ANGGREK MERAH BERDURI

Cerpen karya : M. Wisnu Jadmika

DI DEPAN TUNGKU TERBUKA

Pagi itu Tini duduk terdiam di depan tungku yang menyala membakar cerek air. Cerek itu sudah sejak tiga puluh menit yang lalu di taruh di atasnya.

“Kurang kerjaan nih si Tini, tungku kok ditungguin”.

Suara berisik dari cerek yang airnya sudah mendidih tidak membuyarkan lamunannya.  Ya, Tini sendirian di dapur, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Saat ini dia membayangkan kebahagiaan yang dibangun bersama Mas Jono telah melayang pergi, bersama kepergian suaminya.

“Superman kali, bisa melayang terbang”.

Kemarin Mas Jono pergi merantau ke kota mencari keberuntungan, karena sejak menikah dengan Tini, Mas Jono masih menganggur di rumah. Kebahagiaan yang dibayangkan dan diidam-idamkan saat pacaran dulu tidak ditemukan dalam kehidupan rumah tangganya. Kebahagiaan itu dia dapatkan hanya satu minggu setelah pernikahan.

“Aduh…apaan tuh? Keramas melulu pasti selama seminggu. Jangan ngiri sama Tini dan Mas Jono, ya?”

Setelah itu mereka harus berpikir bagaimana dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi Tini adalah tipe orang yang suka membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian dan make up seperti yang dibayangkan saat sekolah dulu. Uang hasil sumbangan pernikahan mereka pun telah ludes untuk belanja berbagai kebutuhan rumah tangganya.

“Kata orang tua dulu, gunakan : Aji mumpung”.

Suara burung-burung berkicau di sekitar rumahnya tidak juga membuyarkan lamunan Tini yang sedang galau ditinggal Mas Jono. Rumah yang mereka tempati masih berupa rumah papan, itu pun hasil sumbangan orang tua mereka. Kedua orang tua mereka bukan termasuk golongan orang kaya. Jadi setelah lulus SMA mereka tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Walau sebenarnya Tini ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, kuliah di kebidanan, tetapi itu hanya impian saja. Sunandar, orang tua Tini hanya petani buruh yang tidak memiliki sawah sendiri. Mereka mengerjakan sawah orang lain untuk mendapatkan upah. Hasil upah menggarap sawah hanya cukup untuk makan sekeluarga, itu pun hanya makanan yang sederhana.

“Kasihan si Tini, pingin kuliah saja tidak bisa, coba kalau dulu mau nikah sama diriku, pasti aku kuliahkan di fakultas kedokteran. Ach…ngarang kie!”

Tini

Kalau pakai kerudung cantik juga kie

Orang tua Tini termasuk pekerja keras untuk mendapatkan upah sebagai penyangga hidup keluarga mereka. Dari pagi hari sebelum matahari terbit sampai matahari tenggelam mereka mencari lahan yang membutuhkan tenaganya. Hingga kulit Pak Sunandar kelihatan hitam legam karena gosong terkena terik matahari bercampur dengan keringat yang mengucur membasahi seluruh tubuhnya. Apalagi Pak Sunandar jarang sekali mengenakan pakaian saat bekerja di bawah terik matahari. Setiap harinya Pak Sunandar membawa pulang 50.000 rupiah, sedangkan Bu Parti, istri Pak Sunandar, membawa pulang 35.000 rupiah. Uang sebesar itu tidak mereka dapatkan setiap hari, kadang dua hari sekali, atau bahkan seminggu sekali. Hal itu membuat uang bayaran sekolah Tini sering terlambat saat masih sekolah dulu.

“Pantas saja, dulu itu pernah keluar dari ruang bapak kepala sekolah, Tini menangis-nangis, pasti habis digituin ya? Eh maksudku ditanya kapan bayar uang bulanannya.”

