JADWAL KEGIATAN KELAS 12 SMAN 1 BAYAT

Jadwal Kegiatan SMAN 1 Bayat Kelas 12

Tahun Pelajaran 2015/2016

kaldik2

Jadwal TO1 dan TO2

Tahun Pelajaran 2015/2016

TO

 

Jadwal Ujian Praktik  Tahun Pelajaran 2015/2016

praktik

Jadwal Ujian Sekolah dan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016

deusek-un

Jadwal kegiatan untuk kelas 12 di SMAN 1 Bayat ini mudah-mudahan bermanfaat sebagai acuan untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

PESERTA UJIAN

Peserta Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016 di SMAN 1 Bayat berjumlah 87 siswa terdiri dari 44 siswa program IPA dan 43 siswa program IPS. Program IPA terdiri dari 14 siswa putra dan 30 siswa putri, sedangkan program IPS terdiri dari 28 siswa putri dan 15 siswa putra.

untujumlah-pesertaUN

Untuk program IPA terdiri dari 3 ruang Ujian, dan program IPS juga terdiri dari 3 ruang Ujian.

Peserta Ujian Nasional SMAN 1 Bayat tahun pelajaran 2015/2016 Program IPA

pesertaIPA

 

Peserta Ujian Nasional SMAN 1 Bayat tahun pelajaran 2015/2016 Program IPS

pesertaIPS

 

 

 

 

Jadwal UAS Ganjil Kelas XII Tahun 2015/2016

SMAN 1 Bayat

SMA NEGERI 1 BAYAT

Jadwal Ulangan Akhir Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016

Kelas XII SMA Negeri 1 Bayat

HARI/TANGGAL JAM WAKTU IPA IPS
Kamis, 26 November 2015 I 07.00 – 09.00 Bhs. Indonesia Bhs. Indonesia
II 09.30 – 11.30 Biologi Geografi (90′)
III 12.00 – 13.30 Seni Rupa Seni Rupa
Jumat, 27 November 2015 I 07.00 – 09.00 Matematika Matematika
II 09.30 – 11.30 Kimia Sosiologi (90′)
Senin, 30 November 2015 I 07.00 – 09.00 Fisika Ekonomi
II 09.30 – 11.00 PKN PKN
III 11.30 – 13.00 Pend. Agama Pend. Agama
Selasa, 01 Desember 2015 I 07.00 – 09.00 Bhs. Inggris Bhs. Inggris
II 09.30 – 11.00 Sejarah Sejarah
III 11.30 – 13.00 Bhs. Jawa Bhs. Jawa
Rabu, 02 Desember 2015 I 07.00 – 08.30 Penjaskes Penjaskes
II 09.00 – 10.30 TIK TIK
III 11.00 – 12.30 Bhs. Jerman Bhs. Jerman

Jadwal UAS Ganjil Kelas XI Tahun 2015/2016

SMAN 1 Bayat

SMA NEGERI 1 BAYAT

Jadwal Ulangan Akhir Semester Ganjil Kelas XI Tahun Pelajaran 2015/2016

SMA NEGERI 1 BAYAT

HARI/TANGGAL JAM WAKTU IPA IPS
Kamis, 26 November 2015 I 07.00 – 09.00 Bhs. Indonesia Bhs. Indonesia
II 09.30 – 11.30 Biologi Geografi (90′)
III 12.00 – 13.30 Seni Rupa Seni Rupa
Jumat, 27 November 2015 I 07.00 – 09.00 Matematika Matematika
II 09.30 – 11.30 Kimia Sosiologi (90′)
Senin, 30 November 2015 I 07.00 – 09.00 Bhs. Inggris Bhs. Inggris
II 09.30 – 11.00 PKN PKN
III 11.30 – 13.00 Pend. Agama Pend. Agama
Selasa, 01 Desember 2015 I 07.00 – 09.00 Fisika Ekonomi
II 09.30 – 11.00 Sejarah Sejarah
III 11.30 – 13.00 Bhs. Jawa Bhs. Jawa
Rabu, 02 Desember 2015 I 07.00 – 08.30 Penjaskes Penjaskes
II 09.00 – 10.30 TIK TIK
III 11.00 – 12.30 Bhs. Jerman Bhs. Jerman

Jadwal UAS Ganjil Kelas 10 Tahun 2015/2016

SMAN 1 Bayat

SMA NEGERI 1 BAYAT

JADWAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GANJIL

SMA NEGERI 1 BAYAT

TAHUN PELAJARAN 2015/2016

KELAS X

Kamis, 26 November 2015 I 07.00 – 09.00 Bhs. Indonesia
II 09.30 – 11.30 Bhs. Inggris
III 12.00 – 13.30 Sejarah
Jumat, 27 November 2015 I 07.00 – 09.00 Matematika
II 09.30 – 11.30 Biologi
III 12.00 – 13.30
Senin, 30 November 2015 I 07.00 – 09.00 Fisika
II 09.30 – 11.00 PKn
III 11.30 – 13.00 Pend. Agama
Selasa, 01 Desember 2015 I 07.00 – 09.00 Kimia
II 09.30 – 11.30 Ekonomi
III 12.00 – 13.30 Bhs. Jawa
Rabu, 02 Desember 2015 I 07.00 – 09.00 Geografi
II 09.30 – 11.00 TIK
III 11.30 – 13.300 Keterampilan
Kamis, 03 Desember 2015 I 07.00 – 08.30 Sosiologi
II 09.00 – 10.30 Penjaskes
III 11.00 – 12.30 Seni Rupa

PETUALANGAN MARSANI

Karya : M. Wisnu Jadmika, S.Pd.

sampul

 

”Tatapan matamu tajam menusuk kalbu

tergores di bilik hatiku

luka menganga takkan pernah hilang

saat jemarimu menari di pipiku

gelora hati bagai bara api

membakar jemari dan wajahmu

yang tertunduk malu

saat waktu tak bersahabat padaku

saat gelora dihatimu seperti amuk Rr. Jonggrang

pada Bandung Bandawasa

saat terpaku di bawah pohon jambu”.

 

***

Cerita ini merupakan cerita perjalanan cinta dari seorang gadis yang salah dalam menentukan jalan hidupnya. Gadis ini hanya menuruti keinginan hati yang membawanya ke petualangan kisah cinta yang berakhir menyedihkan. Mengikuti kehendak hati tanpa menggunakan logika akan membawanya dalam perjalanan hidup yang penuh liku. Ternyata cinta itu dapat membuat bahagia bukan karena keelokan wajah kecantikan atau ketampanan, kekayaan yang melimpah, atau pendidikan yang tinggi. Cinta dapat membawa kebahagiaan apabila di dalam hati tumbuh rasa suka sama suka dan didasari rasa saling percaya dan menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing. Cerita petualangan Marsani ini terdiri dari beberapa cerita yang berbeda dengan mengambil tokoh yang sama. Dengan membaca cerita ini diharapkan pembaca dapat terhibur dan mengambil manfaatnya.

Cerita ini dapat dibaca di cerpenku www.wisnujadmika.wordpress.com

***

Kabut pagi masih menyelimuti kampung Kedung Dalem, matahari masih malu-malu untuk bangun di pagi hari. Awan hitam berjejer di ufuk timur, menyelimuti puncak gunung Lawu.  Ayam jantan sudah sejak tadi berkokok bersahut-sahutan. Pertanda pagi telah datang, malam telah meninggalkan jejaknya. Bintang-bintang mulai menghilang di balik luasnya alam raya. Diantara awan hitam yang sudah mulai memudar, sinar merah jingga menerobos disela-selanya. Bagaikan pedang berkilauan menebas dan memporak-porandakan awan hitam hingga tinggal kepingan berserakan. Matahari mulai menampakkan wajahnya, dengan sinar merah keemasan menerobos ke penjuru dunia. Pohon-pohon mulai kelihatan hijau daunnya, kuning padi di sawah mulai kelihatan. Angin pagi sepoi-sepoi menghantarkan dinginnya pagi untuk pergi. Burung-burung mulai bersahut-sahutan menyambut datangnya matahari.

Kaki-kaki tua berjalan tertatih bersandarkan tongkat kayu seadanya menuju ke pohon besar tempat sumber air. Sumber air yang mengalir dari pohon tersebut digunakan oleh  masyarakat kampung Kedung Dalem untuk keperluan memasak. Begitu pula dengan Mbah Sani, mengambil air di sumber mata air untuk memasak. Lumayan susah untuk mendapatkan seember air bersih, harus berjalan tertatih berdesakan dengan warga lainnya. Begitulah kehidupan Mbah Sani yang sendirian di rumahnya di pojok kampung. Untuk mendapatkan makan hari itu saja harus bekerja keras mendapatkan upah dari membantu tetangganya.

“Aduuh….badanku koq terasa capek banget ya?” batin Mbah Sani saat membawa seember air yang diambilnya tadi. Mbah Sani merasakan badannya agak kurang sehat.

Sesampai di rumahnya, Mbah Sani duduk bersandarkan dinding  rumahnya. Tangan berkeriput tersebut perlahan menyelusuri kaki-kaki tuanya. Sambil dipijit-pijitkan untuk menghilangkan rasa capek yang ia rasakan. Semakin lama badannya merasa berat untuk bangun. Rasa capeknya juga belum juga hilang, malah kini semakin menggerayang ke seluruh tubuhnya.

“Kalau terus-terusan begini aku tidak dapat kemana-mana, lebih baik ke dokter saja”, perasaan Mbah Sani semakin tidak menentu tatkala membuka dompet lusuh satu-satunya.

“Uang sudah tidak punya lagi, terus nanti membayar dokter menggunakan apa? Menghutang jelas tidak boleh, menjual pisang belum tua”. Ia terdiam sejenak sambil bersandarkan dinding rumahnya yang mulai dimakan rayap tersebut.

Akhirnya ia memberanikan diri ke dokter Ambar, satu-satunya dokter di kampung tersebut yang buka praktik. Dengan langkah tertatih-tatih menyelusuri jalan kampung menuju rumah dokter Ambar. Dokter yang buka praktik pagi dan sore hari itu adalah merupakan dokter desa yang menjadi kepala Puskesmas terdekat. Kebetulan sore itu tempat praktik dokter Ambar masih sepi, baru Mbah Sani satu-satunya pasien yang datang ke tempat tersebut.

“Selamat sore Bu Dokter” sapa Mbah Sani sambil terbata menahan sakit.

“Selamat sore Mbah, silahkan masuk”, jawab dokter Ambar sambil mempersilahkan Mbah Sani duduk, “Kenapa Mbah?” lanjut dokter Ambar setelah mengeluarkan data-data pasien yang ia miliki.

“Ini lho nak dokter, badan saya terasa tulang-tulangnya akan copot dan badanku terasa pegal-pegal semua.”

“Mbah, itu tandanya badan Mbah Sani sedang kecapaian, atau tadi pagi habis makan apa Mbah?”

“Makannya sih biasa saja, sayur-sayuran di kebun rumah”, jawab Mbah Sani.

“Coba Mbah berbaring sebentar, aku periksa dulu”

Demikianlah Mbah Sani diperiksa oleh dokter Ambar. Setelah diperiksa tekanan darahnya, dan detak jantungnya, kemudian Mbah Sani diminta untuk bangun. Sambil menekan-nekan bagian-bagian tertentu dari badan Mbah Sani, kemudian dokter Ambar mengambilkan obat-obatan yang ada di rak almari. Obat-obatan yang ada di rak almari tersebut terdiri dari berbagai macam botol, sebagian besar terdiri dari botol yang berwarna putih. Tangan dokter Ambar dengan cekatan memilih beberapa botol kemudian mengeluarkan isinya. Ada 4 jenis obat yang diberikan Mbah Sani, sebagian besar berwarna putih hanya satu tablet yang berwarna kuning.

“Mbah, kenapa ke sini sendirian, tidak ada yang mengantar?”

“Aku ini hanya tinggal sendirian koq, nak.”

“Ma’af ya saya tidak tahu, lha anak-anaknya pada kemana to Mbah?” tanya dokter Ambar penuh selidik. Sebentar-sebentar memperhatikan wajah Mbah Sani yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dokter Ambar, sepertinya ada beban berat yang menyelimuti wajahnya.

“Nak dokter, anak saya sudah pergi bersama bapaknya dan tidak pernah lagi menengok saya.”

“Lha, kemana suaminya, Mbah?” tanya bu dokter Ambar, sambil mencarikan obat yang tepat untuk penyakitnya Mbah Sani.

“Ceritanya panjang, apa nak dokter mau mendengarkan ceritanya?”

“Iya, tidak apa-apa Mbah. Kalau memang cerita tersebut dapat meringankan beban Mbah Sani, kebetulan juga belum ada pasien lagi yang datang.”

“Ceritanya begini, Nak ….”, sambil menghela nafas panjang Mbah Sani memulai ceritanya.

DI BAWAH POHON BOUGENVILLE UNGU

Marsani merupakan gadis cantik yang ceria, wajahnya berseri-seri menatap masa depan. Tergambar dari keceriaan wajahnya akan masa depannya yang gemilang. Orang-orang kampung akan selalu memuji akan kecantikannya, walaupun tubuhnya kurang tinggi sedikit. Sejak remaja Marsani terkenal sangat dekat dengan para lelaki. Teman-temannya lebih banyak laki-lakinya dari pada perempuan. Dia lebih suka bergaul dan bercanda dengan teman laki-laki. Punya teman laki-laki dianggapnya lebih berarti daripada teman perempuan. Seperti tidak ada batasan antara Marsani dengan teman-temannya. Mereka kadang bergandengan tangan, dirangkulnya pundaknya dan apabila berboncengan sepeda motor seperti sepasang suami istri.

