Permainan Bentengan

Ditulis oleh : M. Wisnu Jadmika, S.Pd.

Permainan bentengan merupakan salah satu permainan anak-anak. Permainan ini sekarang sudah tidak lagi menjadi permainan bagi anak-anak karena telah tergeser oleh permainan modern. Permainan bentengan ini sebenarnya merupakan salah satu latihan strategi mempertahankan NKRI dari serangan musuh.

Permainan bentengan terdiri dari 2 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4-6 pemain.

Atau boleh juga dilakukan meyesuaikan jumlah anak yang ada, serta tempat yang digunakan. Permainan bentengan dilakukan dengan menjaga benteng yang diwujudkan berbentuk tonggak tiang kayu atau bambu, dapat juga menggunakan pohon hidup. Tonggak tersebut dijadikan sebagai basecamp masing-masing kelompok.

Peraturan pertandingan :

permainan bentengan

permainan bentengan

Pemain bentengan yang keluar dari basecamp dianggap menyerbu terlebih dahulu. Pemain ini apabila dikejar oleh musuh dan tersentuh oleh tangan musuh dianggap tertangkap. Pemain yang tertangkap di tempatkan tawanan (tempat yang sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai, biasanya 2 meter sebelah kanan atau kiri dari basecamp).

Pemain musuh mengejar penyerang

Pemain musuh mengejar penyerang

Pemain ini dapat kembali mempertahankan bentengnya apabila telah diselamatkan temannya, dengan cara menyentuh tangan atau bagian tubuhnya. Kelompok pemain dinyatakan mendapatkan nilai apabila dapat menyentuh basecamp musuh. Berakhirnya pertandingan ditentukan oleh kesepakatan para pemain. Kelompok yang kalah akan mendapatkan hukuman, yaitu menggendong kelompok yang menang dari benteng yang satu ke benteng lainnya, jumlah gendongan tergantung kesepakatan.

Pemain yang ditawan berada di tempat tawanan

Pemain yang ditawan berada di tempat tawanan

Seorang pemain mendapatkan nilai dengan menyentuh basecamp musuh

Seorang pemain mendapatkan nilai dengan menyentuh basecamp musuh

Permainan Tradisional Anak

Ditulis oleh : M. Wisnu Jadmika, S.Pd.

Permainan tradisional untuk anak-anak di sekitar kita sudah mulai punah. Sebagian besar permainan tradisional memiliki fungsi mendidik karakter masyarakat yang sangat baik seperti untuk olah raga, kerjasama, jujur, menghargai orang lain, dan mengakui kekalahannya dan kemenangan orang lain.

Permainan tradisional tersebut seperti gobak slodor, bentengan, bentik, bekel,  lompat tali, ganepo,  dan masih banyak lagi.  Permainan-permainan tersebut secara tidak langsung memberikan pembelajaran buat anak-anak bangsa tentang pentingnya kesehatan dan kekuatan tubuh, suka bekerja sama, jujur, suka menghargai orang lain, dan sudi mengakui keunggulan orang lain.

BENTIK

Permainan bentik ini terdapat di daerah Jawa dan Yogyakarta. Permainan ini menggunakan property berupa dua tongkat kecil yang ukurannya 1 : 3. Dalam permainan ini bagi kelompok yang kalah harus menggendong kelompok yang menang. Permainan bentik ini sering juga disebut gatrik atau patil lele atau tak kadal. Permainan ini pada dasarnya menitik beratkan pada keterampilan memukul anak bentik sejauh-jauhnya dan keterampilan menangkap anak bentik serta ketepatan melempar anak bentik ke arah lobang.