Berbeda dengan kedua orang tuanya yang bekerja keras untuk mendapatkan nafkah keluarga, Tini tidak pernah membantu orang tuanya bekerja. Makanya kulit Tini tergolong putih, apalagi wajah Tini lumayan cantik. Wajah Tini merupakan hasil persilangan antara Pak Sunandar yang behidung mancung dan Bu Parti yang memiliki mata sipit dan bibir yang menarik. Dilihat dari masa mudanya Bu Parti memiliki kulit yang putih juga. Ini terlihat dari kulit Bu Parti yang masih kelihatan putih, walaupun berjemur di tengah teriknya matahari saat bekerja di sawah. Tiap hari Tini hanya bangun pagi, mandi, sarapan yang telah disiapkan oleh ibunya, dan langsung berangkat ke sekolah. Pulang sekolah pun hanya nongkrong di depan tv berukuran kecil 14 inci walaupun warnanya sudah mulai pudar. Begitu kebiasaan setip hari sampai matanya pedih dan tidur pulas sampai esok hari.

“Tini…Tini…ternyata kamu ini anak pemalas to?”

Di sekolah Tini termasuk gadis yang biasa-biasa saja. Maksudnya tidak pintar juga tidak termasuk anak yang bodoh. Yang menonjol dari Tini adalah badannya yang semampai, rambutnya lurus sepundak, kulitnya putih, wajahnya cantik. Diantara teman-teman yang lain dia lebih menonjol, sehingga banyak dijadikan perbincangan para guru.

“Gurunya pingin juga jadi pacarnya Tini kali…..”

Diperbincangkan karena bukan karena kecerdasannya atau kebodohannya, tetapi mengapa pacaran sama Nuno. Laki-laki playboy suka gonta-ganti pacar, anaknya tajir. Tajir karena selain ganteng juga anak orang kaya dibandingkan teman-teman di sekolah tersebut. Banyak gadis-gadis yang mengharapkan menjadi pacarnya. Dengan wajah ganteng di atas Ninja 250 cc, gadis mana yang tidak tertarik. Jangan salah sekolah Tini dan Nuno bukan sekolah elit atau sekolah orang-orang kaya, tetapi sebagian besar orang tuanya hanyalah petani, karyawan pabrik, atau PNS golongan rendah.

“Sssst ………… kalau pingin tahu ini sekolahnya pasti mewah alias mepet sawah, ya?”

Baru pacaran dengan Nuno selama satu bulan tingkah laku Tini sudah berubah. Tini yang tadinya pemalu, atau mungkin orangnya minder karena kondisi orang tuanya tapi kini menjadi gadis yang berbeda jauh dengan yang dulu. Nuno telah memberikan segalanya tentang cinta bagi Tini. Pada awalnya Tini awam tentang cinta, sekarang telah menguasai segala pernak-pernik dan kode-kode cinta. Alamak…Tini, bibirnya tidak lagi seperti dulu lagi sekarang sering kering karena ludah laki-laki. Jalannya yang dulu bak peragawati sekarang seperti atlit lari. Apa yang telah terjadi pada Tini? Tanya sama Nuno dong!

“Waduh blaik ….. jalannya Tini dihubungkan antara masih perawan dan tidak perawan. Peramal kali”.

Bukan Nuno kalau hanya punya pacar Tini saja, dia tengah menggandeng Weni dari sekolah lain. Berangkat atau pulang sekolah Tini sekarang sendirian, tidak lagi dijemput atau diantar oleh Nuno, karena dia telah sibuk dengan gebetan barunya, Weni. Hati Tini dongkol, panas, cemburu, bagai es campur yang diaduk-aduk di dalam hati, walaupun dingin tapi terasa panas. Hari-hari berlalu, Tini sekarang dicuekin sama Nuno. Dengan strategi gerilya, Nuno berhasil menghindar setiap kali akan berpapasan dengan Tini. Bahkan dengan sengaja Tini ingin menemui di kelasnya pun, Nuno berhasil lolos dari sergapan. Gila nggak tuch! Merasa semakin dijauhi oleh Nuno akhirnya Tini tergoda dengan laki-laki yang selalu membuat dia tertawa, dia adalah Jono. Yah, Mas Jono yang sekarang menjadi suaminya.  Mas Jono dapat membuat Tini tertawa, riang, dan bergairah kembali. Dengan gaya khas laki-laki jaman sekarang Mas Jono mulai mengeluarkan jurus gombal seperti yang sering ditontonnya lewat sinetron di tv.