Bunga desa yang semakin hari semakin berkembang, harumnya menyeruak diantara rerimbunnya laki-laki bujangan. Tatkala banyak laki-laki lain yang datang dari luar desanya untuk menyatakan cinta selalu kandas terhantam perasaan dingin yang tidak meresponnya. Marsani juga manusia yang menggeliat tatkala nafsu melumuri jiwanya yang masih labil. Disaat-saat bercanda dan berkumpul-kumpul dengan teman-temannya, salah satu teman cowoknya terjatuh saat akan meraih bunga bougenville ungu di atasnya. Badannya melayang menimpa Marsani yang sedang duduk di bawahnya.

“Auuuwwhh……..”, jerit Marsani saat tertimpa tubuh Gunawan dengan posisi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Tubuh Gunawan menimpa kaki-kaki Marsani dan tubuhnya berada di atas perut Marsani. Sedangkan tangan kanan Gunawan yang tadi akan meraih bunga Bougenville ungu tepat berada di dada sebelah kiri Marsani. Keterkejutan Gunawan dan Marsani membuat mereka berdua bagaikan patung yang menggambarkan dewa-dewi kesuburan. Angan mereka berdua sedang merenda awan-awan di angkasa untuk merangkai titik-titik air hujan. Tangan Gunawan merasakan bahwa yang dipetik sekarang ini bukan lagi bunga bougenville tetapi bunga desa. Sangat terasa getaran dari kedua tubuh manusia itu berpacu melawan dahsyatnya gelora jantung mereka yang berdetak sangat kencang.

“Ma’af…ma’af, aku tidak sengaja,” begitu pinta Gunawan kepada Marsani yang masih terlentang di antara rerumputan di bawah bunga bougenville ungu. Itulah kenangan terindah yang mereka berdua rasakan saat berada di bawah bunga bougenville ungu.

“Rasanya ingin mengulanginya lagi,” pikir Gunawan sambil menatap Marsani yang mulai duduk kembali. Teman-teman yang lain sepertinya tidak memanfaatkan momen sekejap yang monumental tersebut.  Mereka asyik dengan canda tawa mereka, sehingga saat ada kejadian yang begitu mempesona tiada terabadikan.

Keduanya duduk terdiam, walaupun mereka duduk saling berdekatan, mata mereka sama-sama menatap teman-temannya yang sedang bermain. Obsesi dalam pikiran mereka membawa angan keduanya menuju angkasa. Seolah mereka sedang bergandengan di antara awan-awan membuat mereka semakin diam membisu. Terkadang wajah mereka dihiasi dengan senyum tipis, seolah-olah mentertawakan teman-temannya yang lain, padahal senyum mereka adalah senyum kebahagian di awan-awan. Marsani juga membayangkan suatu kebahagiaan yang dibangun bersama Gunawan, begitu pula dengan Gunawan membayangkan kebahagiaan seandainya Marsani jadi kekasih hatinya.

Perjalanan angan keduanya melayang-layang menyeruak diantara rimbunnya bunga bougenville ungu. Bergandengan tangan seakan tiada akan dilepaskan. Mereka menyambut datangnya malam hari dengan bersuka cita. Menunggu datangnya rembulan yang hadir diantara gelapnya malam. Bintang-bintang berkelap-kelip mulai menemani rembulan yang tinggal separuh tersebut. Walaupun rembulan tinggal separuh tapi hati Gunawan dan Marsani penuh dengan cahaya terang yang menyejukkan. Kelap-kelip bintang di langit sana bagaikan hati keduanya yang sedang mengembara.

“Hoooi…ayo pulang sudah magrib nih!” tiba-tiba Hartana mengejutkan lamunan mereka berdua.

SEKOLAH KE KOTA

Waktu-waktu telah berlalu, sejalan dengan bertambahnya usia Marsani menuju ke usia dewasanya. Marsani baru saja lulus dari SMP dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di desa mereka sekolah setingkat SMA belum ada. Desa Kedung Dalem memang terletak jauh dari pusat kota. Jauhnya desa mereka tidak menghalangi semangat Marsani untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Setinggi angannya yang terus melayang-layang. Apalagi selama ini teman-temannya selalu member harapan yang indah-indah tentang kemewahan hidup di dunia. Padahal mereka juga anak-anak sebaya Marsani, teman bermainnya. Diantara teman bermain Marsani tersebut ada seseorang yang telah membuatnya punya rasa dalam hati. Siapa lagi kalau bukan Gunawan, laki-laki yang memiliki wajah lumayan manis dan memiliki kulit yang bersih, rambut yang lurus dan rapi.

Diantara mereka tidak ada yang berani mengungkapkan perasaan masing-masing. Mereka masih menghargai persahabatan dari pada percintaan. Masa depan keduanya masih sangat jauh dari harapan. Mereka berusaha untuk menggapainya terlebih dahulu. Pikiran Marsani mulai diracuni oleh sinetron-sinetron di televisi. Obsesi Marsani menginginkan seperti tokoh yang dikagumi, walaupun itu tokoh antagonis.

“Seandainya aku menjadi dirinya pasti akan kulakukan hal-hal yang tidak pernah dibayangkan seseorang. Mereka mendapatkan kemewahan dengan mudahnya. Dengan kemewahan yang mereka miliki mereka dapat tinggal di mana mereka mau, di perumahan elit, di hotel berbintang, di apartemen, atau di villa. Mereka tiap hari tidak pernah tersentuh sinar matahari karena keluar dari rumah mewahnya langsung masuk ke dalam mobil ber-ac, keluar dari mobil langsung masuk gedung mewah ber-ac pula. Alangkah nikmatnya menjadi orang kaya, ingin apa saja pasti bisa. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan hanya menjadi istri kedua, ketiga, atau bahkan hanya jadi seorang simpanan. Nah, lihat itu di berita berjalan ada tulisan yang mengatakan bahwa seorang jenderal kaya raya memiliki selusin rumah mewah tersebar diseluruh Indonesia, dengan tiga orang istri tertangkap KPK. Ternyata menjadi orang kaya itu tidak nikmat ya? Mereka selalu berpikir memutar otak bagaimana membagi waktu untuk menempati rumah-rumahnya, bagaimana membagi waktu dengan istri-istrinya, bagaimana membagi tidurnya dengan pekerjaannya. Aduuh!! koq malah ikut-ikutan mikir to aku ini. Mungkin lebih tentram hidup sederhana di kampung, bersama keluarga sederhana dengan rumah mungil penuh bunga-bunga di taman didampingi oleh suami yang setia, alangkah bahagianya.  Memikirkan apa to aku ini?” batin Marsani menimpali kecamuk pikirannya saat menyaksikan sinetron di televisi.

Marsani kini bukan lagi gadis kecil yang masih suka dolan bersama teman-teman yang lain. Namun kini sudah menginjak dewasa dan sepertinya harus banyak hidup di dalam kamar merawat tubuh dan wajahnya biar tambah cantik. Hal ini terjadi hampir menimpa semua gadis yang menginjak dewasa. Mereka risih apabila wajahnya tidak bersih. Apalagi kini teman-teman Marsani berasal dari berbagai penjuru desa yang ada di kabupaten tersebut, karena sekolah Marsani termasuk SMA favorit. Kini ia semakin banyak teman dengan berbagai karakter yang berbeda-beda. Pada awal masuk dulu, ia termasuk murid yang cepat akrab dengan teman-teman yang lain, baik teman cewek maupun teman cowok. Marsani tidak pernah minder, walaupun ia berasal dari kampung, tetapi orang tuanya termasuk keluarga yang berada dibandingkan dengan warga di kampung tersebut.

BUKAN PERAWAN LAGI

Hari telah berganti minggu, minggu telah berganti bulan, begitulah perjalanan waktu yang kian berputar. Setahun telah dilalui Marsani di sekolah tersebut, walaupun bukan termasuk golongan cewek papan atas tapi ia menjadi pusat perhatian para cowok-cowok di sekolah tersebut. Gaya bicaranya yang supel dan senyumnya yang selalu mengembang, membuat cowok-cowok ingin mendekati.

“Mar, ayo ke kantin yuk!” ajak Neni sambil meraih tangan Marsani.

“Eh, sebentar Nen, aku ke toilet dulu ya. Tunggu sebentar.”

Mereka berdua menuju ke kantin sekolah. Perjalanan mereka ke kantin melewati perpustakaan sekolah. Terlihat dari pintu perpustakaan seorang cowok tampan berdiri di depan petugas perpustakaan. Dilihatnya sebentar cowok tersebut oleh mereka berdua, kemudian berlalu menuju ke kantin.

“Nen, cowok tadi kelas berapa, sih?” selidik Marsini, seolah bertanya pada Neni.

“Itu kan cowok kelas dua,  Mar.”

“Masa sih, cowok kelas dua ada yang tampan seperti itu?”

“Kamu ini tanya atau mau memberi informasi sih?”

“Ya, bertanya to Nen, gitu saja kok sewot to. Jangan-jangan pacarmu ya?”

“Ah, kamu ada-ada saja to Mar, itu kan adik kelas kita masa sih aku pacari. Ya tidak level gitu.”

“Nggak level, nggak level, tahu-tahu nemplok saja, hahaha..”

“Naksir ya?”

“Naksir sih kagak ya, tapi kalau dianya mau, aku ya mau, Nen.”

“Alah…itu ya sama saja Mar.”

Keduanya telah sampai di kantin dan mengambil tempat duduk masing-masing.

“Pesan apa Mar?”

“Soto saja lah Nen.”

“Minumnya apa Mar, kalau aku es jeruk soalnya ini tenggorokanku agak serek.”

“Sama saja Nen.”

“Mar, ngomong-ngomong kamu ini sudah punya pacar belum sih?”

“Pacar sih belum, tapi kalau rasa pernah ada waktu SMP dulu dengan teman se kampung, namanya Gunawan. Itu masa lalu sekarang setelah melihat cowok ganteng-ganteng jadi lupa sama dia, haha.”

“Pengin kenal tidak dengan cowok yang ada di perpustakaan tadi?”

“Wah, banget Nen. Memangnya kamu kenal sama dia?”

“Tidak.”

“Gombal ah.”

Setelah dari kantin mereka langsung menuju ke kelas. Saat di sudut ruang kelas, tiba-tiba Marsani bertabrakan dengan cowok tampan yang ada di perpustakaan tadi. Marsani sampai terjatuh karena cowok tadi berlari kawatir terlambat masuk kelas.

“Ma’af, ma’af ya mbak.”

“Aduh, gimana sih, dik. Kamu kok nabrak-nabrak, ditolongi nih.” Rengek Marsani sambil mengulurkan tangannya agar bisa berdiri lagi.

“Ma’af ya mbak, ini tadi tidak sengaja kok.”

“Tidak apa-apa dik, eh boleh kenalan nggak?”

“Aditya.”

“Marsani, panggil Mar.”

“Oke mbak, makasih ya.”

“Ya, silahkan dik.”

“Cie, cie, yang sudah kenalan sama cowok tampan, terus lupa sama teman.” ejek Neni sambil mencubit lengan Marsani, karena temannya itu hanya diam saja sejak cowok tampan tersebut berlalu.

Perkenalan mereka ternyata berlanjut dikemudian hari. Perjalanan hari-hari bagi Marsani sangat menyenangkan apalagi Aditya telah menyatakan cintanya dengan seribu rayuan yang meluluh lantakkan pertahanan hatinya. Mereka tidak perduli walaupun Aditya adalah adik kelasnya, tetapi mereka merasa nyaman dengan pacaran mereka. Sebulan lagi Marsani akan menghadapi ujian. Ujian yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya bagi Marsani dan teman-teman lainnya. Ujian di kelas tiga sangat menguras tenaga dan pikiran. Sebelum ujian sekolah dimulai sudah ada latihan-latihan ujian, setelah itu ada ujian praktik. Belum selesai capek-capeknya sudah disusul dengan ujian tulis sekolah. Selama sebulan penuh pikiran Marsani tidak sempat memikirkan Aditya. Pikirannya sedang melayang-layang sendiri mencari kunci jawaban soal-soal yang membuatnya pusing. Apalagi kepalanya setiap hari dijejali dengan latihan-latihan soal, belum lagi malam hari harus menyelesaikan tugas rumah yang setumpuk. Cinta di hati itu luntur bersama lunturnya memori di kepala Marsani. Setiap kali menjawab soal dicarinya jawabannya, ternyata begitu sulitnya mencari brankas ilmu pengetahuan di kepalanya.

Sehabis membaca SMS dari Aditya, wajah Marsani semakin kelihatan carut marut tidak karuan. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sakit hati, sakit kepala, dan sakit lainnya. Kepalanya semakin pusing, cenut-cenut terasa menusuk-nusuk syaraf-syaraf yang ada di kepalanya. Selain dibebani dengan harapan akan ujian juga mendapat beban yang sangat berat dari pacarnya.

“Akhir-akhir ini sepertinya aku telah dilupakan, disapa juga tidak, ngabari juga tidak, apa sebenarnya yang kau pikirkan? Apakah sampai di sini saja hubungan kita”. Begitulah SMS yang dikirim Aditya untuk Marsani.

