyak. Hutang-hutang tersebut tiap bulan tidak berkurang tetapi malah bertambah. Sebagian sawah kita juga sudah habis terjual untuk membiayai kehidupan kita sehari-hari dan untuk membayar hutang. Mar, sebentar lagi rumah dan tanah ini juga akan disita oleh Pak Gunarso untuk membayar hutang-hutang orang tuamu ini. Ketahuilah Mar, kemarin Pak Gunarso datang kemari menawarkan solusi pembayaran hutangnya. Mar, ma’afkan orang tuamu ini ya? Kemarin Pak Gunarso menawarkan hutang lunas apabila kamu mau menjadi istri ke-duanya. Namun apabila kamu tidak mau, maka hutang-hutangnya harus dilunasi atau rumah dan pekarangannya akan disita”.

“Bapak dan Ibu, Marsani ikut keputusan yang terbaik buat keluarga ini saja. Seandainya Marsani harus menikah dengan Pak Gunarso itu jalan yang terbaik, maka aku juga mau. Namun apabila ada jalan lain yang dapat menutup hutang-hutang Bapak dan Ibu, ya tentu saja saya tidak perlu menjadi istri kedua Pak Gunarso kan Pak?”.

Begitulah akhirnya jalan keluarnya adalah Marsani menjadi istri kedua Pak Gunarso. Hanya selang beberapa hari saja perangai Pak Gunarso yang sesungguhnya kelihatan. Ia menjadi orang yang tega  dengan sesama begitu pula dengan istrinya. Selain hatinya keras ternyata Pak Gunarso juga suka memukuli Marsani. Apa yang dilakukan Pak Gunarso dengan berbagai alasan macam-macam dari tidak dapat memuaskan keinginannya sampai menuduh Marsani sudah tidak perawan lagi. Padahal jelas Pak Gunarso tahu kalau Marsani adalah janda muda dan cantik, mengapa dia masih menuntut kesucian keperawanan? Melihat kelakuan menantunya yang suka memukul dan membentak-bentak anaknya, kedua orang tua Marsani menjadi drop kondisi kesehatan tubuhnya. Tidak lama berselang bapaknya meninggal dunia. setelah bapaknya meninggal dunia, sebulan kemudian ibunya menyusul menghadap kehadirat ilahi.

Hari-hari penuh siksaan yang membuat Marsani menjadi sedih, menyesal, dan ingin mengulangi hidup di masa mudanya kembali. Ternyata wajah yang cantik dan sekolah yang tinggi tidak menjamin masa depannya menjadi lebih baik. Masa depan terletak dari keinginan kita, semangat kita di dalam meraihnya. Apa yang telah terjadi tidak akan pernah dapat dihapus kembali. Waktu telah berputar semakin menggilas umur kita. Detik demi detik terus berputar seiring Marsani yang membayangkan kebahagiaan hidupnya.

(Cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, alamat, dan ceritanya itu hanyalah kebetulan saja)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.