“Mas Jono, aku minta tolong diajari merayu wanita, dong!”

Gaya Mas Jono berpacaran ternyata melupakan kesenangan sesaat cinta Tini pada Nuno. Saat-saat berdua, Mas Jono tidak lepas dari gitar yang pinjam dari Yadi teman satu meja. Dengan suara yang tidak merdu, Mas Jono mulai mengalunkan lagu cinta perlahan-lahan, sekali-kali tangannya tidak memegang gitar, tetapi memegang tangannya Tini. Mas Jono yang sederhana, kadang celananya sakit ditambal tansoplas, bajunya kucel-kucel belum diseterika, rambutnya kadang bau apek karena belum keramas seminggu.

“Eeeiit….apanya yang dicari dari Mas Jono yang over sederhana kalau tidak dibilang dekil”.

Wisnu Jadmika

Menunggu suami yang tidak pulang-pulang

Dengan modal kendaraan yang sudah pada rontok sekrupnya, maksudnya protolan. Emang belinya juga sudah seperti itu, maklum lah menyesuaikan uangnya. Mas Jono suka membuat cerita-cerita lucu, bercerita tentang masa depan yang menyenangkan. Pokoknya Mas Jono dapat menyentuh bagian sensitive dari Tini, hingga klepek-klepek. Pasrah, memasrahkan diri pada rengkuhan Mas Jono yang super agresif.

“Asyiik juga mesti dapat merengkuh gadis cantik dipelukan, ikut dong…”

Begitu asap bau sangit menusuk-nusuk hidungnya, Tini kaget dan tersadar dari lamunannya. Ternyata kayu bakar yang masuk di dalam tungku telah habis, tinggal asap mengepul memenuhi dapur kecil dibelakang rumahnya. Tangan Tini merusaha meraih tutup cerek, dan dibukanya. Lhah …. Airnya tinggal setengah gelas.

“Lumayan masih dapat digunakan membuat teh pahit, untuk membasahi tenggorokan dan perut yang lapar”.

MAS JONO TIDAK PULANG-PULANG

Sehari telah berlalu, seminggu menunggu telah lewat, sebulan sudah Tini menunggu Mas Jono pulang dari merantau. Dibenaknya Mas Jono pulang bawa uang yang banyak. Baju barunya sudah tidak punya lagi, apalagi bedak untuk mempercantik diri. Libstik saja tinggal yang murah beli di warung sebelah, itu saja  dengan ngutang. Masih bagus libstiknya dapat membuat bibir merah merona. Apalagi yang menggunakan Tini, menggoda laki-laki yang doyan janda-janda. Eeit … Tini belum janda lho. Pokoknya bibir Tini kalau menggunakan libstik merah ….. mirip bibirnya Syahrini. Siapa yang tidak ingin merasakannya?

“Lho…itu bibir milik Mas Jono, masa kita mau merasakannya. Haram tau!”

Tono

Mas Tono sewaktu masih kecil

Menanti itu pekerjaan yang menjemukan, satu jam serasa sehari. Sehari terasa satu minggu. Begitu dengan Tini yang sedang rindu menanti kehadiran Mas Jono yang belum pulang-pulang juga. Musim penghujan telah tiba berarti sudah setengah tahun berlalu, tanpa ada khabar dari Mas Jono.

“Jaman modern kasih kabar saja koq bingung to? Pake HP dong!”

Sudah setengah tahun ini HP Mas Jono diberikan kepada Tini. Soalnya Mas Jono kawatir seandainya temannya ada yang mengirimi SMS, istrinya cemburu. Sedangkan Tini sendiri sudah lama HP nya tidak ada kartunya. Sedangkan HP nya Mas Jono rusak gara-gara saat digunakan di WC untuk buka facebook jatuh masuk ke lubang WC. Intinya keduanya tidak dapat berkomunikasi lewat HP. Mas Jono juga tidak kepikiran menulis surat, karena selama ini Mas Jono hanya membantu orang lain jualan bakso di Jakarta. Sudah lima bulan belum dibayar.

“Bosnya pengertian tuch, soalnya kalau diberikan setiap bulan pasti habis untuk beli HP dan pulsa”.