“Adit, percaya padaku kalau aku masih sangat mencintaimu”.

“Ah, mana buktinya!” balas Aditya saat Marsani meyakinkan bahwa dia masih mencintainya.

“Baiklah Dit, jemput aku, kita bicarakan hal ini”. pintanya kepada Aditya, walaupun sebenarnya agak berat juga karena harus mengejar materi belajar untuk ujian. Namun demi meyakinkan kekasihnya Marsani menyempatkan diri untuk membicarakan keraguan Aditya. Beberapa jam kemudian Aditya telah datang di rumahnya. Marsani pun segera muncul dan langsung membonceng di belakang Aditya.

“Kemana kita Mar?”

“Terserah kamu sajalah, kemana aku akan kamu ajak”. Kepasrahan Marsani seakan menandakan betapa dalam cintanya pada Aditya. Mereka melaju di jalanan menuju ke arah barat, sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu. Seakan-akan mereka tengah asik mempermainkan perasaannya masing-masing. Berandai-andai kemana sebenarnya mereka akan berlabuh. Atau bahkan berandai-andai apa yang nanti mereka bicarakan. Beberapa saat berlalu mereka ternya menuju ke sebuah telaga yang sangat nyaman untuk bersantai-santai menikmati pemandangan alam.

Telaga dengan air yang sangat jernih, berwarna biru bening dengan pohon-pohon di sekitarnya membuat tempat tersebut menjadi sejuk dan nyaman. Rumput-rumput pun ikut menikmati segarnya air danau, mereka menari-nari dengan menggoyang-goyangkan badan dan kepalanya. Sepasang angsa putih pun ikut merasakan betapa nikmatnya mereka berdua di tempat seperti itu. Dengan alunan langkah yang perlahan kedua angsa itu pun selalu beriringan berputar ke sana ke mari.

“Lihatlah angsa itu Mar!” pinta Aditya kepada Marsani sambil menunjukkan jarinya ke arah angsa tersebut, “Mereka kelihatan bahagia sekali ya?”

“Kelihatannya seperti itu”. Jawab Marsani sekenanya. Saat itu pula tangan kanan Aditya berlabuh di pundaknya, sambil ditekankan kepelukannya. Marsani merasa nyaman berada dipelukan Aditya, apalagi di depannya danau biru bening menyejukkan hati. Pikiran Aditya pun melayang menembus batas alam nyata.

“Pertama melintas dalam bayang khayalku, wanita sempurna dalam hidupku yang mengisi hari-hariku dalam dunia ini, tergambar jelas dipelupuk mataku wanita anggun nan cantik mengulurkan tangan gapai air kehidupan, dengan lirikan mata yang tajam menusuk  cinta di dalam kalbuku, langkahnya yang menggoda menarik perhatian setiap mata yang memandang, cantik dan menarik hati. Duh,  kekasihku dalam anganku. Aku datang bukan sebagai teman, tetapi aku datang sebagai pelayan yang melayani setiap keinginan hatimu. Wanginya tubuhmu menusuk hidungku, merambat menjalar dalam sel darah merahku. Membangunkan semangat juangku, telah bangun dari tidur panjangku tentang keyakinan diri. Salammu sebelum tidur menghantarkan mimpiku melayang ke nirwana  mengguyur tubuh tergenang madu asmara, di ujung jalan tiada lambaian tangan, apalagi jabat tangan mesra,  hanya tatapan mata sampai kau menghilang. Begitu dalam perasaan cintaku padamu, tidak dapat kuucapkan lewat rangkaian kata-kata, kumintakan ijin kepadamu aku titip benih cintaku dalam kamar hangat di rahimmu, jagalah baik-baik benih cintaku itu kekasihku. Ciumanku di pagi ini mengawali duniamu yang baru. Kicauan burung mendendangkan lagu bangun sayangku, kuciumi seluruh bau tubuhmu tuk memberi semangatmu hari ini. Hari ini aku pelayanmu kekasihku, minta apakah tuan putriku, aku siap mengantarkan diri melayanimu”.

Keduanya telah terbaring berjam-jam ditepian telaga tersebut, mereka saling berpelukan erat seperti tiada akan terlepas. Badan keduanya terasa lemas, terasa perih di ujung pusar buminya. Hanya dedaunan yang dapat dijadikan saksi bahwa mereka berdua telah melewati batas alam nyata menuju alam khayal mereka. Seakan tiada percaya keduanya berpandangan dalam kekecewaan yang mendalam. Suara tangis mulai terdengar perlahan serta sesenggukan dari mulut Marsani. Air matanya pun mulai membasahi pipinya. Suara-suara jengkerik mulai nyaring terdengar seakan menyambut rembulan mengintip diantara daun-daun pepohonan. Saat itu Aditya memeluk erat tubuh Marsani yang mulai bergemuruh bak gunung Merapi yang akan meletus.

Setelah kejadian tersebut Aditya seperti menghilang di telan belantara. Setiap kali ketemu dengan berbagai alasan untuk menghindar. Sedangkan betapa perih hati Marsani yang telah kehilangan jaring emas bertahtakan berlian. Padahal ujian telah di depan mata. Bagaimana Marsani dapat konsentrasi belajarnya, saat ia memikirkan kehilangan jaring emasnya dan Aditya yang selalu menghindar dari dirinya.

JATUH DIPELUKAN SANG DOSEN

Ujian telah dilewatinya dengan susah payah. Ditunggunya seseorang datang untuk menemuinya. Orang yang ditunggu pun belum juga datang. Pesan singkatnya juga tidak pernah dijawab, apalagi apabila dihubungi lewat teleponnya selalu sibuk. Apa yang bisa diharapkan dari Aditya yang hanya menawarkan ketampanan wajah, tetapi tidak berani bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya. Penyesalan bukan jalan keluar, penyesalan hanya akan menumpuk kesedihan di dalam hati. Marsani telah menjadi korban karena ketampanan seseorang. Ternyata wajah yang tampan, tubuh yang gagah hanya selimut dari kekurangan di dalam dirinya.

Begitu juga dengan Marsani, dia tidak akan menyesali dengan apa yang pernah dia lakukan bersama Aditya, walupun sebenarnya hatinya terasa teriris-iris merasa telah dikianati Aditya. Yang dikawatirkan Marsani adalah apabila benih cinta yang ada di rahimnya berkembang menjadi orok yang tidak diinginkan.

Hari itu hatinya merasa sangat senang tatkala tamu rutin yang tidak pernah diundangnya datang juga. Itu menandakan bahwa dia benar-benar stiril dari hal yang sangat dikawatirkannya. Apa yang telah diusahakannya ternyata membuahkan hasil. Setiap hari ia selalu berusaha melakukan olah raga dengan sangat giat. Padahal hal itu sangat jarang dilakukan sebelumnya. Suka citanya pagi itu diwujudkan dengan lari-lari pagi, kebetulan hari itu adalah hari minggu. Sambil menghirup udara pagi yang sangat segar dengan pemandangan alam yang sangat menyenangkan. Pagi itu awan cerah mendung hanya segelintir yang berseliweran di puncak gunung Lawu. Matahari pagi mulai bangun dari tidur malamnya. Sinar kuning keemasan mulai berpencar ke penjuru dunia. Kicauan burung ikut menyambut datangnya pagi itu. Cerianya hari seakan menyambut kebahagiaan Marsani pada saat itu.

Setelah lulus dari SMA, Marsani mendaftarkan diri ke universitas negeri favorit di kota Solo, namun apa dikata apa yang diharapkan tidak terwujud. Kenyataannya ia hanya kuliah di universitas swasta di kota Solo juga. Awal-awal kuliah sungguh menyenangkan bagi Marsani. Perkuliahan dilaluinya dengan senang hati, dilupakannya apa yang dulu pernah menimpanya. Hingga semester tiga, dia belum juga tertarik dengan laki-laki sebagai teman untuk saling berbagi. Hal ini sangat kontras sekali dengan masa-masa kecilnya dulu yang sangat suka sekali bermain dengan teman laki-laki.

Pada saat yudisium ternyata ada nilainya yang belum keluar. Hal ini membuat Marsani harus berhubungan dengan dosennya, Pak Setyo Utomo seorang dosen yang masih muda dan ganteng. Memperhatikan tingkah dosennya yang penuh perhatian Marsani begitu ingin selalu dekat dengannya. Dengan segala alasan yang dicari-cari untuk dapat bertemu dengan Pak Setyo Utomo. Marsani sepertinya sangat tertarik dengan dosen muda yang sudah berkeluarga tersebut. Apa yang diharapkannya pun bersambut, Pak Setyo Utomo sepertinya juga mempunyai rasa yang sama dengan Marsani. Akhir-akhir ini Pak Setyo Utomo sering mengajak Marsani pergi makan berdua, bahkan sering diajak ke tempat-tempat yang romantis. Mereka seakan telah memproklamirkan dengan sembunyi-sembunyi tentang hubungan mereka. Pak Setyo selalu memberikan apa yang diminta Marsani baik yang diminta maupun yang tidak dimintanya. Dosen muda walaupun sudah berkeluarga tapi telah memikat hati Marsani yang menginginkan kehangatan. Kesenangan Marsani menjadi suatu kebiasaan, karena luka oleh perbuatan Aditya yang tidak bertanggung jawab.

“Semua laki-laki adalah pengkhianat”, begitulah pikir Marsani untuk membenarkan apa yang diperbuatnya, “aku harus dapat membuatnya bertekuk lutut padaku. Siapapun dia, aku tidak perduli karena harga diriku, keyakinanku, kepercayaanku, kesempurnaanku, masa depanku semua telah dirampas laki-laki.”

Penampilan Marsani kini kelihatan semakin menarik. Dengan berbagai fasilitas yang diberikan oleh Pak Setyo membuat teman-temannya iri padanya. Bayangkan awalnya Marsani hanyalah gadis biasa-biasa, dengan penampilan yang biasa, dengan wajah yang biasa, dengan kemampuan otak yang biasa, dengan pakaian yang biasa, dengan aksesoris yang biasa. Kini penampilannya berubah 180 derajat dari semula. Pakaiannya yang digunakan kini termasuk pakaian bermerk dan wajahnya kini sering difacial di salon. Pokoknya sekarang Marsani menjadi cewek yang luar biasa, menjadi point of interestnya para cowok di kampus.

“Mar, habis kuliah nanti ikut aku ya?” ajak Pak Setyo Utomo pada Marsani waktu berpapasan di lobi kampus.

“Baiklah, aku tunggu ya, tapi aku nanti kuliah sampai jam 13.00 lo!”

“Tidak masalah, Mar”.

Tiba waktunya Pak Setyo menjemput Marsani yang sudah menunggu di depan ruang kuliah. Dipersilahkan Marsani masuk ke dalam mobil jazz warna merah. Dibawanya Marsani menuju ke sebuah penginapan yang jauh dari kampus, kira-kira dari kampus 40 kilometer ke arah timur.

“Lho, apakah sudah ijin sama ibu, Pak?”

“Tenang saja Mar, semua sudah aku atur, kamu tidak perlu kawatir. Kita nanti menginap selama dua hari”.

“Kuliah saya gimana, Pak?”

“Mudah itu, soal nilai nanti aku yang minta sama dosen-dosen yang lain”.

“Trimakasih, sayang”. Marsani sambil memeluk dan mencium Pak Setyo di dalam mobil yang melaju ke arah timur menuju penginapan.

Dunia ini sungguh menyenangkan, alam yang sejuk membawa kehangatan di hati, karena ada bidadari membawanya melayang. Berlarian di malam dan siang hari diantara kabut yang menyelimuti kaki gunung Lawu. Noda-noda di hati terasa tetesan embun di malam hari. Kicauan burung seakan ikut menemani. Ringkikan kuda seakan membawanya ikut berlari. Memacu birahi di arena lautan cinta. Pengalaman berdua menghasilkan madu cinta yang mengalir bagaikan larva gunung berapi. Rembulan telah dua kali mengintip diantara jeruji jendela kamarnya. Suara desah nafas terengah semakin hilang bersama tetesan gerimis di malam menjelang pagi. Pelukan erat seakan tidak mau terlepaskan. Perbuatan yang didasari nafsu birahi, tanpa ikatan atau janji. Kepercayaan yang mereka bangun untuk merekatkan hati mereka. Marsani sadar kalau Pak Setyo telah berkeluarga. Begitu juga dengan Pak Setyo juga menyadari bahwa dia tidak mungkin menikahi Marsani, karena dia telah berkeluarga bahkan telah memiliki  2 anak, laki-laki dan perempuan.

Cinta mereka telah membenamkan segala tanggung jawab. Marsani sebagai mahasiswa telah melalaikan kuliahnya, Pak Setyo sebagai dosen telah melalaikan  tugas mengajarnya. Akhir-akhir ini Pak Setyo sering pergi ke luar kota dengan berbagai alasan mendapat tugas dari kampus. Padahal semua itu hanya tipu daya Pak Setyo agar dapat berduaan dengan Marsani. Cinta telah membutakan keduanya, umur bukan lagi halangan bagi mereka. Seakan dunia ini akan dapat dikuasainya, dapat disuap agar tidak bicara dengan orang lain. Padahal kekuatan keduanya tidaklah sebanding dengan kejujuran alam.