Properti yang digunakan untuk permainan bentik

Properti yang digunakan untuk permainan bentik

Permainan bentik terdiri dari 2 kelompok. Satu kelompok bermain, dan satu kelompok lainnya berjaga-jaga. Masing-masing kelompok terdiri dari 2 – 4 anak. Peralatan yang digunakan dua batang kayu, yang pendek disebut janak/anakan/anak bentik, sedangkan yang panjang disebut mbok-mbokan (tongkat pemukul) panjangnya 3x panjang janak. Serta lobang pengungkit, lobang ini dapat dibuat dengan menata dua buah batu, atau membuat lobang pada tanah. Permainan bentik tersebut sebagai berikut :

1.      Bagian I (Nyutat)

Kelompok I bermain, kelompok ini yang memegang stik bentik. Janak diletakkan melintang pada lobang tanah, kemudian tongkat pencukil dimasukkan ke lobang dan dicukilkan sekuat tenaga (nyutat). Janak terbang jauh ke daerah  kelompok II, apabila janak dapat ditangkap maka pemain tersebut sudah tidak boleh bermain lagi (mati). Tetapi apabila janak tidak tertangkap, maka pemain pada kelompok II berusaha mengembalikan anak bentik (janak) mengenai pemukul bentik (mbok-mbokan) yang melintang di atas lobang. Apabila janak dapat mengenai pemukul maka pemain tersebut tidak dapat melanjutkan permainan berikutnya (mati). Dilanjutkan pemain berikutnya yang dimulai dari awal. Namun apabila janak tidak mengenai pemukul yang melintang, maka dilanjutkan ke permainan berikutnya.

Pemain sedang melakukan "nyutat"

Pemain sedang melakukan “nyutat”

Pemain penjaga berusaha menangkap "janak"

Pemain penjaga berusaha menangkap “janak”

Pemain penjaga mengembalikan janak ke arah lobang

Pemain penjaga mengembalikan janak ke arah lobang

2.      Bagian II (Ngantil)

Permainan pada bagian kedua ini merupakan kelanjutan pada bagian pertama, yang disebut ngantil. Anak bentik (janak) ditaruh di atas tongkat pemukul. Janak dilepas ke atas minimal dua kali tik-tak, kemudian dipukul sekuat tenaga (ngantil). Apabila anak bentik terlepas sebelum dua kali tik-tak maka permainan dinyatakan mati. Kelompok II berusaha untuk menangkap anak bentik yang melayang, apabila tertangkap permainan dinyatakan mati. Tetapi apabila tidak tertangkap pemain kelompok II ini harus berusaha mengembalikan anak bentik tepat ke dalam lobang, agar pemain kelompok I tersebut tidak dapat melanjutkan permainan, tetapi apabila anak bentik masih jauh dari lobang maka jarak antara anak bentik dan lobang dihitung dengan menggunakan tongkat pemukul atau anak bentik tergantung tik-taknya. Apabila tik-taknya hanya 2X maka menggunakan tongkat pemukul (mbok-mbokannya), tetapi apabila 3X atau lebih mengukurnya menggunakan anak bentik (janak). Jumlahnya harus diingat-ingat sendiri oleh pemain tersebut (jujur).

Posisi pemain akan melakukan "ngantil"

Posisi pemain akan melakukan “ngantil”

3.      Bagian III (Tik-Tok)

Permainan selanjutnya adalah menaruh janak di dalam lobang dengan posisi searah lobang. Ujung janak sebagian ditaruh di bibir lobang. Janak yang nongol ke luar lobang dipukul agar melayang ke atas kemudian langsung dipukul atau dipukul beberapa kali dulu baru dipukul sekuat-kuatnya. Kelompok II sebagai penjaga berusaha menangkap janak yang melayang, apabila tidak tertangkap maka penjaga harus menggendong pemain tersebut dari jatuhnya janak sampai ke tempat lobang bentik sebagai bonus kemenangan.

Pemain melakukan "tik-tok"

Pemain melakukan “tik-tok”

Setelah kelompok I semua telah bermain, sekarang giliran kelompok II yang bermain.

4.      Bagian IV (Gendongan)

Bagian terakhir dari permainan ini adalah gendongan, yaitu apabila jumlah nilai kelompok I lebih banyak dari kelompok II, maka para pemain kelompok I digendong oleh para pemain kelompok II. Begitu sebaliknya apabila jumlah nilai total kelompok II lebih banyak dari kelompok I, maka para pemain kelompok I harus menggendong para pemain dari kelompok  II dengan jarak yang sudah disepakati oleh masing-masing kelompok.

Selamat mencoba permainan yang menarik ini, tapi hati-hati anak-anak di bawah 10 tahun dilarang melakukannya. Berbahaya.

Dengan bermain bentik ini diharapkan dapat melestarikan salah satu kebudayaan asli Indonesia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.