Musim penghujan ini selain disertai angin yang kencang, juga petir yang menyambar-nyambar. Kemarin antene tv di rumah Pak Parto tersambar petir sampai rusak berantakan. Tini yang sedang sendirian berbaring di atas dipan tidak berkasur, hanya beralaskan tikar pandan. Sesekali menutup telinga karena mendengar suara petir yang  sangat keras. Sendirian di rumah yang kosong, tanpa ada radio dan tidak ada tv, apalagi home teater. Ciprat-ciprat air hujan yang menerobos di sela-sela genteng beberapa kali mampir di wajahnya.

“Pasti sambil membayangkan seandainya dulu yang mengawini dirinya Nuno bukan Mas Jono, mesti tidur di kasur yang empuk”.

Siapa bilang bisa tidur di tempat yang empuk? Tini ketinggalan informasi, kalau Nuno sudah dead alias meninggal karena tabrakan dengan truck.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…”

Seminggu kemudian rumah orang tua Nuno ludes terbakar, karena ibunya Nuno bunuh diri dengan cara membakar diri di tempat tidur. Yach, menurut perkiraan tetangga sebelah, dia stres karena anak satu-satunya mati mengenaskan. Sekarang tinggal bapaknya yang tidak waras, menurut orang sudah gila dalam perawatan di RSJ, karena hartanya habis ikut terbakar.

“Na’udzubillahi min dzaliik….”

Kita tinggalkan Nuno dan keluarganya, pikirkan dirimu sendiri. Hidupmu sekarang juga lagi blangsak eeh lagi susah. Seharusnya ingat kepada Allah. Tini memang jauh dari keluarga yang agamis. Waktu di sekolah pun sepertinya tidak pernah ikut jama’ah sholat dzuhur, kecuali sholat jum’at karena terpaksa. Itu saja sering ijin lagi datang bulan alias lagi ‘M’. Daripada digunakan untuk membayangkan Mas Jono, yang sedang berjuang mencari nafkah lebih baik mengingat Allah, sholat malam.

“Sholat wajib saja tidak dilaksanakan, mana sempat sholat malam”.

Penantian Tini yang sia-sia, dan banyak membuang-buang waktu. Seandainya waktu yang luang digunakan untuk berdo’a dan berikhtiar pasti lebih bermanfaat dan membuka jalan kepada nikmat Allah yang banyak.

“Tuch, dengerin! Jangan hanya melamun saja. Bekerja dan berdo’a, pasti Allah akan membukakan pintu rejeki yang tidak terduga. Karena datangnya rejeki itu dapat lewat berbagai jalan”.

Keesokan harinya bersamaan dengan kokok ayam yang bersahut-sahutan, Tini bangun pagi dan berwudlu. Sambil sesekali mengingat-ingat urut-urutannya. Dasar tidak pernah wudlu, wudlu saja bingung. Sehabis wudlu mengingat-ingat tempat meletakkan rukuh yang digunakan maskawis Mas Jono dulu. Diambilnya rukuh yang masih tersegel rapi dalam bungkus maskawin. Allahu akbar. Dalam sholat Tini mengingat-ingat bacaannya, dulu waktu SMA diajari guru agama tentang sholat. Subuh 2 raka’at, dluhur 4 reka’at, ashar 4 raka’at, magrib 3 raka’at, sedangkan isya’ 3 raka’at juga …eeeh 4 raka’at. Begitulah pagi itu Tini sholat subuh dan membersihkan halaman yang banyak daun-daun yang rontok karena hujan tadi malam disertai angin.

“Makanya sholat itu yang rutin, jangan bolong-bolong biar tidak lupa jumlah raka’at dan bacaannya”.

Tini menunggu Mas Jono yang tidak pulang, seperti menunggu Bang Toyib yang tidak pulang-pulang.