Hari-hari dilalui dalam menjalani hidup dengan penuh bintang-bintang. Kecerian selalu tergambar di wajahnya, walaupun terkadang kerikil kecil menusuk telapak kakinya, namun semua itu tiada arti. Apalagi kini Marsani telah dibelikan rumah mungil di perumahan yang tidak jauh dari kampus mereka. Mereka berdua dapat menikmati indahnya hidup berdua setiap hari. Orang tua Marsani merasakan ada sesuatu perubahan dalam diri Marsani. Dia kini jarang pulang, dan jarang pula meminta uang saku. Sampai kini orangtuanya belum tahu bahwa Marsani telah keluar dari jalur kehidupan yang lurus. Ibaratnya kereta api yang telah lepas dari relnya, begitulah kehidupan Marsani akhir-akhir ini.

TERLANTAR

Pak Setyo Utomo datang ke rumah Marsani pagi-pagi sekali saat dia sedang mandi. Dibukakan pintu rumahnya saat Marsani hanya berlilitkan handuk. Tubuhnya yang putih mulus membuat Pak Setyo tidak dapat menahan gelora cinta yang ada di dadanya. Di peluknya Marsani erat-erat sambil dibimbingnya ke kamar tidur. Pergumulan batin dan pergumulan badan tiada terelakkan lagi. Angin berembus sepoi-sepoi menyapu wajah mereka yang penuh dengan keringat. Lama-kelamaan angin pun berembus semakin kencang menggugurkan daun-daunan di lantai kamar.  Cemara pun menjulang menembus awan, air danau mendidih bergejolak menghangatkan pagi yang masih dingin. Saat keduanya terkulai tiada berdaya setelah berlari mengejar hasrat insan yang sedang kehausan bagaikan melihat sumber mata air di tengah padang pasir.

“Mas, pagi ini aku ada pendadaran skripsi, lo!”, ucap Marsani sambil duduk di tepi ranjang.

“Lho, koq tidak bilang-bilang, tadi kalau bilang pagi ini ada pendadaran skripsi pasti aku tidak mengganggumu.”

“Ya, masih nanti jam 9 kok, Mas,” jawab Marsani sambil mengajak Pak Setyo ke kamar mandi untuk mandi bersama.

Pagi itu Marsani mempersiapkan segala keperluan yang akan digunakan untuk pendadaran skripsinya. Persiapan segala hal, baik skripsi yang akan diujikan, LCD, maupun tempat dan snack untuk penguji. Pak Setyo memang sengaja untuk tidak menjadi pembimbingnya. Namun dia bermain di belakang layar untuk membantu Marsani dalam menyelesaikan skripsinya. Pendadaran pagi itu berjalan lancar, Marsani dapat berhasil menyelesaikan pendadaran dengan nilai memuaskan. Nilai yang cukup untuk syarat mengikuti wisuda.

Betapa bahagia hati Marsani setelah menyelesaikan kuliahnya. Pak Setyo juga sering berada di rumahnya. Beberapa bulan kemudian kebahagiaan Marsani berubah menjadi kesedihan. Kesedihannya dipengaruhi karena mendengar kabar bahwa Pak Setyo mengalami kecelakaan dan dalam keadaan kritis. Mobil yang dikendarainya bertabrakan dengan sebuah truk tronton yang melaju dari arah Jogya menuju terminal Solo. Pagi itu Marsani masih sempat SMS dengan Pak Setyo, saat itu dia sedang mandi. HP yang ada di meja diambil istrinya dan dibaca isinya. Betapa terkejutnya istri Pak Setyo membaca SMS yang isinya mesra sekali. Kemudian dicari-cari lagi file-file SMS yang lain serta membuka-buka dokumen foto yang ada di HP tersebut. Betapa terkejutnya istri Pak Setyo waktu itu, suami yang selama ini dipercaya menjadi suami yang baik bagi anak-anaknya ternyata mempunyai istri simpanan. Setelah selesai mandi dan mempersiapkan diri berangkat, istrinya menanyakan posisi seseorang dengan dirinya. Jawaban yang diterima dari Pak Setyo berupa bentakan-bentakan kepada istrinya. Terdengarlah keributan di rumah yang biasanya sepi dan nyaman tersebut. Dengan perasaan marah Pak Setyo berangkat menuju kampus dan akhirnya terjadilah tabrakan yang tidak  dapat dihindarkan lagi. Kecelakaan tersebut membuat koma selama dua hari di rumah sakit yang akhirnya, Pak Setyo menghembuskan nafas yang terakhirnya.

Kesedihan berlanjut menyelimuti kabut hatinya, yang kian hari kian dalam. Puncak kesepian telah merobek jiwa bagi Marsani yang sendirian dalam hari-hari yang sepi. Kesediahan Marsani memuncak tatkala harus meninggalkan rumah yang ditempatinya. Ternyata rumah yang ditempatinya bukan rumah yang dibeli oleh Pak Setyo tetapi hanya rumah kontrakan, dan sekarang masa kontraknya telah habis. Kini Marsani  pulang ke Kedung Dalem tepatnya ke rumah orang tuanya.

TERGADAIKAN

Orang tua Marsani kini telah dililit banyak hutang, selain untuk menyekolahkan anaknya juga untuk makan sehari-hari. Barang-barang di rumahnya sudah habis bersih diambil oleh Pak Gunarso. Kondisi orang tuanya sudah semakin rapuh dan sakit-sakitan. Apalagi pikirannya semakin tertekan dengan masih banyaknya hutang kepada Pak Gunarso yang belum terbayarkan.

“Mar, ma’afkan orang tuamu ini yang tidak dapat memberi apa-apa, aku dan ibumu tidak bisa memberimu sesuatu yang berharga dan mungkin kamu malu melihat kondisi orang tuamu seperti ini. Apalagi sekarang aku dan ibumu sering sakit-sakitan. Mar, aku harap kamu tidak malu dengan kondisi orang tuamu yang seperti ini. Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui bahwa orang tuamu ini masih memiliki hutang yang sangat banyak. Hutang-hutang tersebut tiap bulan tidak berkurang tetapi malah bertambah. Sebagian sawah kita juga sudah habis terjual untuk membiayai kehidupan kita sehari-hari dan untuk membayar hutang. Mar, sebentar lagi rumah dan tanah ini juga akan disita oleh Pak Gunarso untuk membayar hutang-hutang orang tuamu ini. Ketahuilah Mar, kemarin Pak Gunarso datang kemari menawarkan solusi pembayaran hutangnya. Mar, ma’afkan orang tuamu ini ya? Kemarin Pak Gunarso menawarkan hutang lunas apabila kamu mau menjadi istri ke-duanya. Namun apabila kamu tidak mau, maka hutang-hutangnya harus dilunasi atau rumah dan pekarangannya akan disita”.

“Bapak dan Ibu, Marsani ikut keputusan yang terbaik buat keluarga ini saja. Seandainya Marsani harus menikah dengan Pak Gunarso itu jalan yang terbaik, maka aku juga mau. Namun apabila ada jalan lain yang dapat menutup hutang-hutang Bapak dan Ibu, ya tentu saja saya tidak perlu menjadi istri kedua Pak Gunarso kan Pak?”.

Begitulah akhirnya jalan keluarnya adalah Marsani menjadi istri kedua Pak Gunarso. Hanya selang beberapa hari saja perangai Pak Gunarso yang sesungguhnya kelihatan. Ia menjadi orang yang tega  dengan sesama begitu pula dengan istrinya. Selain hatinya keras ternyata Pak Gunarso juga suka memukuli Marsani. Apa yang dilakukan Pak Gunarso dengan berbagai alasan macam-macam dari tidak dapat memuaskan keinginannya sampai menuduh Marsani sudah tidak perawan lagi. Padahal jelas Pak Gunarso tahu kalau Marsani adalah janda muda dan cantik, mengapa dia masih menuntut kesucian keperawanan? Melihat kelakuan menantunya yang suka memukul dan membentak-bentak anaknya, kedua orang tua Marsani menjadi drop kondisi kesehatan tubuhnya. Tidak lama berselang bapaknya meninggal dunia. setelah bapaknya meninggal dunia, sebulan kemudian ibunya menyusul menghadap kehadirat ilahi.

Hari-hari penuh siksaan yang membuat Marsani menjadi sedih, menyesal, dan ingin mengulangi hidup di masa mudanya kembali. Ternyata wajah yang cantik dan sekolah yang tinggi tidak menjamin masa depannya menjadi lebih baik. Masa depan terletak dari keinginan kita, semangat kita di dalam meraihnya. Apa yang telah terjadi tidak akan pernah dapat dihapus kembali. Waktu telah berputar semakin menggilas umur kita. Detik demi detik terus berputar seiring Marsani yang membayangkan kebahagiaan hidupnya.

(Cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, alamat, dan ceritanya itu hanyalah kebetulan saja)

AYO SHOLAT BRO!

MARI BELAJAR  SHOLAT

Pengajak : M. Wisnu Jadmika

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa bárakátuh

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad saw adalah hamba dan Rasul Allah.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 102)

Mas, Mbak, Om, Tante, Bapak, Ibu, ‘n Bro & Sis…. Sekaranglah kita-kita mencari kunci besok di akherat. Jangan lupa ya…., ini lah yang disebut sebagai do’a paling mujarab dari segala do’a. Dah ngerti to Mas bro?? pasti sudah tahu dong. Bagi agan-agan yang lupa berdo’a kepada Allah karena sibuk ngumpulin duit..duit…dan duit, inilah saatnya mikirin akherat.

Mumpung kita-kita masih diberi kesempatan untuk bertobat dijalan Allah, mari kita berdo’a agar diberi tempat yang nyaman besok di akherat. Do’a yang paling mustajab adalah sholat. Nah, tidak ada salahnya kalo’ kita pelajari cara-cara sholat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah ….. Oh ya bro, shalat tuch merupakan kewajiban lho bagi kita-kita yang beragama islam, ‘n sudah baligh, serta waras.

Kalo’ belum terbiasa sholat, kita sholat yang wajib dulu saja bro ….. Sholat wajib tuch  ada 5 waktu, yaitu Dzuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh.

A.   WAKTU SHOLAT

  • Dzuhur;  dari tergelincirnya matahari hingga bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya.
  • ‘Ashar; dari saat bayangan semua benda sama panjang dengan benda aslinya hingga terbenamnya matahari.
  • Maghrib; dari terbenamnya matahari hingga hilangnya warna kemerah-merahan pada senja.
  • ‘Isya’;  dari hilangnya merah senja hingga pertengahan malam.
  • Shubuh;  dari terbitnya fajar hingga sebelum matahari terbit.

B.   TATA CARA WUDHU

Tata cara wudhu sesuai dengan riwayat Humran (bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan ra) :

Utsman bin ‘Affan ra minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitu pula dengan tangan kiri. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitu pula dengan kaki kirinya. Dia kemudian berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah saw berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku  ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati (dalam urusan dunia) dalam kedua raka’at tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.’”

1.    Cara Berwudhu

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua  mata kaki ….” (QS. Al-Maa-idah : 6)

  • Niat

Niat dilakukan di dalam hati dan tidak diucapkan.

  • Mengucap “Bismillahirrahmánirram

Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah.

  • Membasuh telapak tangan, jangan lupa bro, membersihkan sela-sela jari.
  • Membasuh wajah 3x (yang rata lho mas bro, jangan sampe’ belang-belang)
  • Berkumur-kumur (airnya dibuang lho)
  • Menghirup air lewat hidung, lalu dikeluarkan.
  • Mengusap kepala 3x (termasuk telinga lho bro …)
  • Bagi agan-agan berjenggot harus dibasahi dengan menyela pakai jari tangan
  • Membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Jangan lupa diantara jari-jari dibersihkan pakai jari-jari tangan. Sampai rata lho Gan.
  • Ini sangat penting, habis selesai berwudhu jangan lupa berdo’a.

“Tidaklah seorang diantara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdo’a :“Asyhadu anlá iláha illallahu wahdahulá syaríkalahu wa-asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasúluh.” Melainkan dibukakan baginya delapan pintu syurga. Dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki.”

2.    Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

  • Kentut, be’ol, ‘n kencing.
  • Molor alias tidur  nyenyak.
  • Tidak sadar karena mabuk atau sakit
  • Megang kemaluan untuk ber-syahwat.
  • Makan daging unta

C.   CARA MELAKSANAKAN SHOLAT

1.    Syarat Sahnya Shalat

  • Ngerti waktunya
  • Suci dari hadats besar dan kecil
  • Pakaian, badan, dan tempat untuk shalat harus suci
  • Menutup aurat, aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan)
  • Menghadap ke kiblat

2.    Tata Cara Shalat

Raka’at Ke-1

a.  Niat

Sebelum mengangkat tangan takbiratul ihram, niat dulu bro.. karena semua amalan tergantung dari niatnya. Niat nggak perlu dikerasin suaranya, cukup dalam hati.

 b.  Takbiratul Ihram

takbir

Diperagakan oleh Drs. Mursidi

 

Takbiratul ihram tuch, ngangkat kedua tangan sambil baca : “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar). Ato boleh juga ngangkat tangan dulu baru ngucap “Allahu Akbar”, juga boleh sebaliknya bro…. ngucap dulu “Allahu Akbar” baru ngangkat kedua tangan.