SEANDAINYA BUNGA ANGGREK ITU BERDURI

Ternyata Tini hanya berling, kober dan eling melaksanakan sholatnya. Dia lebih asyik ngobrol dengan tetangga sebelah tentang cerita orang-orang di sekitarnya. Dari mulai membicarakan tetangganya yang kaya karena memelihara buto ijo, sampai suami Painem yang selingkuh, tidak luput pula tokoh partai yang ketahuan korupsi dan selingkuh. Pokoknya semua diurusi sampai tuntas dari pagi sampai sore hari. Tini dan tetangganya sekarang sudah menjadi korban “perang pemikiran”. Sesuatu yang tidak boleh dilaksanakan oleh agama, malah dilaksanakan dan sesuatu yang diperintahkan malah ditinggalkan.

“Cie…cie….korban globalisasi atau korban perang pemikiran nich? Ada hubungannya ‘kali. Eeh Tini …nenek-nenek saja pake tablet koq, selain itu senang membicarakan aib orang lain di status facebooknya, apalagi istri muda sepertimu. Tapi yang perlu diingat, semua orang pasti akan mati. Oke? Ingat Nuno, khan?”

Suatu hari Tini ngobrol dengan Asti tetangga depan rumah. Asti sudah punya satu orang anak cewe’ umurnya sekitar 5 tahun. Obrolan Tini dan Asti luar biasa asyiknya, sekali-kali diselingi ketawa-tawa, sekali-kali bisik-bisik kawatir kalau suaminya mendengar.

“Apaan tuch? Koq bisik-bisik!”

Ternyata Asti yang berpenampilan glamour itu membisikkan sesuatu ke telinga Tini tentang laki-laki lain sebagai sumber penghasilannya. Waduuh…selingkuh tuch! Yach, Asti sering pulang agak larut malam, padahal seharusnya jam 4 sudah pulang. Tetangganya tidak ada yang mengira kalau pegawai kecamatan itu punya selingkuhan. Wajar suaminya tidak tahu atau pura-pura tidak tahu ya? Soalnya suaminya hanya ngurusi toko kecil-kecilan di rumah sambil momong anaknya yang baru 5 tahun. Asti selingkuh dengan teman kerjanya. Asyiiik…. Katanya sebagai penyemangat kerja. Masya Allah ……

“Hati-hati lho Mbak Asti, sepandai-pandainya menyimpan terasi akhirnya tercium juga”.

Mendengar cerita Asti yang menyenangkan, karena lebih banyak bumbunya daripada bahan masaknya, Tini mulai berpikiran melayang-layang, sambil mengulur benang sepanjang-panjangnya siapa tahu nanti ada laki-laki kaya kecantol. Begitulah kalau manusia sudah mempunyai niat pasti akan tercapai juga apa yang diinginkannya. Perjumpaan yang tidak direncanakan saat Tini menyapu di jalan depan rumah, tiba-tiba ada mobil Toyota Innova metalik berhenti. Keluarlah laki-laki setengah baya bertanya alamat kepada Tini. Basa-basi yang manis dari Tini membuahkan hasil, setelah alamat ditunjukkan, orang itu ngajak ngobrol sebentar dengan Tini.  Hartawan, orang setengah baya itu ternyata ingin ke tempat Mbah Marinah, yang dikenal sebagai “orang pinter” bagi orang yang percaya lho. Segala macam keinginan dapat terkabulkan katanya.

“He….jangan ikut-ikutan ya? Minta tuch sama Allah!”

Mr. Hartawan meminta Tini untuk menemani ke tempat Mbah Marinah, dengan senang hati Tini menemaninya. Begitu berulang selama tiga kali ke tempat Mbah Marinah selalu minta ditemani Tini. Menurut Mr. Hartawan apa yang diinginkan sudah tercapai, yaitu menjadi Kepala Bidang di suatu instansi pemerintah. Tidak melupakan jasa Tini Mr. Hartawan sering berkunjung ke rumah Tini yang belum berdinding beton dan belum berkeramik. Masih jelek gitu lho. Akhir-akhir ini Mr. Hartawan sudah tidak ke rumah Tini lagi, tetapi Tini lah yang sering pergi, kadang sehari semalam tidak pulang.

“Hayoo…kemana tuch? Jangan-jangan ke hotel! Upss…tidak boleh berprasangka buruk, oke?”.

Mata Mbak Asti ternyata jeli juga melihat gelagat Tini yang suka pulang malam, jangan-jangan saingan nih. Makanya pagi-pagi benar Mbak Asti ke rumah Tini. Kelihatan asyik ngobrol di dalam rumah Tini, kadang terdengar suaranya keras, kadang tidak terdengar, kadang terdengar tertawa. Benar juga ternyata Tini telah mengklaim menjadi simpanan dari Mr. Hartawan, menurut Mbak Asti.

Setahun telah berlalu, Mas Jono belum juga pulang. Menurut khabar berita yang beredar sekarang Mas Jono sudah sukses menjadi juragan bakso. Ceritanya dulu Mas Jono menjadi karyawannya Bos Rendi, singkat cerita bosnya meninggal dunia karena serangan jantung. Sedangkan istri Bos Rendi, Mbak Riyani jatuh cinta dengan Mas Jono.

“Alamak….cerita apa lagi ini, yang membuat cerita juga ikut pusing lho mas, kalau ceritanya begini…”

Mudah membuat KTP di Jakarta, dengan status bujang tidak menjadi kendala bagi Mas Jono, yang penting punya fulus semua jadi mulus. Mas Jono sekarang yang jadi juragan bakso. Hidup mewah di Jakarta dengan didampingi istri cantik dan pandai menyenangkan suami. Gimana tuch caranya? Yang ngerti caranya ya hanya Mbak Riyani, apa dengan gaya kuda lari, salto, koprol, atau nungging.

“Hayooo….ngomong apa itu, tidak boleh ya? Itu rahasia ranjang orang lain”.

Jauh disana, Tini mulai menikmati hasil dari member servis Mr. Hartawan. Perlahan rumah Tini mulai kelihatan indah dan asri, walaupun hanya kecil, berukuran 7 x 12 meter. Itu sich rumah yang cukup besar, rumahku saja hanya berukuran 10 x 17 meter. Penampilan Tini juga mulai berubah, apa yang dibayangkan semasa SMA dulu mulai dinikmati hasilnya. Meskipun cara memperolehnya dengan menyenangkan orang lain yang sudah berkeluarga.

“Ech..yang diservis senang, lha yang satunya apabila tahu suaminya selingkuh, mesti sakit hati”.

Sesuatu yang mustahil bisa jadi menjadi tidak mustahil, sedangkan sesuatu yang tidak mustahil bisa jadi menjadi mustahil. Sesuatu yang tidak mungkin bisa jadi menjadi mungkin, sedangkan sesuatu yang mungkin terjadi menjadi sesuatu yang tidak mungkin.

“Apaan tuch, dalam banget kalau tidak salah artinya orang yang seharusnya mampu berbuat, tetapi malah tidak berbuat, dan orang yang seharusnya tidak berbuat tetapi malah berbuat. Ach …. tambah pusing, ya?”

Bayangkan saja seandainya bunga anggrek itu berduri. Apakah masih tetap indah dan menarik hati, atau sudah menjemukan? Jawabnya tentu ada di dalam hati masing-masing manusia. Sedangkan hati manusia memiliki rasa yang berbeda-beda.

KACANG LUPA SAMA KULITNYA

Lima tahun sudah Mas Jono meninggalkan Tini seorang diri di kampung, tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Apakah kembali kepada orang tuanya, atau hidup sendirian di rumah reot (padahal sekarang sudah bagus, lho). Hati dan pikiran Mas Jono sering kali masih melayang memikirkan Tini, tetapi apa daya raga Mas Jono seperti terpenjara dalam kekuasaan kenikmatan yang dia harapkan.

“Kalau begitu sama saja Mas ….”

TersenyumMas Jono sekarang hidup bermewah-mewah, kemana-mana sekarang menggunakan mobil pribadi Honda CRV. Istrinya Mas Jono, Mbak Riyani menggunakan mobil Honda Jazz. Mas Jono termasuk kelompok KPH. Apa itu KPH? Keluarga Penggemar Honda, tau! Dengan uang yang diperolehnya Mas Jono menjadi lupa diri. Kata hatinya untuk mengobati stres karena kangen sama Tini. Alasan saja Mas Jono ini untuk membenarkan perbuatannya. Mas Jono sekarang ini sudah masuk dalam kalangan OKB, orang kaya baru. Namun Mbak Riyani sudah kaya sejak dulu lho. Semua rumah, tanah, mobil, dan segala macam harta bendanya atas nama Mbak Riyani dan anak satu-satunya dari Boss Rendi; Bimo Rendi Kusumo Putro.