Rasulullah saw biasa mengangkat kedua tangan bersama dengan takbir (Allahu Akbar), terkadang setelah takbir, dan kadang-kadang sebelumnya. Beliau Rasulullah saw mengangkat kedua tangan serentang kedua bahunya, dan terkadang beliau mengangkatnya hingga menyentuh kedua tepi telingan beliau.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

 c.  Bersedekap

bersedekap

Bersedekap dilakukan setelah takbiratul ihram, tangan langsung bersedekap. Caranya bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.

Rasulullah saw selalu meletakkan tangan kanan di atas punggung tapak tangan kirinya dan di atas pergelangan dan lengannya.

Dan kadang-kadang Rasulullah menggenggam tangan kirinya. Beliau meletakkan kedua tangannya di atas dada.

Di atas dada dapat dilakukan dengan meletakkan kedua tangannya di atas atas pusar sampai di  atas an-nahr (puncak dada di bawah dagu).

d.  Membaca Do’a Istiftah

Membaca do’a istiftah ada bermacam-macam, bro…tapi salah satunya yang dibaca seperti ini :

Allahumma bá’id bainí wabaina khatháyáya kamá bá’adta bainalmasyriqi walmaghrib. Allahumma naqqiní min khatháyáya kamá yunaqqats-tsaubul abyadlu minaddanas. Allahummaghsilní min khathá yáya bilmai wats-tsalji walbarad.

(Ya Allah jauhkanlah antara aku dan dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Ya Allah basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan bard (butiran air hujan yang membeku)

 e.  Membaca Al-Fatihah dan Surat Pendek

Habis baca do’a istiftah baca ta’awud minta perlindungan kepada Allah swt dari godaan syetan-syetan terkutuk. Dilanjutkan membaca basmalah, terus baca surat Al-Fatihah.

“A’údzubillahi minasy syaithánirrajím”

“Bismillahirrahmanirrahím” 

“Alhamdulillahi rabbil ’álamín”

“Arrahmanirrahím”

“Máliki yaumiddín”

“Iyyákana’ budu waiyyákanasta’ín”

“Ihdinash shiráthalmustaqím, shiráthalladzína an’amta ‘alaihim ghairil maghdlúbi ‘alaihim waladlãllín”- “ãmín…”

(Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Yang menguasai hari pembalasan.

Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang sesat)

Membaca surat pendek :

“Qul huwallahu ahad” 

“Allahush-shamad”

“Lam yalid walam yúlad”

“wa lamyakul lahukufuwan ahad”

 

(Katakanlah Dia-lah Allah yang Maha Esa.

Allah tempat meminta segala sesuatu.

Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.

dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.)

“Allahu Akbar”

Kemudian ruku’

 f.  Ruku’

ruku'

Cara ruku’ dengan menempatkan kedua tangannya di atas kedua lututnya. Kedua telapak tangan diletakkan pada kedua lutut lalu merenggangkan jari-jarinya, seperti menggenggam lutut. Sehingga punggung kelihatan rata.

Lalu membaca (pilih salah satu bro….) :

Subnaka Allahumma wa bihamdika Allahummaghfirlí”

(Maha suci Engkau ya Allah. Dan dengan memuji Engkau ya Allah beri ampunlah daku)

Atau :

Subna rabbiyal ‘adhím”    3x

 (Maha suci Rabb ku yang Mahaagung)

Atau :

“Subna rabbiyal ‘adhím wa bihamdih”    3x  

(Maha suci Rabb ku yang Mahaagung dan dengan memuji-Nya)

 g.  I’tidal (Bangkit dari Ruku’)

takbiratul ihram

Setelah ruku’ dengan thuma’ninah kemudian bangkit dari ruku’ (I’tidal) sambil  membaca :

Sami’allahulimanhamidah”

(Allah mendengar orang yang memuji-Nya)

 

Ketika I’tidal ini sambil mengangkat kedua tangannya sambil membaca :

Rabbaná walakalhamdu”

(Ya Rabb kami, hanya bagi-Mu lah segala pujian)

Kemudian bertakbir  “Allahu Akbar”  dan bersujud.

 h.  Sujud

sujud

sujud dr belakang

Setelah bertakbir kemudian meletakkan kedua tangannya di atas tanah sebelum kedua lututnya. Jari-jari tangan diarahkan ke kiblat sejajar dengan telinga atau bahu. Jangan lupa hidung dan dahi wajib menempel ditempat sujud, lho ….karena kita-kita diperintah untuk bersujud di atas 7 tulang, yaitu  dahi dan hidung (1 tulang wajah), kedua lutut (2 tulang lutut), kedua tangan (2 tulang  tangan), dan jari-jari kaki (2 tulang jari kaki).

Kemudian membaca (pilih salah satu bro…yang paling afdol dan yang paling mudah dihafal):

Subnaka Allahumma wa bihamdika Allahummaghfirlí”

(Maha suci Engkau ya Allah. Dan dengan memuji Engkau ya Allah beri ampunlah daku)

Atau :

Subna rabbiyal a’la”    3x

(Maha suci Rabb ku yang Maha Tinggi)

Atau :

Subna rabbiyal  a’la wa bihamdih”    3x

(Maha suci Rabb ku yang Maha Tinggi dan dengan memuji-Nya)

Lalu mengangkat kepala sambil bertakbir “Allahu Akbar”

 i.  Duduk antara Dua Sujud

duduk iftirasy

Kemudian menggelar kaki kiri dan mendudukinya (duduk iftirasy) dengan tenang. Telapak kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari telapak kaki dihadapkan ke kiblat. Kemudian membaca :

“Allahummaghfirlí warhamní, wajburní, warfa’ní, wahdiní, wa’áfiní, warzuqní”

(Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, tunjukilah aku, maafkanlah aku, dan berilah rizki kepdaku)

Kemudian bertakbir “Allahu Akbar” ,dan melakukan sujud seperti sujud yang pertama tadi.

Kemudian bangkit duduk tegak di atas kaki kirinya hingga tulang-tulang kembali pada tempatnya semula (duduk istirahat). Lalu bangkit ke raka’at kedua dengan bertumpu ke lantai menggunakan kedua tangan.

“Dan apabila hendak berdiri Rasulullah saw bertumpu dengan kedua tangannya yang terkepal (seperti membuat adonan)”

Berdiri tegak sambil bersedekap untuk memulai raka’at kedua.

Raka’at Ke-2

Pada raka’at kedua dimulai dengan Al-Fatihah, “Alhamdulillahi rabbil ’álamín” ……. dan seterusnya seperti pada raka’at pertama. Tapi setelah sujud yang kedua kemudian duduk tasyahhud awal. Tasyahhud awal untuk sholat maghrib, ‘isya’, dzuhur, ‘ashar, tetapi untuk sholat shubuh tidak ada tasyahhud awal, langsung tasyahhud akhir, lho mas bro….

 j.  Tasyahhud Awal

tasyahhud awal

Duduk tasyahhud awal seperti duduk diantara 2 sujud, yakni duduk iftirasy. Telapak tangan kanan diletakkan di atas lutut kanan seperti menggenggamnya, telapak tangan kiri di atas paha kiri sambil memberikan isyarat berupa telunjuk dengan menggerak-gerakannya. Pandangan mata menuju ke arah telunjuk tersebut.

Kemudian membaca do’a (do’anya banyak lho bro, ini hanya salah satu contoh saja):

“Attahiyyátulillah wash-shalawátu wath-thayyibát. Assalámu ‘alaika ayyuhánnabiyyu warahmatullahi wabarakátuh. Assalámu ‘alainá wa’ala ‘ibádillahishalihín. Asyhadu anlá ilaha ilállah wahdahulá syaríkalah. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasúluh.”

(Segala penghormatan milik Allah, juga kesejahteraan dan kebaikan. Semoga keselamatan atasmu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga keselamatan atas kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah)

Khusus sholat subuh langsung dilanjutkan salawat Nabi ato  tasyahhud akhir, kemudian salam. Untuk sholat selain sholat  subuh, bangkit berdiri dengan bertumpu kedua tangan sambil bertakbir “Allahu Akbar” dengan mengangkat  kedua tangan.

Warning bro! pada sholat maghrib ini khan 3 raka’at jadi raka’at ketiga nanti sudah tasyahud akhir. Pada sholat ‘isya’, dzuhur, ‘ashar tasyahhud akhir pada raka’at ke-4.

 k.  Tasyahhud Akhir

tasyahhud akhir

Diperagakan oleh Drs. Mursidi

Bacaan tasyahhud akhir pada awalnya sama dengan tasyahhud awal kemudian ditambah dengan salawat nabi.

“Attahiyyátulillah wash-shalawátu wath-thayyibát. Assalámu ‘alaika ayyuhánnabiyyu warahmatullahi wabarakátuh. Assalámu ‘alainá wa’ala ‘ibádillahishalihín. Asyhadu anlá ilaha ilállah wahdahulá syaríkalah. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasúluh.”

“Allahumma shalli ‘ala muhammad, wa ‘ala ãli muhammad, kamá shalaita ‘ala ãli ibráhím, innaka hamídummajíd. Allahumma bárik ‘ala muhammad wa ‘ala ãli muhammad, kamá bárakta ‘ala ãli ibráhím, innaka hamídummajíd”

(Segala penghormatan milik Allah, juga kesejahteraan dan kebaikan. Semoga keselamatan atasmu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga keselamatan atas kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Saya bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah.

Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Serta berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung)

 l.  Salam

salam

Setelah membaca tasyahhud akhir kemudian salam. Dengan menoleh ke kanan membaca :

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa bárakátuh”, kemudian menoleh ke kiri sambil membaca :

“Assalamu’alaikum warahmatullah”

(Bacaan arab untuk huruf yang bertanda (a / biasa) : 1 ketukan, (á) : 2 ketukan, (ã) : 4 ketukan)

Oh..ya….bagi yang belum hafal bacaan do’a-do’a dalam sholat boleh koq bro membaca : “Subhanallah,  walhamdulillah, walá ilaha ilállah, allahu akbar” tapi ingat harus belajar untuk membaca sesuai dengan yang diajarkan Nabi saw.

Alhamdulillah…. Mempelajari ilmu sholat sudah selesai, mari sekarang kita sholat bro…sudah terdengar adzan…. Perlu diingat : do’a-do’a dalam sholat banyak bacaannya. Bacaan di atas hanya salah satu contoh saja, dan tulisan ini dibuat bagi yang baru belajar sholat…makanya ditulis pakai huruf latin….jangan protes bro…yang penting bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa bárakátuh.

Jadwal Ujian SMAN 1 Bayat

Program kurikulum SMAN 1 Bayat di semester genap tahun pelajaran 2012/2013 yang telah direncanakan adalah sebagai berikut :

1. Tambahan Jam Pelajaran

2. Try Out (TO) / Uji Coba Ujian Nasional

Dilaksanakan 2 kali, yaitu hari Senin, 4 Maret 2013 sd Kamis, 7 Maret 2013. Sedangkan Uji coba yang ke-2 dilaksanakan setelah Ujian Sekolah. Pelaksanaan TO 2 yaitu hari Senin, 25 Maret 2013 sd Kamis, 28 Maret 2013.

  • Senin, 7 Maret 2013/25 Maret 2013     08.00 – 10.00    Bhs. Indonesia
  • Selasa, 8 Maret 2013/26 Maret 2013    08.00 – 10.00    Bhs. Inggris   ; 11.00 – 13.00   Fisika (IPA)/ Ekonomi (IPS)
  • Rabu, 9 Maret 2013/ 27 Maret 2013     08.00 – 10.00   Matematika
  • Kamis, 10 Maret 2013/ 28 Maret 2013 08.00 – 10.00   Kimia (IPA)/ Sosiologi (IPS); 11.00 – 13.00  Biologi (IPA)/ Geografi (IPS

3. Ujian Sekolah (US)

Ujian sekolah terdiri dari Ujian Tulis dan Ujian Praktik.

  • Ujian Tulis dilaksanakan mulai hari Senin, 11 Maret 2013 sampai dengan hari Senin, 18 Maret 2013.

a. Senin, 11 Maret 2013 –   (07.30 – 09.30)  Bhs. Indonesia;   (10.00 – 12.00) Biologi (IPA)/ Sosiologi (IPS)

b. Rabu, 13 Maret 2013 –  (07.30 – 09.30)  Matematika;          (10.00 – 11.30)  Sejarah

c. Kamis, 14 Maret 2013 – (07.30 – 09.30)  Bhs. Inggris;         (10.00 – 12.00)  Kimia (IPA)/ Geografi (IPS)

d. Jum’at, 15 Maret 2013 – (07.30 – 09.30) Fisika (IPA)/ Ekonomi (IPS) ;   (10.00 – 11.30)  Penjaskes

e. Sabtu, 16 Maret 2013 – (07.30 – 09.00) Bhs. Jawa;                 (09.30 – 11.00)  Agama;      (11.30 – 13.00)   Bhs. Jerman

f. Senin, 18 Maret 2013 – (07.30 – 09.00) PKn;      (09.30 – 11.00) Agama;   (11.30 – 13.00)  Bhs. Jerman

  • Ujian Praktik dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Maret 2013 sampai dengan Sabtu, 23 Maret 2013

4. Ujian Nasional (UN) dilaksanakan pada hari Senin, 15 April 2013 sampai hari Kamis, 18 April 2013.

  • Senin, 15 April 2013   (07.30 – 09.30)  Bhs. Indonesia
  • Selasa, 16 April 2013  (07.30 – 09.30)  Fisika (IPA)/ Ekonomi (IPS);   (10.30 – 12.30)  Bhs. Inggris
  • Rabu, 17 April 2013    (07.30 – 09.30)  Matematika
  • Kamis, 18 April 2013  (07.30 – 09.30)  Kimia (IPA)/ Sosiologi (IPS); (10.30 – 12.30) Biologi (IPA)/ Geografi (IPS)

5. Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) dilaksanakan tanggal 7 Juni – 14 Juni 2013. Penerimaan hasil Belajar Peserta Didik (Raport) hari Sabtu, 22 Juni 2013.

Khusus UKK bagi siswa kelas X dan XI, sedangkan no 1 sd 4 khusus kelas XII.

Syarat mengikuti Ujian Nasional :

1. Terdaftar sebagai siswa SMAN 1 Bayat

2. Memiliki Ijazah SMP/MTs/Paket B

3. Memiliki nilai raport mulai kelas X semester 1 sampai kelas XII semester 1

4. Memiliki NISN

Kriteria Kelulusan bagi siswa SMAN 1 Bayat :

  • Memiliki nilai Ujian Sekolah (Rata-rata Ujian Tulis dan Ujian Praktik) minimal 7,5.
  • Memiliki Nilai Akhir (NA) minimal 4,0 untuk setiap mapelnya.
  • Memiliki rata-rata NA untuk seluruh mata pelajaran 5,5
  • NA diperoleh dari penggabungan NS (Nilai Sekolah) dan Nilai Ujian Nasional (UN) dengan bobot nilai sebagai berikut  :  NA = 0,4 NS + 0,6 UN
  • NS diperoleh dari rata-rata nilai raport (NR) semester 3, 4, 5  dan nilai ujian sekolah (US), dengan bobot sebagai berikut : NS = 0,4 NR + 0,6 US
  • NA (Nilai Akhir) = 40% NS (0,4 NR + 0,6 US) + 60% UN

Pengumuman kelulusan diperkirakan tanggal 14 Mei 2013 pukul 16.00 WIB

KURIKULUM 2013

Kurikulum 2013 Tingkat SMA

Kurikulum 2013 sudah pasti akan dilaksanakan pada Tahun Pelajaran 2013/2014. Sampai sekarang (26 Maret 2013) draft kurikulumnya juga belum ada, apalagi disosialisasikan oleh Tim Pengembang Kurikulum Pusat. Padahal pelaksanaannya tinggal 3 bulan lagi. Bisa dipastikan Kurikulum 2013 ini akan bernasib sama dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau bernasib sama dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Sebagai guru yang menjadi ujung tombak, pasti sudah pasti siap untuk melaksanakannya. Hanya saja Tim Penyusun Kurikulumnya sudah siap belum?? Untuk menghadapai Kurikulum baru diperlukan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan kurikulum tersebut. Selain itu juga persiapan-persiapan materi yang akan diajarkan. Tujuan Kurikulum 2013 ini juga seperti Kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu untuk menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi.

Pelatihan yang direncanakan oleh Menteri Pendidikan pada bulan April sd Mei 2013. Sebenarnya waktu-waktu akhir tahun ini sangat rawan. Hal ini dikarenakan sebagian guru mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti Ujian Kenaikan Kelas atau bahkan menghadapi Ujian Kelulusan. Bagi pejabat yang ada di atas sana mungkin berpikiran simpel, ambilkan guru kelas X bagi SMA dan SMK, atau kelas VII bagi SMP. Itu dapat dimungkinkan bagi sekolah yang memiliki kelas besar. Seandainya sekolahan yang memiliki kelas kecil, selain mengajar kelas X juga mengajar kelas XI, dan XII. Ini pasti akan banyak dijumpai di daerah-daerah dimana dalam satu sekolahan hanya terdapat 1 guru mata pelajaran tersebut.

Itu semua memang sudah menjadi keputusan pemerintah, tetapi masyarakat yang mempercayakan anaknya di sekolah tersebut pasti akan mengkritik bahwa gurunya selalu meninggalkan kelas. Bagaimana solusinya? Apalagi yang akan diklat minimal 5 guru mata pelajaran, termasuk kepala sekolah. Guru-guru yang akan mengikuti pelatihan, untuk tingkat SD terdiri dari guru kelas I dan kelas IV, serta guru Penjasorkes. Jenjang SMP selain kepala sekolah, guru Agama, Penjasorkes, Seni Budaya, IPA (1 guru Biologi/Fisika), IPS (1 guru Sejarah/Geografi/Ekonomi), Bhs. Inggris, Bhs. Indonesia, PPKN, Matematika, dan guru Prakarya. Jenjang SMA selain kepala sekolah, juga guru maple Matematika, Bhs. Indonesia, Sejarah, dan BK.

Agar lebih jelasnya tentang Kurikulum 2013 jenjang SMA, sebagai berikut :

STRUKTUR KURIKULUM SMA terdiri atas:

  • Kelompok MATA PELAJARAN WAJIB  yaitu kelompok A dan kelompok B. Kelompok A adalah mata pelajaran yang memberikan orientasi kompetensi lebih kepada aspek kognitif dan afektif sedangkan kelompok B adalah mata pelajaran yang lebih menekankan pada aspek afektif dan psikomotor.
  • Kelompok MATA PELAJARAN PEMINATAN terdiri atas 3 (tiga) kelompok yaitu Peminatan Matematika dan Sains, Peminatan Sosial, dan Peminatan Bahasa.
  • Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat yaitu mata pelajaran yang dapat diambil oleh peserta didik di luar Kelompok Mata Pelajaran Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya. Misalnya bagi peserta didik yang memilih Kelompok Peminatan Bahasa dapat memilih mata pelajaran dari Kelompok Peminatan Sosial dan/atau Kelompok Peminatan Matematika dan Sains.
  • Mata Pelajaran Pendalaman dimaksudkan untuk mempelajari salah satu mata pelajaran dalam kelompok Peminatan untuk persiapan ke perguruan tinggi.
  • Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan Mata Pelajaran Pendalaman bersifat opsional, dapat dipilih keduanya atau salah satu.

A.    Kelompok MATA PELAJARAN WAJIB

Kelompok Mata Pelajaran Wajib merupakan bagian dari kurikulum pendidikan menengah yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang bangsa, bahasa, sikap sebagai bangsa, dan kemampuan penting untuk mengembangkan logika dan kehidupan pribadi peserta didik, masyarakat dan bangsa, pengenalan lingkungan fisik dan alam, kebugaran jasmani, serta seni budaya daerah dan nasional.

Struktur kelompok mata pelajaran wajib dalam kurikulum SMA adalah sebagai berikut:

Kurikulum Wajib

Kurikulum Wajib

B.     Kelompok MATA PELAJARAN PEMINATAN

Kelompok mata pelajaran peminatan bertujuan untuk:

  1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan minatnya dalam sekelompok mata pelajaran sesuai dengan minat keilmuannya di perguruan tinggi, dan
  2. Mengembangkan minatnya terhadap suatu disiplin ilmu atau keterampilan tertentu.

Struktur mata pelajaran peminatan dalam kurikulum SMA adalah sebagagai berikut:

Kelompok Mapel Peminatan

Kelompok Mapel Peminatan

C.    BEBAN BELAJAR

Dalam struktur kurikulum SMA ada penambahan jam belajar per minggu sebesar 4-6 jam sehingga untuk kelas X bertambah dari 38 jam menjadi 42 jam belajar, dan untuk kelas XI dan XII bertambah dari 38 jam menjadi 44 jam belajar.

Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar adalah 45 menit. Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi siswa aktif belajar. Proses pembelajaran siswa aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk melakukan pengamatan, bertanya, bersosialisasi, dan berkomunikasi. Proses pembelajaran yang dikembangkan guru menghendaki kesabaran dalam menunggu respon peserta didik karena mereka belum terbiasa. Selain itu bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar.

ANGGREK MERAH BERDURI

Cerpen karya : M. Wisnu Jadmika

DI DEPAN TUNGKU TERBUKA

Pagi itu Tini duduk terdiam di depan tungku yang menyala membakar cerek air. Cerek itu sudah sejak tiga puluh menit yang lalu di taruh di atasnya.

“Kurang kerjaan nih si Tini, tungku kok ditungguin”.

Suara berisik dari cerek yang airnya sudah mendidih tidak membuyarkan lamunannya.  Ya, Tini sendirian di dapur, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Saat ini dia membayangkan kebahagiaan yang dibangun bersama Mas Jono telah melayang pergi, bersama kepergian suaminya.

“Superman kali, bisa melayang terbang”.

Kemarin Mas Jono pergi merantau ke kota mencari keberuntungan, karena sejak menikah dengan Tini, Mas Jono masih menganggur di rumah. Kebahagiaan yang dibayangkan dan diidam-idamkan saat pacaran dulu tidak ditemukan dalam kehidupan rumah tangganya. Kebahagiaan itu dia dapatkan hanya satu minggu setelah pernikahan.

“Aduh…apaan tuh? Keramas melulu pasti selama seminggu. Jangan ngiri sama Tini dan Mas Jono, ya?”

Setelah itu mereka harus berpikir bagaimana dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi Tini adalah tipe orang yang suka membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian dan make up seperti yang dibayangkan saat sekolah dulu. Uang hasil sumbangan pernikahan mereka pun telah ludes untuk belanja berbagai kebutuhan rumah tangganya.

“Kata orang tua dulu, gunakan : Aji mumpung”.

Suara burung-burung berkicau di sekitar rumahnya tidak juga membuyarkan lamunan Tini yang sedang galau ditinggal Mas Jono. Rumah yang mereka tempati masih berupa rumah papan, itu pun hasil sumbangan orang tua mereka. Kedua orang tua mereka bukan termasuk golongan orang kaya. Jadi setelah lulus SMA mereka tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Walau sebenarnya Tini ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, kuliah di kebidanan, tetapi itu hanya impian saja. Sunandar, orang tua Tini hanya petani buruh yang tidak memiliki sawah sendiri. Mereka mengerjakan sawah orang lain untuk mendapatkan upah. Hasil upah menggarap sawah hanya cukup untuk makan sekeluarga, itu pun hanya makanan yang sederhana.

“Kasihan si Tini, pingin kuliah saja tidak bisa, coba kalau dulu mau nikah sama diriku, pasti aku kuliahkan di fakultas kedokteran. Ach…ngarang kie!”

Tini

Kalau pakai kerudung cantik juga kie

Orang tua Tini termasuk pekerja keras untuk mendapatkan upah sebagai penyangga hidup keluarga mereka. Dari pagi hari sebelum matahari terbit sampai matahari tenggelam mereka mencari lahan yang membutuhkan tenaganya. Hingga kulit Pak Sunandar kelihatan hitam legam karena gosong terkena terik matahari bercampur dengan keringat yang mengucur membasahi seluruh tubuhnya. Apalagi Pak Sunandar jarang sekali mengenakan pakaian saat bekerja di bawah terik matahari. Setiap harinya Pak Sunandar membawa pulang 50.000 rupiah, sedangkan Bu Parti, istri Pak Sunandar, membawa pulang 35.000 rupiah. Uang sebesar itu tidak mereka dapatkan setiap hari, kadang dua hari sekali, atau bahkan seminggu sekali. Hal itu membuat uang bayaran sekolah Tini sering terlambat saat masih sekolah dulu.

“Pantas saja, dulu itu pernah keluar dari ruang bapak kepala sekolah, Tini menangis-nangis, pasti habis digituin ya? Eh maksudku ditanya kapan bayar uang bulanannya.”

Berbeda dengan kedua orang tuanya yang bekerja keras untuk mendapatkan nafkah keluarga, Tini tidak pernah membantu orang tuanya bekerja. Makanya kulit Tini tergolong putih, apalagi wajah Tini lumayan cantik. Wajah Tini merupakan hasil persilangan antara Pak Sunandar yang behidung mancung dan Bu Parti yang memiliki mata sipit dan bibir yang menarik. Dilihat dari masa mudanya Bu Parti memiliki kulit yang putih juga. Ini terlihat dari kulit Bu Parti yang masih kelihatan putih, walaupun berjemur di tengah teriknya matahari saat bekerja di sawah. Tiap hari Tini hanya bangun pagi, mandi, sarapan yang telah disiapkan oleh ibunya, dan langsung berangkat ke sekolah. Pulang sekolah pun hanya nongkrong di depan tv berukuran kecil 14 inci walaupun warnanya sudah mulai pudar. Begitu kebiasaan setip hari sampai matanya pedih dan tidur pulas sampai esok hari.

“Tini…Tini…ternyata kamu ini anak pemalas to?”

Di sekolah Tini termasuk gadis yang biasa-biasa saja. Maksudnya tidak pintar juga tidak termasuk anak yang bodoh. Yang menonjol dari Tini adalah badannya yang semampai, rambutnya lurus sepundak, kulitnya putih, wajahnya cantik. Diantara teman-teman yang lain dia lebih menonjol, sehingga banyak dijadikan perbincangan para guru.

“Gurunya pingin juga jadi pacarnya Tini kali…..”