“Mbak Riyani cerdas juga nich….sewaktu-waktu suaminya meninggalkannya semua atas nama dirinya”.

Begitulah Mas Jono mulai pulang malam, pergi ke diskotik lah, ke tempat teman-teman lah, atau ke tempat santai. Kehidupan Mas Jono sudah banyak berubah, dulu masih mau menunggu kasir warung baksonya, atau keliling mengambil uang setoran. Sekarang sudah tidak mau lagi jaga warung, apalagi mengambil setoran. Sudah sering kali Mbak Riyani memperingatkan agar Mas Jono tidak sering keluar, hanya menghambur-hamburkan uang saja. Semua keinginannya harus terpenuhi, dan tidak boleh ada yang melarangnya, batin si Jono. Di kehidupan yang serba mewah, glamour, dan semua serba uang, Mas Jono kecantol dengan artis yang baru masuk rating bawah.

“Baru mulai jadi artis gitu toch? Biasanya terus pingin seperti teman-teman yang sudah senior, terus menghalalkan segala cara agar dapat menikmati seperti mereka. Masya Allah…”

Uang seberapapun yang dibawa Mas Jono selalu ludes, untuk membiayai artis tersebut. Suatu ketika Mas Jono kehabisan uang, tetapi teman wanitanya ngajak belanja ke Singapura. Otak Mas Jono harus diputar beberapa kali agar rontok itu upil-upil di saluran otaknya. Pulang mengendap-endap saat Mbak Riyani lagi shoping, Mas Jono mengambil semua perhiasan yang ada di almari. Dijualnya semua perhiasan yang diambilnya kemudian digunakan untuk bersenang-senang ke Singapura selama 4 hari 4 malam.

“Gila, ngapain Mas Jono sama Mbak Indah ke Singapura empat hari empat malam? Sekamar kah?”

Mbak Riyani sepulang dari shoping terkejut luar biasa, mendapati lemarinya telah terbongkar, baju-baju berserakan di lantai kamar. Mbak Riyani menjerit tatkala perhiasan senilai 735 juta rupiah raib tidak berbekas.

“Dulu di zakati tidak Mbak? Biar aman dan barokah dunia-akherat , punya perhiasan sebanyak itu ya wajib dizakati, Mbak! Ingat ya….besok seandainya punya lagi dizakati lho. Seandainya tidak tahu aku bantu Mbak. Zakatnya emas itu tiap harganya 20 dinar zakatnya 2,5 persen. 1 dinar sama dengan 2.382.000. Nishab zakat perak 100 dirham, 1 dirham = 70.000. Weleh…weleh….jadi tukang ngitung nishab zakat to?”

Mbak Riyani jatuh sock….sakit, masuk rumah sakit. Mas Jono pulang langsung ke rumah sakit, dasar Mas Jono, pura-pura bertanya, kenapa? Sudah tahu kalau perhiasannya dicuri oleh suaminya sendiri masih bertanya. Selama Mbak Riyani di rumah sakit, Mas Jono semakin menjadi-jadi. Berani membawa Mbak Indah ke rumah. Edan, bagaikan kacang lupa sama kulitnya!

Akhirnya Mbak Riyani sehat kembali pulang ke rumah. Setelah mempersiapkan mental dan segala keperluan, termasuk konsultasi ke pengacara, maka Mbak Riyani mengajukan gugatan cerai. Walaupun persidangan berjalan alot akhirnya diputuskan Mbak Riyani dan Mas Jono cerai, semua harta kekayaan, termasuk mobil dan rumah menjadi hak miliki Mbak Riyani, karena Mas Jono telah mengambil seluruh perhiasan. Cerita kegagahan Mas Jono telah habis, sekarang kembali lagi kehabitatnya semula, menjadi orang miskin. Yang ini kacang kembali ke kulitnya, bro….