Diperbincangkan karena bukan karena kecerdasannya atau kebodohannya, tetapi mengapa pacaran sama Nuno. Laki-laki playboy suka gonta-ganti pacar, anaknya tajir. Tajir karena selain ganteng juga anak orang kaya dibandingkan teman-teman di sekolah tersebut. Banyak gadis-gadis yang mengharapkan menjadi pacarnya. Dengan wajah ganteng di atas Ninja 250 cc, gadis mana yang tidak tertarik. Jangan salah sekolah Tini dan Nuno bukan sekolah elit atau sekolah orang-orang kaya, tetapi sebagian besar orang tuanya hanyalah petani, karyawan pabrik, atau PNS golongan rendah.

“Sssst ………… kalau pingin tahu ini sekolahnya pasti mewah alias mepet sawah, ya?”

Baru pacaran dengan Nuno selama satu bulan tingkah laku Tini sudah berubah. Tini yang tadinya pemalu, atau mungkin orangnya minder karena kondisi orang tuanya tapi kini menjadi gadis yang berbeda jauh dengan yang dulu. Nuno telah memberikan segalanya tentang cinta bagi Tini. Pada awalnya Tini awam tentang cinta, sekarang telah menguasai segala pernak-pernik dan kode-kode cinta. Alamak…Tini, bibirnya tidak lagi seperti dulu lagi sekarang sering kering karena ludah laki-laki. Jalannya yang dulu bak peragawati sekarang seperti atlit lari. Apa yang telah terjadi pada Tini? Tanya sama Nuno dong!

“Waduh blaik ….. jalannya Tini dihubungkan antara masih perawan dan tidak perawan. Peramal kali”.

Bukan Nuno kalau hanya punya pacar Tini saja, dia tengah menggandeng Weni dari sekolah lain. Berangkat atau pulang sekolah Tini sekarang sendirian, tidak lagi dijemput atau diantar oleh Nuno, karena dia telah sibuk dengan gebetan barunya, Weni. Hati Tini dongkol, panas, cemburu, bagai es campur yang diaduk-aduk di dalam hati, walaupun dingin tapi terasa panas. Hari-hari berlalu, Tini sekarang dicuekin sama Nuno. Dengan strategi gerilya, Nuno berhasil menghindar setiap kali akan berpapasan dengan Tini. Bahkan dengan sengaja Tini ingin menemui di kelasnya pun, Nuno berhasil lolos dari sergapan. Gila nggak tuch! Merasa semakin dijauhi oleh Nuno akhirnya Tini tergoda dengan laki-laki yang selalu membuat dia tertawa, dia adalah Jono. Yah, Mas Jono yang sekarang menjadi suaminya.  Mas Jono dapat membuat Tini tertawa, riang, dan bergairah kembali. Dengan gaya khas laki-laki jaman sekarang Mas Jono mulai mengeluarkan jurus gombal seperti yang sering ditontonnya lewat sinetron di tv.

“Mas Jono, aku minta tolong diajari merayu wanita, dong!”

Gaya Mas Jono berpacaran ternyata melupakan kesenangan sesaat cinta Tini pada Nuno. Saat-saat berdua, Mas Jono tidak lepas dari gitar yang pinjam dari Yadi teman satu meja. Dengan suara yang tidak merdu, Mas Jono mulai mengalunkan lagu cinta perlahan-lahan, sekali-kali tangannya tidak memegang gitar, tetapi memegang tangannya Tini. Mas Jono yang sederhana, kadang celananya sakit ditambal tansoplas, bajunya kucel-kucel belum diseterika, rambutnya kadang bau apek karena belum keramas seminggu.

“Eeeiit….apanya yang dicari dari Mas Jono yang over sederhana kalau tidak dibilang dekil”.

Wisnu Jadmika

Menunggu suami yang tidak pulang-pulang

Dengan modal kendaraan yang sudah pada rontok sekrupnya, maksudnya protolan. Emang belinya juga sudah seperti itu, maklum lah menyesuaikan uangnya. Mas Jono suka membuat cerita-cerita lucu, bercerita tentang masa depan yang menyenangkan. Pokoknya Mas Jono dapat menyentuh bagian sensitive dari Tini, hingga klepek-klepek. Pasrah, memasrahkan diri pada rengkuhan Mas Jono yang super agresif.

“Asyiik juga mesti dapat merengkuh gadis cantik dipelukan, ikut dong…”

Begitu asap bau sangit menusuk-nusuk hidungnya, Tini kaget dan tersadar dari lamunannya. Ternyata kayu bakar yang masuk di dalam tungku telah habis, tinggal asap mengepul memenuhi dapur kecil dibelakang rumahnya. Tangan Tini merusaha meraih tutup cerek, dan dibukanya. Lhah …. Airnya tinggal setengah gelas.

“Lumayan masih dapat digunakan membuat teh pahit, untuk membasahi tenggorokan dan perut yang lapar”.

MAS JONO TIDAK PULANG-PULANG

Sehari telah berlalu, seminggu menunggu telah lewat, sebulan sudah Tini menunggu Mas Jono pulang dari merantau. Dibenaknya Mas Jono pulang bawa uang yang banyak. Baju barunya sudah tidak punya lagi, apalagi bedak untuk mempercantik diri. Libstik saja tinggal yang murah beli di warung sebelah, itu saja  dengan ngutang. Masih bagus libstiknya dapat membuat bibir merah merona. Apalagi yang menggunakan Tini, menggoda laki-laki yang doyan janda-janda. Eeit … Tini belum janda lho. Pokoknya bibir Tini kalau menggunakan libstik merah ….. mirip bibirnya Syahrini. Siapa yang tidak ingin merasakannya?

“Lho…itu bibir milik Mas Jono, masa kita mau merasakannya. Haram tau!”

Tono

Mas Tono sewaktu masih kecil

Menanti itu pekerjaan yang menjemukan, satu jam serasa sehari. Sehari terasa satu minggu. Begitu dengan Tini yang sedang rindu menanti kehadiran Mas Jono yang belum pulang-pulang juga. Musim penghujan telah tiba berarti sudah setengah tahun berlalu, tanpa ada khabar dari Mas Jono.

“Jaman modern kasih kabar saja koq bingung to? Pake HP dong!”

Sudah setengah tahun ini HP Mas Jono diberikan kepada Tini. Soalnya Mas Jono kawatir seandainya temannya ada yang mengirimi SMS, istrinya cemburu. Sedangkan Tini sendiri sudah lama HP nya tidak ada kartunya. Sedangkan HP nya Mas Jono rusak gara-gara saat digunakan di WC untuk buka facebook jatuh masuk ke lubang WC. Intinya keduanya tidak dapat berkomunikasi lewat HP. Mas Jono juga tidak kepikiran menulis surat, karena selama ini Mas Jono hanya membantu orang lain jualan bakso di Jakarta. Sudah lima bulan belum dibayar.

“Bosnya pengertian tuch, soalnya kalau diberikan setiap bulan pasti habis untuk beli HP dan pulsa”.

Musim penghujan ini selain disertai angin yang kencang, juga petir yang menyambar-nyambar. Kemarin antene tv di rumah Pak Parto tersambar petir sampai rusak berantakan. Tini yang sedang sendirian berbaring di atas dipan tidak berkasur, hanya beralaskan tikar pandan. Sesekali menutup telinga karena mendengar suara petir yang  sangat keras. Sendirian di rumah yang kosong, tanpa ada radio dan tidak ada tv, apalagi home teater. Ciprat-ciprat air hujan yang menerobos di sela-sela genteng beberapa kali mampir di wajahnya.

“Pasti sambil membayangkan seandainya dulu yang mengawini dirinya Nuno bukan Mas Jono, mesti tidur di kasur yang empuk”.

Siapa bilang bisa tidur di tempat yang empuk? Tini ketinggalan informasi, kalau Nuno sudah dead alias meninggal karena tabrakan dengan truck.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…”

Seminggu kemudian rumah orang tua Nuno ludes terbakar, karena ibunya Nuno bunuh diri dengan cara membakar diri di tempat tidur. Yach, menurut perkiraan tetangga sebelah, dia stres karena anak satu-satunya mati mengenaskan. Sekarang tinggal bapaknya yang tidak waras, menurut orang sudah gila dalam perawatan di RSJ, karena hartanya habis ikut terbakar.

“Na’udzubillahi min dzaliik….”

Kita tinggalkan Nuno dan keluarganya, pikirkan dirimu sendiri. Hidupmu sekarang juga lagi blangsak eeh lagi susah. Seharusnya ingat kepada Allah. Tini memang jauh dari keluarga yang agamis. Waktu di sekolah pun sepertinya tidak pernah ikut jama’ah sholat dzuhur, kecuali sholat jum’at karena terpaksa. Itu saja sering ijin lagi datang bulan alias lagi ‘M’. Daripada digunakan untuk membayangkan Mas Jono, yang sedang berjuang mencari nafkah lebih baik mengingat Allah, sholat malam.

“Sholat wajib saja tidak dilaksanakan, mana sempat sholat malam”.

Penantian Tini yang sia-sia, dan banyak membuang-buang waktu. Seandainya waktu yang luang digunakan untuk berdo’a dan berikhtiar pasti lebih bermanfaat dan membuka jalan kepada nikmat Allah yang banyak.

“Tuch, dengerin! Jangan hanya melamun saja. Bekerja dan berdo’a, pasti Allah akan membukakan pintu rejeki yang tidak terduga. Karena datangnya rejeki itu dapat lewat berbagai jalan”.

Keesokan harinya bersamaan dengan kokok ayam yang bersahut-sahutan, Tini bangun pagi dan berwudlu. Sambil sesekali mengingat-ingat urut-urutannya. Dasar tidak pernah wudlu, wudlu saja bingung. Sehabis wudlu mengingat-ingat tempat meletakkan rukuh yang digunakan maskawis Mas Jono dulu. Diambilnya rukuh yang masih tersegel rapi dalam bungkus maskawin. Allahu akbar. Dalam sholat Tini mengingat-ingat bacaannya, dulu waktu SMA diajari guru agama tentang sholat. Subuh 2 raka’at, dluhur 4 reka’at, ashar 4 raka’at, magrib 3 raka’at, sedangkan isya’ 3 raka’at juga …eeeh 4 raka’at. Begitulah pagi itu Tini sholat subuh dan membersihkan halaman yang banyak daun-daun yang rontok karena hujan tadi malam disertai angin.

“Makanya sholat itu yang rutin, jangan bolong-bolong biar tidak lupa jumlah raka’at dan bacaannya”.

Tini menunggu Mas Jono yang tidak pulang, seperti menunggu Bang Toyib yang tidak pulang-pulang.

SEANDAINYA BUNGA ANGGREK ITU BERDURI

Ternyata Tini hanya berling, kober dan eling melaksanakan sholatnya. Dia lebih asyik ngobrol dengan tetangga sebelah tentang cerita orang-orang di sekitarnya. Dari mulai membicarakan tetangganya yang kaya karena memelihara buto ijo, sampai suami Painem yang selingkuh, tidak luput pula tokoh partai yang ketahuan korupsi dan selingkuh. Pokoknya semua diurusi sampai tuntas dari pagi sampai sore hari. Tini dan tetangganya sekarang sudah menjadi korban “perang pemikiran”. Sesuatu yang tidak boleh dilaksanakan oleh agama, malah dilaksanakan dan sesuatu yang diperintahkan malah ditinggalkan.

“Cie…cie….korban globalisasi atau korban perang pemikiran nich? Ada hubungannya ‘kali. Eeh Tini …nenek-nenek saja pake tablet koq, selain itu senang membicarakan aib orang lain di status facebooknya, apalagi istri muda sepertimu. Tapi yang perlu diingat, semua orang pasti akan mati. Oke? Ingat Nuno, khan?”

Suatu hari Tini ngobrol dengan Asti tetangga depan rumah. Asti sudah punya satu orang anak cewe’ umurnya sekitar 5 tahun. Obrolan Tini dan Asti luar biasa asyiknya, sekali-kali diselingi ketawa-tawa, sekali-kali bisik-bisik kawatir kalau suaminya mendengar.

“Apaan tuch? Koq bisik-bisik!”

Ternyata Asti yang berpenampilan glamour itu membisikkan sesuatu ke telinga Tini tentang laki-laki lain sebagai sumber penghasilannya. Waduuh…selingkuh tuch! Yach, Asti sering pulang agak larut malam, padahal seharusnya jam 4 sudah pulang. Tetangganya tidak ada yang mengira kalau pegawai kecamatan itu punya selingkuhan. Wajar suaminya tidak tahu atau pura-pura tidak tahu ya? Soalnya suaminya hanya ngurusi toko kecil-kecilan di rumah sambil momong anaknya yang baru 5 tahun. Asti selingkuh dengan teman kerjanya. Asyiiik…. Katanya sebagai penyemangat kerja. Masya Allah ……

“Hati-hati lho Mbak Asti, sepandai-pandainya menyimpan terasi akhirnya tercium juga”.

Mendengar cerita Asti yang menyenangkan, karena lebih banyak bumbunya daripada bahan masaknya, Tini mulai berpikiran melayang-layang, sambil mengulur benang sepanjang-panjangnya siapa tahu nanti ada laki-laki kaya kecantol. Begitulah kalau manusia sudah mempunyai niat pasti akan tercapai juga apa yang diinginkannya. Perjumpaan yang tidak direncanakan saat Tini menyapu di jalan depan rumah, tiba-tiba ada mobil Toyota Innova metalik berhenti. Keluarlah laki-laki setengah baya bertanya alamat kepada Tini. Basa-basi yang manis dari Tini membuahkan hasil, setelah alamat ditunjukkan, orang itu ngajak ngobrol sebentar dengan Tini.  Hartawan, orang setengah baya itu ternyata ingin ke tempat Mbah Marinah, yang dikenal sebagai “orang pinter” bagi orang yang percaya lho. Segala macam keinginan dapat terkabulkan katanya.

“He….jangan ikut-ikutan ya? Minta tuch sama Allah!”

Mr. Hartawan meminta Tini untuk menemani ke tempat Mbah Marinah, dengan senang hati Tini menemaninya. Begitu berulang selama tiga kali ke tempat Mbah Marinah selalu minta ditemani Tini. Menurut Mr. Hartawan apa yang diinginkan sudah tercapai, yaitu menjadi Kepala Bidang di suatu instansi pemerintah. Tidak melupakan jasa Tini Mr. Hartawan sering berkunjung ke rumah Tini yang belum berdinding beton dan belum berkeramik. Masih jelek gitu lho. Akhir-akhir ini Mr. Hartawan sudah tidak ke rumah Tini lagi, tetapi Tini lah yang sering pergi, kadang sehari semalam tidak pulang.

“Hayoo…kemana tuch? Jangan-jangan ke hotel! Upss…tidak boleh berprasangka buruk, oke?”.

Mata Mbak Asti ternyata jeli juga melihat gelagat Tini yang suka pulang malam, jangan-jangan saingan nih. Makanya pagi-pagi benar Mbak Asti ke rumah Tini. Kelihatan asyik ngobrol di dalam rumah Tini, kadang terdengar suaranya keras, kadang tidak terdengar, kadang terdengar tertawa. Benar juga ternyata Tini telah mengklaim menjadi simpanan dari Mr. Hartawan, menurut Mbak Asti.

Setahun telah berlalu, Mas Jono belum juga pulang. Menurut khabar berita yang beredar sekarang Mas Jono sudah sukses menjadi juragan bakso. Ceritanya dulu Mas Jono menjadi karyawannya Bos Rendi, singkat cerita bosnya meninggal dunia karena serangan jantung. Sedangkan istri Bos Rendi, Mbak Riyani jatuh cinta dengan Mas Jono.

“Alamak….cerita apa lagi ini, yang membuat cerita juga ikut pusing lho mas, kalau ceritanya begini…”

Mudah membuat KTP di Jakarta, dengan status bujang tidak menjadi kendala bagi Mas Jono, yang penting punya fulus semua jadi mulus. Mas Jono sekarang yang jadi juragan bakso. Hidup mewah di Jakarta dengan didampingi istri cantik dan pandai menyenangkan suami. Gimana tuch caranya? Yang ngerti caranya ya hanya Mbak Riyani, apa dengan gaya kuda lari, salto, koprol, atau nungging.

“Hayooo….ngomong apa itu, tidak boleh ya? Itu rahasia ranjang orang lain”.

Jauh disana, Tini mulai menikmati hasil dari member servis Mr. Hartawan. Perlahan rumah Tini mulai kelihatan indah dan asri, walaupun hanya kecil, berukuran 7 x 12 meter. Itu sich rumah yang cukup besar, rumahku saja hanya berukuran 10 x 17 meter. Penampilan Tini juga mulai berubah, apa yang dibayangkan semasa SMA dulu mulai dinikmati hasilnya. Meskipun cara memperolehnya dengan menyenangkan orang lain yang sudah berkeluarga.

“Ech..yang diservis senang, lha yang satunya apabila tahu suaminya selingkuh, mesti sakit hati”.

Sesuatu yang mustahil bisa jadi menjadi tidak mustahil, sedangkan sesuatu yang tidak mustahil bisa jadi menjadi mustahil. Sesuatu yang tidak mungkin bisa jadi menjadi mungkin, sedangkan sesuatu yang mungkin terjadi menjadi sesuatu yang tidak mungkin.

“Apaan tuch, dalam banget kalau tidak salah artinya orang yang seharusnya mampu berbuat, tetapi malah tidak berbuat, dan orang yang seharusnya tidak berbuat tetapi malah berbuat. Ach …. tambah pusing, ya?”

Bayangkan saja seandainya bunga anggrek itu berduri. Apakah masih tetap indah dan menarik hati, atau sudah menjemukan? Jawabnya tentu ada di dalam hati masing-masing manusia. Sedangkan hati manusia memiliki rasa yang berbeda-beda.

KACANG LUPA SAMA KULITNYA

Lima tahun sudah Mas Jono meninggalkan Tini seorang diri di kampung, tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Apakah kembali kepada orang tuanya, atau hidup sendirian di rumah reot (padahal sekarang sudah bagus, lho). Hati dan pikiran Mas Jono sering kali masih melayang memikirkan Tini, tetapi apa daya raga Mas Jono seperti terpenjara dalam kekuasaan kenikmatan yang dia harapkan.

“Kalau begitu sama saja Mas ….”

TersenyumMas Jono sekarang hidup bermewah-mewah, kemana-mana sekarang menggunakan mobil pribadi Honda CRV. Istrinya Mas Jono, Mbak Riyani menggunakan mobil Honda Jazz. Mas Jono termasuk kelompok KPH. Apa itu KPH? Keluarga Penggemar Honda, tau! Dengan uang yang diperolehnya Mas Jono menjadi lupa diri. Kata hatinya untuk mengobati stres karena kangen sama Tini. Alasan saja Mas Jono ini untuk membenarkan perbuatannya. Mas Jono sekarang ini sudah masuk dalam kalangan OKB, orang kaya baru. Namun Mbak Riyani sudah kaya sejak dulu lho. Semua rumah, tanah, mobil, dan segala macam harta bendanya atas nama Mbak Riyani dan anak satu-satunya dari Boss Rendi; Bimo Rendi Kusumo Putro.

“Mbak Riyani cerdas juga nich….sewaktu-waktu suaminya meninggalkannya semua atas nama dirinya”.

Begitulah Mas Jono mulai pulang malam, pergi ke diskotik lah, ke tempat teman-teman lah, atau ke tempat santai. Kehidupan Mas Jono sudah banyak berubah, dulu masih mau menunggu kasir warung baksonya, atau keliling mengambil uang setoran. Sekarang sudah tidak mau lagi jaga warung, apalagi mengambil setoran. Sudah sering kali Mbak Riyani memperingatkan agar Mas Jono tidak sering keluar, hanya menghambur-hamburkan uang saja. Semua keinginannya harus terpenuhi, dan tidak boleh ada yang melarangnya, batin si Jono. Di kehidupan yang serba mewah, glamour, dan semua serba uang, Mas Jono kecantol dengan artis yang baru masuk rating bawah.

“Baru mulai jadi artis gitu toch? Biasanya terus pingin seperti teman-teman yang sudah senior, terus menghalalkan segala cara agar dapat menikmati seperti mereka. Masya Allah…”

Uang seberapapun yang dibawa Mas Jono selalu ludes, untuk membiayai artis tersebut. Suatu ketika Mas Jono kehabisan uang, tetapi teman wanitanya ngajak belanja ke Singapura. Otak Mas Jono harus diputar beberapa kali agar rontok itu upil-upil di saluran otaknya. Pulang mengendap-endap saat Mbak Riyani lagi shoping, Mas Jono mengambil semua perhiasan yang ada di almari. Dijualnya semua perhiasan yang diambilnya kemudian digunakan untuk bersenang-senang ke Singapura selama 4 hari 4 malam.

“Gila, ngapain Mas Jono sama Mbak Indah ke Singapura empat hari empat malam? Sekamar kah?”

Mbak Riyani sepulang dari shoping terkejut luar biasa, mendapati lemarinya telah terbongkar, baju-baju berserakan di lantai kamar. Mbak Riyani menjerit tatkala perhiasan senilai 735 juta rupiah raib tidak berbekas.

“Dulu di zakati tidak Mbak? Biar aman dan barokah dunia-akherat , punya perhiasan sebanyak itu ya wajib dizakati, Mbak! Ingat ya….besok seandainya punya lagi dizakati lho. Seandainya tidak tahu aku bantu Mbak. Zakatnya emas itu tiap harganya 20 dinar zakatnya 2,5 persen. 1 dinar sama dengan 2.382.000. Nishab zakat perak 100 dirham, 1 dirham = 70.000. Weleh…weleh….jadi tukang ngitung nishab zakat to?”

Mbak Riyani jatuh sock….sakit, masuk rumah sakit. Mas Jono pulang langsung ke rumah sakit, dasar Mas Jono, pura-pura bertanya, kenapa? Sudah tahu kalau perhiasannya dicuri oleh suaminya sendiri masih bertanya. Selama Mbak Riyani di rumah sakit, Mas Jono semakin menjadi-jadi. Berani membawa Mbak Indah ke rumah. Edan, bagaikan kacang lupa sama kulitnya!

Akhirnya Mbak Riyani sehat kembali pulang ke rumah. Setelah mempersiapkan mental dan segala keperluan, termasuk konsultasi ke pengacara, maka Mbak Riyani mengajukan gugatan cerai. Walaupun persidangan berjalan alot akhirnya diputuskan Mbak Riyani dan Mas Jono cerai, semua harta kekayaan, termasuk mobil dan rumah menjadi hak miliki Mbak Riyani, karena Mas Jono telah mengambil seluruh perhiasan. Cerita kegagahan Mas Jono telah habis, sekarang kembali lagi kehabitatnya semula, menjadi orang miskin. Yang ini kacang kembali ke kulitnya, bro….

“Jono…Jono….tertawa saja tidak kelihatan giginya, berbicara saja mengeluarkan air mata. Ada apa? Itulah ganjaran bagi orang-orang yang tidak beriman dan bertakwa kepada Allah swt”.

Mas, Mas….sholat belum? Kalo belum sholat, sholat dulu ntar dilanjutin lagi ngetiknya….

BAU TERASI SI TINI

Mata yang dulu bersinar tajam menusuk hati yang melihatnya, kini mulai redup disaput kabut. Tini sang legenda SMA, kini menjadi buah bibir orang-orang sekampung, lantaran sedang hamil 7 bulan 5 hari.

“Koq tahu lebih 5 hari mas? Hayooo???”

Itu yang cerita Mbak Asti, katanya dari omongannya Tini sendiri, mungkin sekarang sudah lebih 7 hari atau 10 hari. Padahal suaminya-Mas Jono-sudah bertahun-tahun tidak pulang. Tahu-tahu Tini sudah hamil besar, siapa lagi kalau tidak dengan Mr. Hartawan. Mereka telah hidup dalam satu rumah, maksudnya rumah singgah sementara. Setiap kali keduanya butuh penyaluran biologis ya singgah ke rumah singgah.

“Mbulet amat sich….bilang saja kalo pingin he’eh pergi ke hotel, gitu saja koq repot!”

Kini Tini telah memiliki anak perempuan secantik ibunya. Walaupun banyak tetangga kiri kanan yang mencibirnya, dia sudah tidak perduli apa kata tetangga, yang penting dia bisa hidup. Bau terasi itu telah menyeruak ke seluruh dinding-dinding rumah para istri pejabat, apalagi dinding rumah tetangga, sudah jebol, baunya sudah sampai ke ranjang tetangga. Cerita Tini menjadi bunga kasur, sebelum tidur para suami istri pada ngegosip tentang Tini.

“Ingat…ingat…jangan ngegosip, dilarang agama! Kalau kamu beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan mengghibah, menggibah itu membicarakan kejelekan orang lain (fakta), kalau keliru itu namanya fitnah”.

Bau terasi si Tini telah sampai ke telinga Bu Hartati, istri Mr. Hartawan. Wanita mana yang mau dimadu, begitulah kira-kira pembelaan Bu Hartati agar mau menceraikan istri mudanya. Pilih siapa, pokoknya harus memilih, pilih Bu Hartati atau pilih Tini, tidak boleh pilih dua-duanya. Kurang asem yang membuat cerita memaksa memilih! Memilih Bu Hartati kambingnya mati, memilih Tini ayamnya yang mati. Akhirnya dengan berat hati dan sangat sedih Mr. Hartawan tetap memilih Bu Hartati karena dia anak orang kaya, sedangkan Tini anak orang tak punya.

“Inilah gambaran manusia-manusia di zaman sekarang ini, pilihan bukan terletak pada keimanan seseorang, tetapi terletak pada kekayaan seseorang”.

Endingnya Mas Jono pulang langsung kaget melihat Tini sudah punya anak perempuan. Akhirnya keduanya bercerai. Kukut….kukut….sudah malam, tidur dulu.

***

Allahumma ‘aafinii fiibadanii, Allahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allahumma ‘aafinii fii bashorii laailaha illa anta.

“Ya Allah berilah keselamatan pada badanku, pendengaranku, dan penglihatanku. Tiada sesembahan yang benar untuk diibadahi selain Engkau”.

“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’ : 32)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” (QS. An-Nur : 30)

Sesungguhnya ada empat dosa, dua dosa yang terampuni dan dua dosa tidak terampuni.

  1. Seorang terjatuh dalam dosa tanpa sengaja.
  2. Orang yang sengaja melakukannya, kemudian ia menyesal dan bertaubat.
  3. Seorang yang melakukan dosa dan terus melakukannya.
  4. Seorang yang dihias-hiasi amal jeleknya. Seolah-olah amal jeleknya adalah amal kebaikan.

(nomer 1 dan 2 dosa yang terampuni, sedangkan nomer 3 dan 4 dosa yang tidak terampuni)

« Older entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.