“Jono…Jono….tertawa saja tidak kelihatan giginya, berbicara saja mengeluarkan air mata. Ada apa? Itulah ganjaran bagi orang-orang yang tidak beriman dan bertakwa kepada Allah swt”.

Mas, Mas….sholat belum? Kalo belum sholat, sholat dulu ntar dilanjutin lagi ngetiknya….

BAU TERASI SI TINI

Mata yang dulu bersinar tajam menusuk hati yang melihatnya, kini mulai redup disaput kabut. Tini sang legenda SMA, kini menjadi buah bibir orang-orang sekampung, lantaran sedang hamil 7 bulan 5 hari.

“Koq tahu lebih 5 hari mas? Hayooo???”

Itu yang cerita Mbak Asti, katanya dari omongannya Tini sendiri, mungkin sekarang sudah lebih 7 hari atau 10 hari. Padahal suaminya-Mas Jono-sudah bertahun-tahun tidak pulang. Tahu-tahu Tini sudah hamil besar, siapa lagi kalau tidak dengan Mr. Hartawan. Mereka telah hidup dalam satu rumah, maksudnya rumah singgah sementara. Setiap kali keduanya butuh penyaluran biologis ya singgah ke rumah singgah.

“Mbulet amat sich….bilang saja kalo pingin he’eh pergi ke hotel, gitu saja koq repot!”

Kini Tini telah memiliki anak perempuan secantik ibunya. Walaupun banyak tetangga kiri kanan yang mencibirnya, dia sudah tidak perduli apa kata tetangga, yang penting dia bisa hidup. Bau terasi itu telah menyeruak ke seluruh dinding-dinding rumah para istri pejabat, apalagi dinding rumah tetangga, sudah jebol, baunya sudah sampai ke ranjang tetangga. Cerita Tini menjadi bunga kasur, sebelum tidur para suami istri pada ngegosip tentang Tini.

“Ingat…ingat…jangan ngegosip, dilarang agama! Kalau kamu beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan mengghibah, menggibah itu membicarakan kejelekan orang lain (fakta), kalau keliru itu namanya fitnah”.

Bau terasi si Tini telah sampai ke telinga Bu Hartati, istri Mr. Hartawan. Wanita mana yang mau dimadu, begitulah kira-kira pembelaan Bu Hartati agar mau menceraikan istri mudanya. Pilih siapa, pokoknya harus memilih, pilih Bu Hartati atau pilih Tini, tidak boleh pilih dua-duanya. Kurang asem yang membuat cerita memaksa memilih! Memilih Bu Hartati kambingnya mati, memilih Tini ayamnya yang mati. Akhirnya dengan berat hati dan sangat sedih Mr. Hartawan tetap memilih Bu Hartati karena dia anak orang kaya, sedangkan Tini anak orang tak punya.

“Inilah gambaran manusia-manusia di zaman sekarang ini, pilihan bukan terletak pada keimanan seseorang, tetapi terletak pada kekayaan seseorang”.

Endingnya Mas Jono pulang langsung kaget melihat Tini sudah punya anak perempuan. Akhirnya keduanya bercerai. Kukut….kukut….sudah malam, tidur dulu.

***

Allahumma ‘aafinii fiibadanii, Allahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allahumma ‘aafinii fii bashorii laailaha illa anta.

“Ya Allah berilah keselamatan pada badanku, pendengaranku, dan penglihatanku. Tiada sesembahan yang benar untuk diibadahi selain Engkau”.

“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’ : 32)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” (QS. An-Nur : 30)

Sesungguhnya ada empat dosa, dua dosa yang terampuni dan dua dosa tidak terampuni.

  1. Seorang terjatuh dalam dosa tanpa sengaja.
  2. Orang yang sengaja melakukannya, kemudian ia menyesal dan bertaubat.
  3. Seorang yang melakukan dosa dan terus melakukannya.
  4. Seorang yang dihias-hiasi amal jeleknya. Seolah-olah amal jeleknya adalah amal kebaikan.

(nomer 1 dan 2 dosa yang terampuni, sedangkan nomer 3 dan 4 dosa yang tidak terampuni)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: