REMBULAN DI UJUNG CEMARA

M. WISNU JADMIKA :

MAWAR PUTIH

Ketika kudatang dengan sehelai mawar putih
kau sambut dengan jemarimu yang menari
saat kau hirup harumnya
kau tambah jelita
tersenyum lepas…….

Ketika kudatang dengan sehelai mawar putih
jemari kita bersatu dalam derasnya hujan
mataku berpijar menatapmu
saat danau itu tanpa angsa
dan tanpa perdu…..
kau tetap tersenyum
dan kau tambah jelita
bersamaku memadu kasih.

2003

————————————

TANDA CINTA

Angin membawaku pergi mencari
kemana anganmu melayang
bidadariku lemparkan selendang jinggamu
sebagai isyarat kemana anganmu melayang
sebagai tanda cintamu padaku.

2003

————————————

AKU KEMBALI

Di sini aku janji
pada mentari yang bersinar lagi
aku akan kembali
dengan seribu mawar di hati
tatkala kampung apung jadi saksi
kala jemariku kuterjemahkan dijemarimu.

3 Desember 2003

————————————

GELORA HATI

Tatapan matamu tajam menusuk kalbu
tergores dibilik hatiku
luka menganga takkan pernah hilang
saat jemarimu menari di pipi
gelora hati bagai bara api
membakar jemari dan wajahmu
yang tertunduk malu
saat waktu tak bersahabat padaku
saat gelora dihatimu seperti amuk Rr. Jonggrang
pada Bandung Bandawasa
saat terpaku di bawah pohon jambu.

5 Desember 2003

————————————

KERINDUAN

Kabut terseret angin cinta
kabut tak pernah berontak
tatkala angin tawarkan kerinduan
kala kabut nikmati belaian angin
entah tajam menggores luka
atau halus menebar madu.

Desember 2003
————————————

MEMBACA BIBIRMU

Membaca bibirmu
mengurai kata dijemari
menggelepar menggelora di dada
mencabik genderang dijantungku.

Membaca bibirmu
menerawang lorong dimatamu
berkelap-kelip bintang di sana
kapankah bintangku redup?

Membaca bibirmu
bukannya penuh rayu
saat menyulam helai rambutmu.

Desember 2003
————————————

API TLAH KAU NYALAKAN

Api telah kau nyalakan
dupa kecil terbakar sudah
asap dupa menyengat aroma
setan-setan gerah kepanasan
terbelalak…………..

Api telah kau nyalakan
takkan dapat dipadamkan.

Desember 2003

————————————-
REMBULAN BERSINAR
M. Wisnu Jadmika

Hujan gerimis dingin terasa
asap kabut menyusup di hati
mataharipun tetap sembunyi
kudengar suara gerimis
kudengar suaramu memanggilku
kubayangkan engkau berjalan
memulai perjalanan
kapankah kakimu berhenti
menapak dengan mantap di bumi

Kabut telah pergi
mentari tenggelam
rembulan bersinar.
Desember 2003
———————————-

AKU BUKAN JENGHIS KHAN

Aku bukan Jenghis Khan
pemenggal kepala orang
aku hanya seonggok batu
hanya diam dan membisu

Aku bukan Jenghis Khan
pendendam pada orang
aku hanya daun-daun di pohon
tergoyah karna angin

Aku bukan Jenghis Khan
perkasa tanpa cinta
aku hanya lautan
terombang ambing karna badai

Aku bukan Jenghis Khan
aku hanya anak kecil
pembawa obor di hati

Desember 2003

———————————–

AKU TETAP MENANTI
Buat : Adindaku

Taman ini bagai persemaian sepi
gerimis tanda pasti
walau rindu itu ilusi
tapi tlah terpatri dalam janji
getaran hati siapa dapat ingkari
walau air mata menetes di pipi
aku tetap menanti
di taman ini jadi saksi
bersatunya dua hati
yang lama telah sepi

Desember 2003
———————————–

DERMAGA HATI

Hatiku bertabur bintang
tatkala kekasihku mengikat janji
dengan pujaan hati
walau gemuruh di hati tak terperi
aku bukanlah kapal
tapi hanya dermaga hati orang sepi.

Desember 2003

————————————

AKU DIAM

Bagai batu aku diam
tak bisa berbuat apa-apa
kecuali diam
dan bertanya
mengapa hujan menimpaku?
batu tidak tahu
arah hujan kemana
padahal batu tidak berbuat
ngilu, pedih, dan bertanya-tanya
tidak ingin hujan menimpa
tapi kenapa tertimpa juga
dari siapakah awan tahu
akan kisah yang tersembunyi.

Desember 2003

————————————

CINTA MENGGODA

Dan ketika akal tertawa
saksikan cinta dengan pengorbanan
cinta tancapkan kukukukunya di pusar bumi
kokoh tegak berdiri
takkan tergoyahkan
walau akal selalu menggoda
cinta takkan tergoda
cinta menggoda
akalpun tergoda
saran tak terdengar
bagai karang diterjang ombak
diam tak bergerak

Desember 2003

————————————

INGIN KULUPAKAN

Ingin kulupakan cinta
ingin kubuang jauh-jauh cinta
ingin kubunuh cinta
ingin kukubur cinta
tapi teringat juga
dia dipelupuk mata

Hidup bersemi dan berkembang di hati.

Desember 2003
————————————

KABUT API

Belum juga kunyalakan lilin
pertanda pesta kan mulai
pesta pada bulan purnama
purnama di hati
hutan terbakar menjalar
pohonku yang menjulang
daunku yang rimbun
akarku yang kokoh
terselubung kabut api
api dari hutanku
yang terbakar karena lilinku.

Desember 2003
————————————

HATIKU PASRAH

Kusibak helai rambutmu
yang jatuh di bulanku
wajah anggun nan cantik
tersembunyi di sana
pesona keindahan tiada peri
hatiku pasrah terpana
ombak deras di dada
Tak kuasa menahan mau
membelai dan merayumu
bulanku kucium dirimu
tanda cintaku padamu
bukan hanya gelora nafsu
tapi rindu yang beku di hatiku

Desember 2003
———————————–

TAK BISA PERGI

Awan kadang datang menyelimuti bumi
tak bisa kita pergi dan berlari
hanya untuk meninggalkan awan pekat
karena kita telah menyalakan api
pasti asap akan memenuhi bumi

Desember 2003
————————————

KUTANGGALKAN MANDIKU

Bara api di matamu
membakar bekunya hatiku
hingga kutak kuasa menahan tatapanmu
bagai pisau merobek hatiku
terasa sampai puser bumi
saat kutinggalkan pertemuan denganmu
kutanggalkan mandiku
agar terbawa sampai tidur panjangku

11 Desember 2003

————————————

DIPANGKUANMU

Bukit-bukit nan jauh di sana
saksikan kita bercanda berdua
di kampung apung di atas dermaga
angin semilir tak membuat dingin
panas membara tubuh ini
ikan mas menggoda kita
sendirian mencari cinta
hamparan dermaga menggodamu
seandainya sayap-sayap di sini
kauarungi dari ujung sini keujung sana
seandainya kau terbang
tinggalkan aku sendiri di sini
sepi terasa menikmati
pesona alam sendiri
tak ada candamu
tak ada tawamu
tak ada jemari bersatu
tak ada ciumku di sini
terbangmu hanya khayalan
kita tetap berdua disini
bersatu dalam riak air dermaga
dipangkuanmu aku terjatuh

11 Desember 2003
————————————

TALI CINTA

Seutas tali yang mengikatku
takkan mampu membelenggu
takkan sekuat tali cintamu
yang membelenggu hatiku
hingga kutakkuasa
melepas diri
seperti mangsa masuk jaring laba-laba.

Desember 2003
————————————

BUKAN KAMAJAYA

Aku bukan Kamajaya
yang mengajari bidadari bercinta
aku hanya batu
terbawa arus alunan riak suangai
terbuai semilir angin

Aku bukan dewa
seperti bulan bersinar terang
aku hanya waktu
tak perduli siang atau malam
bergerak sesuai waktu

Aku bukan matahari
membuka cakrawala tiap pagi
aku hanya pencuri
mencuri perasaan hati.

Desember 2003
———————————–

PANAH IMAJI

Kutelah mengenal berpuluh panah imaji
melesat lepas tak terkendali
menembus relung relung hati
merobek bilik bilik birahi

Hanya satu kurasakan sampai dasar hati
itulah sang pencuri yang akan mati
tertembus panah imaji
tergelepar karena ulah sendiri
sekarat tak berdaya
hadapi panah imaji
buah karya seni abadi

Kejam menembus dan merobek dinding hati
tak perduli hitam atau putih
terpanah……
pencuri hampir mati
panah imaji tak terkendali.

Desember 2003
———————————–

KUTUNGGU

Kutunggu kau digerbang penantian
empat bulan yang lalu
kau bagai fatamorgana
di angkasa suara lagu bergema

Tiga bulan yang lalu
senyummu kian menggodaku
saat kita saling ketemu
matamu menusuk kalbu

Dua bulan yang lalu
di Kaliurang aku bersamamu
bersama dengarkan jeritan sembilu

Satu bulan yang lalu
rasa rindu kian menggebu
puasa tiba api tetap menyala
asap mulai mengembara

Dua minggu yang lalu
kau bersamaku
menyatukan hati di anak segara

Duabelas hari yang lalu
kita tetap bersatu di taman seribu candi
menyatukan hasrat hati
dan ciuman di dahi

Tujuh hari yang lalu
kembali kita berbagi kasih
nafasmu begitu dekat sekali
dirimu baru pertama kali

Satu hari yang lalu
kau masih bersamaku
berbagi cerita dan rindu
darah memerah di tanganmu

Hari ini
kau dan aku satu
tak terpisahkan oleh jarak
hanya waktu yang menunggu

13 Desember 2003
————————————
MERAH DI TANGANMU

Luka di jemariku
tak sedalam luka di sprai putih
terbaring di gedung megah rumah sakit
wajah wajah muram menghiasi mereka
tetes air mata tak terbendung

Merah di tanganmu
tak semerah darah di sprai putih
luka di jemariku karena ulahmu
meremas jemari tanganku
dengan kukukuku tajammu

Merah di tanganmu
karena ulahku
mencium karena perasaan hati

Di gedung putih yang megah
penuh duka
di dermaga hati kita berdua
berbagi rasa nikmati indahnya
kita berdua tertawa ikuti gelora cinta.

15 Desember 2003
————————————

TERKAPAR

Langkahlangkah kaki menyeberang sepi
tanpa alas kaki dan perisai diri
merangsang dalam hangatnya sepi
menggelembung dalam pusar bumi
tentang jaringjaring labirin
yang sobek tadi pagi
tergores aroma keringat yang wangi
menyerah pasrah dalam dekapan
yang berdarah dan terkapar
saksikan perang sesama.

Desember 2003
———————————–

NADA RINDU

Benang benang menyulam hati
tak dapat dihindari
walau mulut terkunci
benang benang terkait jadi satu
menyulam renda tak berkesudahan
diiringi alunan nada nada rindu
benang benang bergetar tanpa ragu.

Desember 2003
———————————–

UNGKAPKAN RASA

Kubiarkan rinduku mengingat senyummu
yang menggoda hatiku
teduhkan perasaan diujung bilik nurani
kulihat wajahmu begitu jelita
bagai mawar merekah menggoda hati
rasa memiliki tak terbendung lagi
saat gerimis membasahi rambutmu
yang ikal dan tergerai
hatiku kian tak menentu
bagaimanakah ungkapkan rasa
haruskahkah kupeluk dan kucium
sebagai ungkapan hati

Kubiarkan rinduku merindu
sampai hati kita menyatu
salahkah aku mencintaimu?

18 Desember 2003
———————————–

ISTANA MIMPI

Lihatlah diufuk timur
langit masih diselimuti kabut
fajar semburat pun belum terlihat
pagi ini geliatmu malas
tinggalkan tempat mimpi
istana hati tiap hari merenungkan nasib diri
akan masa depan yang belum pasti
sinar matamu yang nanar
pertanda tidurmu terbuai mimpi
dari tenggelamnya fajar hingga pagi ini
saat kau buka cakrawala pagi
mimpimu masih mengembara.

19 Desember 2003
————————————

CACI MAKI

Sampahpun banyak dicari
sedang diriku sering dimaki
begitu sia-sianya diriku
menerima cacimaki tiap hari
tapi aku tak perduli
yang ada hanya perasaan hati
yang merindu pada dirimu.

Desember 2003
————————————

TANGAN USIL

Api telah membakar hutanku
tertegun aku memandang tak berdaya
lihat kobaran api menyala-nyala
kuharus pergi jauhi api
kutelah siapkan sungai yang mengalir jernih
untuk redupkan nyala api
tiap kali api telah padam
tangan usil membakar kembali hutanku
kuharus berjuang kembali memadamkan api
yang berkobar dengan percikan air sungai
yang jernih dan tenang mengalir sepanjang hari
penuh ikan berwarnawarni
bagaikan pelangi di kaki cakrawala
indah menawan hati ‘tuk nikmati indahnya pelangi
kuharus bergandeng tangan dengan erat
jangan sampai lepas ‘tuk padamkan api
hutanku terbakar lagi
hutanku berselimut asap lagi
dewasalah sedikit kawan demi masa depan
demi hati yang damai jangan bakar hutanku
biar damai hatiku melihat hutanku hijau kembali.

21 Desember 2003
————————————

BUNGAKU

Wahai bungaku nan kuncup
segar berseri menggoda hati
kutak kuasa mencium aroma nan harum
terbang di langit biru anganku
pertama kudapati mawar kuncup menggoda hati

Bungaku………..
Aroma wangimu menghentak kalbu
bersatu dalam denyut darah dinadiku
melumpuhkan sendi-sendi hatiku
pertama kali kurasakan
aroma bunga yang baru kuncup
mendidihkan darah dilabirin cintaku
menusuk jantungku bergetar tak menentu
aroma wangimu meraba hatiku
hingga membuatku rindu

Bungaku……….
Haruskah kusentuh dengan jemariku
yang berlumur noda dan bau
kuncupmu masih segar dan harum
taklayakkah bila kucium kelopakmu
kubaui aromamu
kuraba putik dan daunmu
dan kunikmati mimpi-mimpiku.

Desember 2003
————————————

PENJARA HATI

Pagi itu…….
Kehadiranmu membuatku resah
rona wajahmu menggalang selaksa rahasia
jeruji-jeruji resah kian kokoh
keresahan bersemayam di lubuk hati
dan mengeram terpendam
kutak berdaya merobohkan penjara ini
kuhanya bisa resah gelisah
dada ini terasa sesak
nafasku bak ucapkan selamat tinggal
saat perjumpaan denganmu
tiada kata terucap
relung nafasku, gelora di jantungku
seakan menikam diriku
porak porandakan penjara yang menghalangiku
menghalangi gairahku
untuk berucap padamu
untuk menatap dirimu
untuk mendekati dirimu
untuk memeluk tubuhmu
untuk mencium bibirmu
semua itu semu terhalang jeruji penjara di sini.

Desember 2003

LEMBUT BIBIRMU

Lembutnya bibirmu
membuat seribu bintang di hatiku
di awan biru kumelayang
desah nafasmu memburu
kian kencang memuncakkan gairah birahi
lenguhan suaramu membuat tulang-tulangku
tanggal satusatu lemas takberdaya
tubuh ini nikmati indahnya sutra bicaramu

22 Desember 2003

————————————

MEMBIRU

Cintaku sungguh membiru
bagai awan yang menawan
aku begitu penakut liat awan hitam berarak
perlahan penuhi langit biruku
aku tidak ingin kehilangan birumu
aku begitu merindu langitku

Desember 2003

————————————

KUTUNGGU

Langit biru yang kurindu
hadirkan rembulan padaku
siang malam ‘kan kutunggu
di cakrawala bentanganmu
jangan hadirkan awan hitam menyaput mega
di angkasa biarkan aku
nikmati rembulan bersinar
bersinar purnama di langit biruku.

Desember 2003
————————————

JERITAN MALAM

Jendela telah kubuka lebar-lebar
kudengar suara suara kelam
ganggu mimpimimpiku
cepatlah pagi malamku
aku muak…………
dengar jeritan malam kelam
aku ingin tenang nikmati mimpimimpi
di taman abadi
dimana aku sembunyi
selalu dibuntuti
kumoksakan diri bersama kekasihku
agar tak terdengar suara kelam
biar hati kita tentram membangun mimpimimpi
di taman abadi bertiang kokoh
kenyataan di hari nanti itu yang kuingin.

Desember 2003
————————————

KESUNYIAN

Degup jantungku kian keras
dadaku terasa mau pecah
terdesak rindu yang menggebu
kucari bayang-bayang kekasihku
yang tak kunjung kujumpai
kesedihan berkecamuk di dada
bagai ombak menantang karang
samar kulihat wajahmu
kuulurkan tanganku pertanda rindu
tapi itu hanya dibias mataku
kusentuh dirimu dalam fatamorgana
kau pergi lagi
hanya kesunyian yang kunikmati
ditemani hati sepi yang merindu
akan perjumpaan denganmu
kapankah kusentuh bayanganmu
menjadi nyata
sambil kita dengar lonceng bergema.

25 Desember 2003
————————————

T’LAH BERJALAN

Waktu telah berjalan
dari detik ke menit
dari menit ke jam
dari jam ke hari
kunantikan hari-hariku
roda terus berputar
dulu kubenci malam karena perpisahan
kini kubenci siang karena pertemuan
tanpa makna tanpa bicara
tatapan begitu banyak mata
lihat kita tanpa kata
matamata liar siap mencabik
bagai serigala tak kenal saudara
mencabik darah sedarah memerah
memerah karena cinta
terbelenggu komunitas rutin
matamata suka jahil
mulutmulut suka berbusabusa
tak suka orang senang nikmati indahnya cinta
itulah manusia iri dengan sesama.

Desember 2003
————————————

DERMAGAMU

Sorot matamu tajam menembus kalbuku
bagai ujung tombak mengiris
dan menggores bilik hatiku
perlahan luluh oleh tetesan airmata
saat kau ulurkan tangan tanda perpisahan
aku terlanjur pergi mengembara di relung-relung hatimu
mengapa baru kini kau pinta aku
kembali ke titik nisbi lagi
seperti dulu sebelum kupergi
mengembara diantara bilik hatimu
aku kini menjadi pengembara di hatimu
telah kutambatkan simpulsimpul di dermagamu

Terjerat aku takkan kembali
simpul telah kuikatkan di hatimu
kini mengikatku untuk tidak pergi
dari dermaga hatimu
aku tercecer diantara bilikbilik milikmu
kucari pintu untuk kembali ketitik nisbi
lelah kukelilingi hatimu tak jua kutemui pintu itu
aku tertinggal di bilikmu
tak mungkin lagi kucari jalan itu
biarkan aku tertinggal di situ
agar aku bisa mengembara dibilik hatimu
yang telah membui labirin hatiku.

Desember 2003
————————————

BERGEJOLAK

Menggelegak magma di kawah gunungku
lahar panas mengalir di nadi bumiku
membara bergejolak pusar bumiku
kiamat terbayang dipelupuk mata
pusarbumi seakan lepas tak terkendali
amukan magma tumbangkan pohonku
bumiku lunglai tak berdaya
magma bergejolak tiada henti
akhirnya meletus gunungku
menyembur isi bumi
menerobos awan hitam
membakar langitlangit bicaraku.

29 Desember 2003
————————————

SEMILIR ANGIN

Sawah menghampar luas di depanku
perdu padi melambai memanggilku
seakan mengajakku bersamanya
bersatu diantara mereka
bersama nikmati semilir angin.

1 Januari 2004

————————————

JOKO TINGKIR

Kesombongan Joko Tingkir sirna sudah
dulu…..
berjalan gagah tak mau kalah
kini lemah lunglai di samodra mimpi
melawan ganasnya buaya betina
tinggal seonggok daging tak berdaya
di mulut buaya diam membisu
mendengar lenguhan buaya lapar

Mana kesombonganmu
mana kegagahanmu
mengapa lunglai melawan buaya betina muda
kau senang menentang bahaya
kini rakitmu terdampar di pulau Ken Dedes
bersama buaya melenguh bersama.

1 Januari 2004
————————————

BUMIKU

Awan hitam menggumpal di awan
seakan segera turun hujan
dibumiku telah mengering
menanti embun yang datang
penantian tinggallah penantian

yang diharap tiada datang
angin kering bawa kabar

Di bumiku yang kering
awan hitam dimataku menunggu waktu
detak jantung kian terpacu
menanti kabar darimu
lama nian tiada datang dalam asaku.

4 Januari 2004
———————————–

MENCUMBU MATAHARI

Petani duduk sendiri di bibir pematang
memandang sawah tangan di dagu
pertanda sedang termangu
terhampar sawah subur tanpa perdu padi
dibiarkan terhampar tanpa ditanami
tergolek tanpa cangkul
sepi……..

Mentari di atas panas menyengat
membakar tubuh dan hatinya
lihat mentari petani tersenyum puas
sambil termangu mencumbu mentari
bersinar di awan biru
buka cakrawala hari itu.

Januari 2004
————————————

SIMPANG JALAN

Angin berdesir di telingaku
mengajak berjalan mengikuti
bertemu bidadari di simpang jalan
daundaun tanggal satusatu
malam semakin kelam
siang makin panas
bidadariku berjalan ke titik arah
kucari titik di mana aku berpijak
angin tinggalkan kusendiri
di simpang jalan yang sepi
dimana bidadariku
kucari kau di titik temu takketemu.

Januari 2004
————————————

DI DERMAGA

Senja didermaga tetap kunanti
walau rindu di hati
beban yang bergayut di tubuhku kian berat
saat kutinggalkan dermaga
tanpa kenangan kuucapkan
sampai jumpa…
hari ini sampai di sini
meski mentari masih tinggi
rindu pun belum terobati kali ini….
Kuyakin besok mentari kan bersinar lagi
kita bagi rindu di awan biru
di antara benangbenang jingga
yang menyatukan hati kita.

Januari 2004
————————————

BINTANG JATUH

Merpati bercengkerama di tonggak abadi
sayap mengepak jatuhkan bintang
di langit biru bintang jatuh tengkurap di bulan
bersinar terang nan menawan
membuat rindu amukkan hati
tetestetes sumber alami mengalir satusatu
tanda rindu lama takketemu
jantung berdebar tambah sembilu
sinar rembulan kian terang
hati terpesona tiada tara
tapi rindu taktergapai
rembulan jauh dari awan.

Januari 2004
————————————

TERJERAT

Saat kumelayang di awan
bersama bintang nan terang
bermain dan bercanda diantara pelangi di cakrawala
takkuduga benangbenang kusut menjeratku
kuurai satusatu tak ketemu
ujung yang kusut kian menjeratku
haruskah kupasrah ?
terkapar dan mati terjerat di awan
pisau tajamku menggores sudah
benang yang kusut telah putus terurai satusatu
jatuh diantara hujan salju membeku dan dingin
lilin rinduku panaskan benang jinggaku
biar segar berseri tak kusut lagi
tak menjeratku lagi
tak beku lagi
dan tak dingin lagi.

Januari 2004

————————————

DI UJUNG MIMPI

Malam kian kelam
di ujung mimpi jelas terbayang
mentari membakar pucuk cemara
kabut asap kian tebal
menyebar menyusup diantara ilalang.

Januari 2004
———————————–

KAU DIAM LAGI

Kuucap kata salah di awan
saat rasa cemburu hadir
padamu kusampaikan dan hatimu kecewa
karena rindu juga
tapi di langit awan berubah arah
kuungkap rasa dikira terganggu
kau diam lagi
aku menunggu termangu
seakan ingin ketemu
ungkap rasa salah di hati
tapi kau tetap diam
aku menunggu dengan rindu.

Januari 2004
————————————

PELAMPIASAN RINDU

Ranting kering tanggal satusatu
saat menunggu gerimis tiba waktu
lupa semua yang dijalani
gerimis pasti datang
menjemput impian yang ketemu
gerimis datang…….
Daundaun bersemi kembali
ranting pohon hidup lagi
gejolak rindu hujan lebat
ranting ingin mencubit
rembulan bersinar terang purnama
hanya gemetar dirasakan
pohon berdiri diantara hutan
matahari melirik tak berkedip
saksikan pohon bercanda bersama rembulan
hatinya bergejolak rasa
ingin membelai dan mencium rembulan purnama
kepulan asap menyebar sebagai pelampiasan.

Januari 2004
————————————

REMBULAN DI UJUNG CEMARA

Sinar terang membanjiri perasaan
indahnya dunia tergambar di mata
suara merdu lagu alam
mengalun di gendang telinga
wanginya bunga menusuk penciuman
halusnya kulitmu menggetarkan poriporiku
lembutnya bibirmu merobek sumsumku
keringatmu memuncakkan pusar bumiku.
Angin semilir menyibak daun cemara
daundaun berguguran di lantai kamar
tersibak semua rahasia alam
rembulan purnama jelas tergambar
diantara daundaun cemara
di langit biru tiada awan
rembulan memuncak gairah keujung cemara
semilir angin menggelorakan gairahdarah
gairahdarah disendi pohon cemara
yang kian menjulang
saat rembulan melenguh panjang
dan mencakar pohon cemara
di ujung cemara rembulan berhenti dan terkapar
saat nikmati mimpi yang belum pernah dialami
rembulan di ujung cemara
bagai mimpi tiada terbayang
lenguh panjang nafas tersengal
luruh sudah daun cemara pada rembulan
saat badai membawa
gelora ombak menerpa rembulan

Januari 2004

————————————

PERJALANANKU

Gerimis mengiringi perjalanan panjangku,
keangkuhan sindoro sumbing yang indah mempesona
lenyap ditelan kabut,
sungai sungai mengalir bening
diantara batu batu dan kerikil,
terlihat bagai naga nirwana
meliukliuk selusuri lembah ngarai
sawah hijau bertanggatangga,
jauh di sana menjulang pohon rindang.

Udara segar dan gerimis
di luar tiada kuasa menembus dinding kaca baja,
berjalan meliuk naik turun
mencuatkan gelora di perutku
membuncah ingin muntah,
kepala berbintangbintang pening terasa
bersatu dengan keringat aroma banyak orang

Tubuh terasa lemah lunglai
seakan terbang melayang
bagai elang nirwana
penunggu sindoro sumbing
kian luruh tertutup kabut hujan.

Parakan, 20 Januari 2004
————————————

TONGGAK LANGIT

Gunung Lawu menjulang di awan biru
kabut pagi selimut abadi
hangatnya mentari pagi
sibakkan selimut kabut
puncak lawu perkasa menjulang
bak tonggak penopang langit biru
sinar jingga membias cakrawala
bentangkan sayapnya di pagi nan cerah
hamparan sawah hijau luas terbentang
ditingkahi burungburung kecil
alunkan melodi pagi dendang mimpi
sayap mentari menyusup diantara perdu padi
petani bangga tersenyum puas
saksikan hamparan padi bak permadani

Januari 2004

————————————

LUAPAN RASA

Kepastian rasa meluap :
bak kepundan kawah gunung api
mengepul sambung tiada henti
magma bergolak lahar berlari
mengejar mega mega berarak di awan biru
berjumpa dan bersahabat di cakrawala
tak mau berseteru jadi satu
kasur raksasa buaibuai awan menggumpal
percikan air cinta terjalin mesra
hujan peluh dan rindu lahir di situ
banjir meluapluap kawah bumi gunung api
bergolak mendentum membahana
letusan gunung api membakar bumi
suara rintihan pedih terdengar
bersatu dalam kegembiraan
memburu nafas kawah gunung api.

21 Januari 2004
————————————

TUMBANG

Tangan halusmu menarinari
di bentang pandang
menggoda syahwat sindoro sumbing
menantang pandang di batas cakrawala
menerpa karang ombak birahiku
melenguhkan danau di bumiku

Batang pinus di hutanku menjulang angkasa
membuncah darah di danau perawanmu
tersengal nafas batang pinusku
muntahkan lahar panas di danaumu
batang pinus tumbang terbakar magma
yang muncrat
luluh sudah semua bentang pandang
tinggal guratan cakrawala yang tersisa

Terkapar
Bisu dan sepi….
Tinggal hembusan angin gunung
tinggal sengalan angin hutan
Bertemu di lembah mimpi
kejarkejaran memburu lelah tak terkendali

22 Januari 2004
————————————

KUPAHAT BINTANG-BINTANG

Kupahat bintangbintang digelapnya malam
satusatu kutempelkan di langitlangit kamar mimpiku
bintangbintang kutoreh dengan tinta warna-warni
satu yang sangat menarik hati
diantara bintangbintang yang kusuka
kemarin satu bintang hancur
saat halilintar dari mulut bulan menyambar di kamarku
jatuh berserakan di lantai
betapa sedih hatiku
tatkala bintang yang kupahat jatuh berserakan
kecewa dan sakit hati
lihat karya hati berserpihan
kucoba merangkai kembali serpihan-serpihan itu
betapa sulitnya merangkai karya yang hancur berserakan
perlahan-lahan terangkai jua
tinggal satu serpihan yang belum juga ketemukan
kucari di sudut kamar belum juga ketemu
ketelusuri di kolong tempat tidurku
juga belum kutemukan
ternyata tercecer di atas bantalku
kucari lem yang sudah habis terpakai
kuraba saku celanaku
ternyata tidak juga ketemu
kulihat ada di dadamu
lalu kurangkaikan jadi satu
kutempelkan di langitlangit kamar mimpiku
bersama bintangbintang yang lain
bersama rembulan di sudut flatform kamar
bintangbintang di langitlangit mimpiku bersinar lagi
setelah enam bulan kupahat satu per satu:
I hope, you never hurt to my heart!
Because I will be back in your dreams.
Thank you very much.

26 Januari 2004

————————————

DI MAYAPADA

Rembulan berjalan senang
bersama bintang-bintang di angkasa
indah membentang luas cakrawala
dipandang rembulan riang bersuka suka
bercanda dengan planet di orbit
meski kakikaki rembulan penat dan lelah
tiada dirasa
Rembulan bersuka diantara arca mayapada keabadian
dewa datang menyapa di angkasa
dengan berpundi rasa rindu
saat asyik di ujung istana mayapada
rembulan terlena
diiringi gemerlapnya bintang-bintang berlarian
ke sana ke mari
bercanda menggoda rembulan
lelah kakikakinya terasa sudah
sekarang saat turun dari istana
dewa penyapa kawatir di hati
menyaksikannya rembulan berjalan tertatih
takkuasa dewa menggapai untuk menghiburnya
rembulan pergi lagi sambil menahan sakit di kaki
ucapkan selamat tinggal pada istana mayapada.

25 Januari 2004
————————————

BERGETAR

Jemariku bergetar saat meraba bumimu
dari lembah ngarai sampai gunung kembarmu
pori-pori di tubuhku meregang
sumber mata air membanjiri tubuhku
saat merasakan keindahan di bumimu
saat merasakan halusnya kulitmu
bibirmu tersenyum merekah menggoda hati
tak terasa kulumat bibirmu
kugapai lidah apimu kunikmati indahnya pemandangan di depanku
aku bangga memilikimu
bumimu yang subur hutanmu yang perawan

Jemariku bergetar saat meraba bumimu
tangan-tangan nakalku mulai tak kuasa
menahan birahi pori-pori di tubuhku
jemariku bergetar saat merobek perisai-perisai di bumimu
Jemariku bergetar saat kulihat
bumimu telanjang hutanmu gundul
kudekap bumimu dalam pelukanku
agar bersemi pohon-pohon hijau di bumimu

29 Januari 2004

———————————–

KEMARAU ITU

Saat ini hujan lebat
pertanda kemarau masih menanti
waktu panjang
hujan tak juga reda
semakin menghambur menghujam bumi
air meluap kemana-mana
aku di situ berdiri
di tengah derasnya hujan
saat ini butir-butir air
tak membasahi tubuhku
tak membanjiri jiwaku
karena akulah kemarau itu
dan
kaulah hujan itu

31 Januari 2004

————————————

AIR MATA

Kerinduan adalah penyiksaan
penyiksaan adalah kepedihan
kepedihan adalah air mata
air mata adalah ungkapan rasa
yang tiada dapat dibendung lagi
air mata itu air mata hati
yang pedih menanti kekasih
kekasih yang tak juga hadir
bersama merpati terbang di angkasa

Kerinduan adalah penyiksaan
penyiksaan adalah kepedihan
kepedihan adalah air mata
air mata itu air mata hati
mata hati merindu pada kekasih
dinantinya di ujung jalan tiada datang
dipandangnya cakrawala tiada merpati di sana
dilihatnya jantungnya
berdenyut dan berlari ingin pergi

31 Januari 2004
————————————

KITALAH LAKONNYA

Diantara gerimis pagi ini
aku hanya bisa duduk dan menunggu
akan kedatanganmu di sini
kabut dingin rinai hujan menusuk ke sanubari
tubuh menggigil dingin terasa
ditemani batangbatang cemara
menanggalkan titiktitik bening dari ujungnya
yang basah dihunjam gerimis sejak tadi malam
aku di sini menanti dengan pasti
dirimu datang menepati janji
lalu kita pergi mengembara ke angkasa
berbagi rasa rindu yang menumpuk di sanubari
menumpuk cerita yang tiada berkesudahan
dengan cerita-cerita yang menyusup ketelinga
tentang kisah seorang pemberani
gagah perkasa menghunus keris pulanggeni
tancapkan ke tubuh Putri Jonggrang nan anggun
tiada berdaya menolak dan memberontak
hanya bisa pasrah dan mempersilahkan
dalam tikaman yang dalam
menggores tubuh putih mulusnya
ceritaku bagai pengantar mimpimimpi tidurmu
menggeliat penuh birahi
merontokkan daun-daun di cakrawala tak bertepi
Tubuhku bagai sampan yang menguak rerimbun semak-semak
di danau beningmu
suara air yang berkecipak
menggurat dan menggores batin kita
jatuh ke dalam rengkuhan danau nan dalam
aku tidak tenggelam aku mengambang di danaumu
yang penuh bintang-bintang dan rembulan
kecipak air semakin keras menggiris hati
bahagia bermandikan keringat
harumnya bunga-bunga di tubuhmu
bagai bunga mawar mekar di hari itu
saat kita bukan lagi seperti cerita
tapi kitalah lakonnya

4 Pebruari 2004
————————————

PERSETUBUHAN DAUN-DAUN

Angin telah bersetubuh dengan daundaun
kala burung-burung bangau berbanjar di awan
mencari persinggahan untuk tidur malam nanti
mataharipun telah meninggalkan singgasananya
menuju kebalairung sepi
cahya rembulan menemani bintang-bintang
digelapnya malam
Angin bercumbu dengan waktu
kala rembulan di balik semaksemak bambu
kunang-kunang beterbangan
memanggil-manggil rembulan
disapanya bintang satusatu
diantara gelapnya malam
Angin telah tumpah dan menghilang
tetes embun jatuh di pangkuan rembulan
saat jeritan burung malam jadi lenguhan panjang
Angin pulang dikerinduan
saat khayalan jadi kenyataan
impian jadi permintaan

Pebruari 2004
————————————

BUNGA CINTA

Kubawakan bunga agar kau memeliharanya
sebagai pengikat rindu dan tanda cinta
itu bunga cinta hanya dirimu yang kupercaya
untuk memeliharanya sebagai persemaian di hatimu
tanamlah di ladangmu yang subur
agar bunga-bunga bermekaran mewangi
memenuhi ruang di bilik nurani
bunga itu bunga cinta jangan kau siasiakan
apalagi sampai mati
kutitipkan bunga cinta itu
sebagai mahar di hatimu

6 Pebruari 2004

————————————

SEMADIKU

Dalam semadiku :
ada yang lepas dari tubuhku
doadoaku terhenti di karang terjal
tebing tinggi di angkasa di pintu nirwana
tertancap kuku-kuku tajam sang penjaga
doaku tak sanggup lagi mendaki
apalagi terbang tinggi
tumbang satu-satu di kaki cakrawala
dan mati.

Dalam semadiku :
ada yang lepas dari tubuhku
kucari dengan doa tak jua ketemu
aku semakin bertiwikrama
membawa doa ke nirwana
doaku terhantam gelombang ombak samodra
menerjang wadakku terhanyut dalam pusaran bumi

Dalam semadiku :
ada yang lepas dari tubuhku
kubaca kata-kata suci mulutku terkunci
dadaku bergetar tanganku gemetar
jantungku meregang
katakata kandas di danau penuh lumpur
diam takkan terucapkan

Dalam semadiku :
ada yang lepas dari tubuhku
sejuta bintang mentertawaiku
rembulan mencemoohku
kunangkunang mengejekku
aku semakin tenggelam dalam
melebur jiwa bersatu dalam ketidakpastian

Dalam semadiku :
ada yang lepas dari tubuhku
hening malam mencekam
bersenandung tentang kematian
nyanyikan lagulagu dansa
dengan pisau-pisau tajam di kepala

Dalam semadiku :
ada yang lepas dari tubuhku
cahaya terang di depanku panas membara
membakar rumputrumput di ladang kering
membakar jiwa-jiwa yang rapuh
menghanguskan rumahrumah tak layak huni
di bibir sungai

Dalam semadiku :
ada yang lepas dari tubuhku
pundipundi tak lagi kumau
mahkota berlian tinggal kenangan
baju kebesaran masa lalu tinggal khayalan
semua itu bukan lagi milikku
kau telah pergi dariku

10 Pebruari 2004
————————————

MENGAPA-KARENA

Akulah lakilaki itu
yang selalu bertanya –mengapa-kepadamu
kaulah wanita itu
yang selalu menjawab –karena-kepadaku
aku selalu nerocos bertanya – mengapa,
sedang kau dengan tenang menjawab –karena
kita memang aneh
setiap kali aku bertanya –mengapa-kepadamu
kau selalu menjawab-karena-kepadaku
aku tak dapat berkata : karena
karena mulutku terkunci
memoriku hanya ada kata-mengapa- untukmu
kita memang aneh
aku selalu nerocos bertanya –mengapa-kepadamu
kau tak lekas menjawab
kau masih duduk di situ
karena kau wanitaku
maka jawablah : karena
hatiku senang : mengapa-karena,
aku dan kau saling sapa dan bertanya.

Pebruari 2004
————————————

MENGEJA LANGIT

Saat mengeja bentangan langit
aku bukan lagi gunung tegar berdiri
aku bukan lagi air laut di samodra
atau sawah subur membentang luas.
aku hanya nohtah merah tak berarti
hanya cipratan air di bara api
atau kuman di dasar samodra tak bertepi.

Saat mengeja bentangan langit
aku bukan lagi harimau di rimba raya
aku bukan lagi hiu di lautan
atau buaya di danau bening
aku hanya sampah di limbah rumah tangga
hanya sandal jebat di tong sampah
atau lumpur industri limbah pabrik.

Saat mengeja bentangan langit
aku bukan lagi pohon cemara di hutan belantara
aku bukan lagi pohon bakau di tepian pantai
atau ganggang di lautan
aku hanya pendosa tak berguna
hanya pencuri tertangkap mati
atau pendusta pada diri sendiri.

Saat mengeja bentangan langit
aku bukan lagi pecinta yang mesra
aku bukan lagi kamajaya pencari cinta
atau arjuna penakluk dewi sembadra
aku hanya pengemis peminta-minta
aku hanya seonggok kain kumal penuh lubang
atau pakaian dalam yang penuh tambalan.

8 Pebruari 2004
————————————

MULAI MATI

Kusambut rembulan malam ini
di ujung pohon jati yang mulai mati
ranting-ranting kering halangi pandanganku
perlahan rembulan purnama di ujung kepala
ditemani bintang-bintang
berkelap-kelip di angkasa
aku merenung sendiri
di bawah pohon jati yang mulai mati
malam hari kabut tipis
menusuk sumsumku dingin terasa
sampai awan tebal perlahan
merambat pelan menyelimuti langit biru
menelan rembulanku dan bintang-bintangku
aku di sini merenung sendiri
akankah hujan segera turun
mengguyur tubuhku yang kering dan kedinginan
di bawah pohon jati yang mulai mati.

9 Pebruari 2004
————————————

DURI DARIKU

aku adalah duri yang tercipta untuk kau nikmati.
aku telah lama bersemayam dan mengeram terpendam dalam.
terpendam dalam jantung dan mengalir darah-darah penuh duri
menyebar kesetiap jalan aortamu.
hingga resah menyertai kegelisahan hembusan nafasmu.
tapi jemari penuh duri
gemetar meraih cawan penuh darah
obat dahaga.
bibirku telah melumatkan darah di cawan birumu
tubuh duriku bagai bara api yang panas membara.
membakar ladang-ladang darahmu.
aku adalah duri yang tercipta untuk kaunikmati.
duri-duriku telah menusuk dalam pintu bicaramu.
menggores cawan-cawanmu.
membuka luka di danaumu.
aku adalah duri yang bersemayam
dan terpendam di nadimu.

11 Pebruari 2004
———————————–

DI UJUNG OMBAK

Gugusan bintang-bintang bersekutu di galaksi.
wajah tua renta langit biru tetap perawan.
saat rembulan menjemput ditujuh mentari terbit
di ufuk timur semburat jingga di bulan ini.
bunga kamboja gugur di tanah pusara
hening terasa. seperti sepinya laut
meskiombak samudra berteriak lantang
menantang karang silih berganti.
batu karang tegar menjemput impian.
sambil memandang langit penuh bintang.
kala rembulan jatuh di atas karang.
gemuruh ombak butakan mata
tulikan telinga bisukan kata.
saat mulut menganga bagai lubang gua
saksikan rembulan purnama di ujung ombak samudra.

Pebruari 2004
————————————

LUKA

I
pedang yang kuasah dalam tungku perapian.
siap menggores tajam apa saja.
termasuk pula tubuhku sendiri
siap tergores dalam tajamnya
pedang kuasah dalam tungku perapian
selama enam purnama.
tajam berkilau-kilau membelah angkasa.
saat ini pedang itu juga menggores tajam
menggores bulan purnama
menggores tajam tubuhku.
bersama awan membawa cawan-cawan penuh cuka
membasuh luka yang menganga di tubuhku

II
aku terkapar di pekatnya malam.
saat angin dingin menusuk tulang sumsumku
menyeret daun daun
berisik mengganggu tidur pohon-pohon
bergeretak marah di kesunyian malam.
kesunyian telah menjadi keriuhan.
saat angin semilir menjadi badai.
saat tikus menjadi serigala.
saat burung murai menjadi elang raksasa.
saat kucing telah menjadi harimau ganas.
mencengkeram tubuhku merobek jantungku
melahap hatiku.
taringnya tajam meneteskan darah
lidahnya menjilati sisa-sisa darah di tubuhku.
aku terkapar bersimbah darah di pekatnya malam.
sendirian tak berdaya
tinggal menanti detik-detik kematian
hanya tetes embun malam yang dapat bangkitkan jiwaku.
bangkitkan tubuhku
bangkitkan semangatku.
dalam penantian aku berdoa
datangnya embun menetes di tubuhku.
tak sia-sia aku berdoa
embun pun segera datang
walau luka masih menganga.

13 Pebruari 2004
———————————–

BAJU BIRUMU

Pergulatan batin telah bersatu
bersama simbol-simbol yang sulit kita mengerti.
membuka luka teramat dalam
tersebar di sekujur tubuh
menyatu dalam darah kita.
kita angkat sauh hari ini
kupasang layar pada perahu
kita berlayar tinggalkan simbol-simbol.
mengembara, tinggalkan luka yang mengoyak batin kita.
agar terlepas dari simbol itu.

Disaat suara jeritan hati di dasar
simbol yang sulit kita mengerti. membelenggu hati menggelembungkan rindu
renungkan diri sendiri.
saat perahu telah berlayar.
kita saksikan buih-buih air laut menjadi gelombang pasang.
perahu terhantam ombak ….karam.
hanyut di derasnya gelombang ombak samudra.
saat tubuh telanjangku
kau balut dengan baju birumu
saat tubuh telanjangmu
kubalut dengan cincin kecil dijemarimu.

14 Pebruari 2004
…………………………………………..

BENING

Telapak-telapak kakiku berjalan
mendaki gunung menuruni lembah
menyelusuri ngarai
perlahan menuju batas cakrawala melelahkan
keringat membasahi seluruh tubuh
kawah gunung telah meluap-luap penuh magma
saat menyembur awan panas
rembulan di danau bening nan perawan
memanggil-manggilku berenang bersama
rembulan melambungkan angan
menggejolak jantung
menggetarkan jiwa.

15 Pebruari 2004
————————————

LAMUNAN

saat hujan deras mengguyur tubuhku
bersandar sendiri di tepi cakrawala
angin dingin menggerayangi tubuhku
menghantam tulang-tulangku
selimut tebalku bagai gunung es
basah oleh derasnya air hujan
mataku menerawang jauh
menghilang dibalut fatamorgana
saat kemarin kita bersama
membagi rindu di samudra mimpi
kau kupeluk dan kucium
seluruh wangi tubuhmu
kita nikmati bersama
keindahan dunia.

15 Pebruari 2004
————————————

BELUM SEMPAT

empat senja hari telah memburu waktu
menunggu dalam ruang hati yang sepi
setelah kuantar kau kembali
fajar datang lagi di ujung jalan kerinduan
menanti saat jumpa denganmu
diburu waktu
aku belum sempat bertanya padamu
apakah hari-harimu ada di jendela bening matamu?
aku belum sempat bertanya padamu
tentang senja-senja hari yang lalu
aku belum sempat bertanya padamu
tentang sentuhan dijemarimu
aku belum sempat bertanya padamu
tentang ciuman di bibirmu
tapi kau telah pergi lagi
bagai senja hari.

Pebruari 2004
————————————

MATA ULAR

Kulihat jemarimu dililit dua ekor ular
bersisik emas bermata berlian
aku terpana melihatnya
saat mata ular menatapku tajam berpijar

Kulihat wajahmu semburat merah
bagai mentari senja hari
letupan-letupan kecil menyeruak sutra bicaramu
pertanda tubuhmu perlu sejenak istirah
Hari ini kulihat wajahmu masih memerah
seperti dulu di jemarimu masih terlilit dua ekor ular
dengan mata tajam menatapku

Kulihat wajahmu semakin memerah tak bergairah
kuingin merengkuhmu dalam dekapanku
mengobati luka-luka ditubuhmu
Agar bergairah lagi seperti dulu

17 Pebruari 2004
————————————

KENANGAN

kukenang kau di rintik-rintik hujan :
di antara pinus-pinus di hutan lindungku
air mengalir gemericik bening bagai cermin surgawi
bersama batu-batu licin nan sombong
diterpa gemuruh air terjun seribu kaki
tak bergeming tak berlari
tangga-tangga telah terlewati
tinggalkan kaki-kaki di belakang hari
saat aku rindu membuai mimpi

Pebruari 2004
————————————

MASA DEPAN

Kulihat anak-anak berseragam sekolah
berkeliaran liar di luar pagar
terselip rokok dijari sambil kencing berdiri
aku terbelalak lihat anak berseragam
terlentang di jalan bawa botol minuman keras
aku heran lihat anak berseragam sekolah
perutnya buncit bukan karena cacing
tapi hamil dengan teman satu kelas
aku terkesiap lihat anak bawa buku
saling adu tinju
bagai mimpi menjaring masa depan negeri ini
tidak perduli masa depan yang akan dilalui.

Pebruari 2004
———————————–

KAPAN NEGERI INI MAJU

Kapan negaraku maju?
Murid datang terlambat satu jam sudah biasa
tak perduli boleh masuk atau tidak
yang utama dari rumah pakai seragam
uang penuh di saku celana
sampai sekolah makan pagi diutamakan

Kapan negaraku maju?
Anak-anak dijejali teori-teori yang melambung tinggi
buku-buku latihan soal melulu sampai lupa buku bank ilmu
pikiran berkunang-kunang habis minum wiski
guru berkoar ditinggal mimpi
bertemu peri diajari bolos lagi

Kapan negaraku maju?
Guru terlambat satu jam itu bukan tabu
tiap hari korupsi soal waktu
jadi ambisi pulang pagi
ditegur atasan tidak perduli
muridnya terlambat gurunya minggat

Kapan negaraku maju?
Guru dan murid sama-sama korupsi
korupsi waktu yang sangat berharga
satu jam seharga berpundi-pundi emas berlian
Satu minggu berapa jam terkorupsi?
Satu bulan berapa minggu terkorupsi?
Satu semester berapa bulan terkorupsi?

Kapan negaraku maju?
kurikulum tidak pasti selalu berganti
pejabat bingung guru bingung
murid linglung….itu pasti

Pebruari 2004
————————————

MIMPI

Tetes air hujan telah membasahi tubuhku
rinai hujan datang di hatiku yang kemarau
tetes air membuat rumput-rumput bersemi
menghijau di ladangku
saat kusendiri di samudra mimpi
siang hari mengharap bidadari
datang dari balik awan
mengajakku menawarkan segelas darah
darah tumpah di tubuhku
kutawarkan kerinduan di hatimu
dalam dekapan merpati putih
terbang di awan menukik jatuh di pangkuan

Tetes air hujan tawarkan kerinduan
mentari mengintip dari balik awan
tidurku sendiri ditemani mimpi-mimpi bersamamu dalam pelukan mesra
jatuh didekapanku sore itu
tetes air hujan sore itu tawarkan kemesraan
saat kubelai rambutmu
kutelusuri peta di dirimu
kita satu dalam angan terbang melayang di awan

Tetes air hujan buyarkan mimpiku
halilintar menyambar gendang telingaku

19 Pebruari 2004
————————————

BURUNG PIPIT

Burung pipit berkicau diantara pelangi pagi
di batas cakrawala bersama selimut pagi
dan benang sutra mentari
membelai lembut tubuh mungilnya.
dengan mesra tiada batas mencari cinta.
menanti kekasih datang membawa secawan madu
dan segelas anggur merah.
sambil bercanda berdua menikmati madu cinta

Burung pipit datang menjemput impian
di balik pelangi pagi.
kekasih datang membawa secawan madu
dan segelas anggur merah
dinikmatinya madu dan anggur berdua.
mabuk dibelai kerinduan yang dalam di awan

Burung pipit terlena lihat indahnya mentari pagi
membawa sutra-sutra lembut
nan jingga dibalik awan.
pelangi di batas cakrawala bagai lengkungan alis bidadari
bangun dari mimpi berwarna-warni.

19 Pebruari 2004
————————————

RAHASIA

Rahasia alam masih gulita
aku belum dapat menyingkap tabir selimuti bumi
hari ini aku rasakan ada getaran-getaran
mengungkap semua tabir bumi
sanggupkah getaran itu datang hari ini
bersama rembulan dan bintang bersamaan
aku rasakan getaran hatiku
akan menyibak selimut bumi
sanggupkah rembulan dan bintang menyingkap selimut itu?
tak kuasa kumenjawab
sebelum mentari datang menepati janji
memberikan kebaikan untuk bumi a
tau mentari akan bersekutu dengan rembulan
untuk mengutuk bumi dalam kepasrahan
atau mentari akan bersekutu dengan bumi
untuk redupkan bintang berkelip di angkasa
atau bumi bersekutu rembulan
membuat gerhana a
tau bintang akan bersekutu dengan mentari
untuk menolak rembulan atau
bintang bersekutu dengan rembulan
menolak mentari bersinar lagi
dan bumi dalam tabir selimut kegelapan
semua masih rahasia yang terpendam

20 Pebruari 2004
———————————–

TERSINGKAP

Kabut dingin menyelimuti tonggak bumi
leleh terbakar api mentari
membuka cakrawala hari
membuka tabir kebekuan
selimut kabut leleh menjadi air bening
mengalir lewat sungai meliuk
bagai tarian bidadari mencari jati diri

Aku terpesona lihat gunung tanpa selimut kabut
aku nikmati indahnya pemandangan
tanpa tabir rahasia menyelimutinya
mentari telah bagikan kerinduan
lewat benang-benang sutra
membelai gunung menjulang
tanpa selimut kabut.
Pebruari 2004
————————————

RAPUH

Rembulan rapuh tak berdaya
meratap sedih berteman sepi. rembulan purnama tertutup awan hitam
bergumpal meneteskan air mata
dibalik awan hitam kunang-kunang
bersekutu padamkan rembulan
karena kedengkian akan sinarnya yang terang.
rembulan terluka terkoyak kelip mata kunang
tajam menusuk dihati
asap racun dari kerlip kunang-kunang
menyesakkan nafas rembulan
pasrah dan terpendam dalam perasaan mentari
hanya termangu saksikan semua itu.
rasa rindu dan cinta.
sinar mentari membelai mesra
memeluk dalam dekapan
dengan sinar-sinar jingga
agar rembulan tak terluka
bersinar lagi bersama mentari
sambut pagi hari bersama kicau burung
menari riang menyambut jingga di ufuk fajar
mempesona.

20 Pebruari 2004
———————————–

TAWARKAN KERINDUAN

Mengapa kau tawarkan kerinduan padaku
Kerinduan itu telah menimbunku dalam-dalam hingga kutak kuasa bangkit lagi
Sampai dirimu tawarkan guci-guci penuh madu merah dan secawan anggur
Aku begitu dalam masuk ke lorong-lorong lukisan berbingkai-bingkai imaji
Membuat semua menjadi indah dan mempesona siapa saja yang dapat memasuki lorong itu
Lihat pelukis imaji berdiri di ujung lorong
bagai bidadari anggun mempesona cantik jelita
Mengulurkan tangannya padaku yang telah memasuki lorong-lorong itu
Mengajakku terbang ke nirwana menikmati indahnya surga yang kita ciptakan.

21 Pebruari 2004
———————————–

AKU HERAN

Kau tanya padaku tentang kalkulasi cinta
apa untungnya mencintai dirimu
aku heran
adakah dalam kamusku tentang cinta ada untung rugi?
apakah aku harus mengurai satu persatu benangbenang cinta itu
cinta telah pasrah terpendam dalam sanubari
cinta itu tumbuh subur di ladang yang humus
benih putih bersih dari dasar sanubari benihbenih cinta itu ringan bagai sehelai kapas yang ditiup angin
dibawa mengembara melewati sungai berkelok-kelok
naik turun tebing terjal,
menjelajah hutan lebat nan perawan
cinta itu gunung tinggi tak terdaki cinta itu lautan luas tak bertepi
tiada bedakan suku ras keturunan dan agama
cinta itu mencari ladang subur untuk bersemi.

Aku heran kau bertanya kalkulasi cinta
seperti matematika atau ilmu ekonomi ada untung rugi
cinta itu dari dasar hati
tidak membedakan untung rugi
yang ada keyakinan diri dan kemungkinan pasti
seperti menghitung harihari silih berganti
akan datang lagi dan pergi lagi
seperti pesta yang kita adakan bersama

Aku heran kau bertanya kalkulasi cinta
cinta itu selimut diri dari dingin yang menusuk tulangbelulang
atau terik mentari yang membakar kulit tubuh
merasakan halusnya sentuhan dan kasarnya tamparan
bagai ombak lautan tiada henti
didalamnya hidup berbagai bahasa alam
beraneka ragam tiada beda
insan tinggal membuat rumah-rumah dimana mereka mau

Aku heran kau bertanya kalkulasi cinta padaku
dan aku tiada dapat menguraikannya satu persatu
karena cinta itu tumbuh di sanubari dan akan abadi bagai mentari membagi sinar-sinar kebahagiannya tiap hari dari fajar pagi sampai rembang petang
dari bangun pagi sampai tidur malam yang dibuai mimpi berbintangbintang dan ditemani rembulan

Aku heran kau bertanya kalkulasi cinta kepadaku
tak dapat kuuraikan karena aku bukan ahli matematika atau ekonom pasti untung rugi yang aku tahu cinta datang dan pergi tak terkendali dia
bukan kuda balap atau sapi karapan tapi dia rasa di dalam lautan tak bertepi
dalam dan dalam sekali
luas dan luas sekali

Aku heran kau bertanya kalkulasi cinta padaku
cinta itu bukan awan bergulung-gulung atau rambutmu yang ikal menawan
cinta itu bukan gunung menjulang ke awan atau hidungmu yang mancung cinta itu bukan bulan sabit atau alismu yang jelarit
cinta itu bukan lembah ngarai atau bibirmu yang aduhai
cinta itu bukan permata atau matamu yang bersinar terang
cinta itu bukan tubuhmu yang semampai
cinta itu bukan lautan atau gairahmu yang menggelora
cinta itu tumbuh dan bersemi di ladang humus nan subur dari benih suci dari dasar hati sanubari

21 Pebruari 2004
————————————

TANGGAL SATU

Malam paruh waktu tanggal satu semakin sepi
saat kuantar kau kembali
karena kuyakin istanamu sudah menanti
penuh tanya sampai kini
kau belum kembali membuai mimpi malam ini rembulan tanggal satu
malu meninggalkan awan-awan untuk menyaksikan indahnya malam bertabur bintang
saat kita berdua membelah sunyinya sepi
angin semilir dingin terasa
saat kerinduan menjalar di dada
melihat betapa cantiknya kau malam ini
bagai bidadari menjemputku
untuk menyuguhkan anggur merah memabukkan jemari bersatu dalam rangkaian rindu
disunyi sepi malam paruh waktu tanggal satu menjadi pengantar tidurmu malam ini
bertabur bintang dan rembulan

22 Pebruari 2004
————————————

DIA

I
adalah air bening mengalir di sungai-sungai bertanggul hati sanubari
mengalir kemana tempat dermaga berada menampung air bening nan suci
dia begitu mudah bersatu dimana saja
dengan ketulusan hati

di darat dia adalah umbul air bening
tempat tumbuh bunga mawar harum baunya
di gunung dia adalah mata air bening
yang memberi kehidupan pada pohon-pohon kering di laut dia bergelora menerjang karang
tiada henti tiap hari
di istana dia adalah putri cantik
setia pada raja dan ibu suri

dia adalah bidadari turun ke bumi
membawa bercawan anggur dan berguci madu
untuk pesta nan abadi
dia menari bagaikan penyihir hati
siapa saja yang mendekati
selendang jingganya melayang bertabur japa mantra menyilaukan pandang mata
gemerincing perhiasannya

bagai gemerincing sisik naga pertapa di mayapada pertanda dewa cinta akan datang
membawa panah asmara
yang menembus relung hati paling dalam

dia adalah langit biru tempat rembulan mengadu tentang bintang-bintang bersekutu
dan mentari tak ingin ditemani,
sombong angkuh dan tinggi hati
dia tiada sakit hati
yang dinanti hanya ketulusan hati yang mencintai
dia adalah air bening yang mengalir
mengalir ke aortaku, ke jantungku lalu menyelusuri jalan-jalan melewati empedu dan isi hatiku
dia telah menyatu dengan aliran darah di tubuhku

dia adalah bom waktu di dadaku
bersemayam bersama madu dan anggur merah bercampur darah di tubuhku
bergetar berdetak menunggu waktu
membahana di dada dan
mengalirkan darah merah di tubuhku

II
dia telah datang lama di hatiku
membawa mimpi-mimpi indah
terbuai di samudra luas hatiku

dia datang begitu saja
bersemi di ladang-ladangku yang subur
dengan membawa obor yang menyala-nyala menerangi jalan-jalanku
jalan-jalan yang kulalui sepanjang hari

dia bagai bidadari turun ke bumi
untuk menjemputku bermain di awan
bercanda dan menikmati indahnya
hutan gunung lembah dan samudra
yang terhampar luas membuat hati merindu
ingin selalu bersama nikmati
keindahan alam beraneka warna
berdua tiada yang mengusik
kemana kita mengembara

rambutnya yang ikal
bagai ombak samudra
yang membuat aku tak berdaya
menghadapi ombak menggulung tubuhku
bersatu dibuihbuih ombak nan luas

matanya tajam menembus relung-relung hati membuat luka yang dalam tak terperi
bibirnya bagai fajar pagi jingga merekah memerah mendebarkan hati yang memandangnya
alisnya yang melengkung bagai cakrawala
dihiasi pelangi pagi nan menawan
menggoda tiap insan
untuk menyaksikan keindahannya
hidungnya yang menggunung
menambah indahnya pemandangan
di lembah ngaraimu

dia begitu anggun dan mempesona
dia bukan hanya cantik wajahnya tapi juga hatinya dia telah lama menyimpan bom waktu di dadaku yang telah berdetak-detak menunggu waktu
apabila rindu ingin bertemu
dia telah memasang ranjau di kaki-kakiku dan sewaktu-waktu menghancurkanku
dia cantik menarik dan mempesona
bagai bidadari turun ke bumi
untuk menawarkan berpundipundi madu
dan bercawancawan anggur padaku

23 Pebruari 2004
————————————

PADAM LAGI

Senja mulai merayap perlahan keperaduan
bersama dengan merayapnya kerinduan
yang menyusup di dalam dada
bergetar dan bergelora tak tertahankan
kala kata di awan tak terjawab
dan perjumpaan tiada pertemuan
pertemuan tiada kata terucapkan
saat sumbu bom waktu yang kau tanam di dadaku telah menyala mendekati waktu
untuk menyalak memecah kerinduan
menghancurkan hati nurani
tiada disangka gerimis datang tiba-tiba
padamkan sumbu yang telah menyala
bom waktu yang kau tanam di dadaku
tidak jadi meledak hari ini
membuat hati ini bahagia

26 Pebruari 2004
————————————

KEMARAU BERLALU

Sungai-sungai mengalir kering
tanah retak menganga
pohon-pohon meranggas
daun berguguran
kemarau panjang melanda bumiku
langit biru terhampar terang
perlahan awan hitam datang berarak
bergumpal-bergumpal tanda akan turun hujan
gerimis perlahan turun menjadi hujan lebat
disertai badai menggelora
sungai-sungai mengalir penuh air
tanah telah basah dan subur
pohon-pohon telah bersemi kembali
kemarau telah berlalu
air bening mengalir di bumiku

28 Pebruari 2004
————————————

RUMAH KITA

I
Mendung datang menghiasi langit biru
pertanda kerinduan telah menggumpal di sana
nikmati keindahan yang telah kau ciptakan
menjadi hujan salju yang menusuk kalbu
kita berlari dan berteduh di rumah kita
hindari dinginnya salju
rumah yang kita ciptakan begitu indahnya
dengan hiasan bintang-bintang di dalamnya
kita datang saat kerinduan menyusup ke sanubari kita
rumah kita yang indah penuh cinta
kala pertama kita bangun rumah itu kau begitu ragu
mungkinkah kita dapat membangun rumah kita
sekokoh rumah-rumah yang ada di hati kita
rumah kita indah bagai rumah para dewa di nirwana diciptakan untuk tempat kita memadu cinta

II
Bunga-bunga di taman menghiasi rumah nirwana
di atas pelangi menyebar aroma mewangi
di antara belantara awan biru
meneduhkan angan-angan kita
hati berbunga saat berkunjung di sana
menyatukan hasrat hati penuh mimpi
kita bangun kembali rumah-rumah di awan
tempat bermimpi dan berbagi kasih
nikmati semerbak bunga-bunga di taman

bagai rumah-rumah hati kita
berbunga-bunga karena cinta
rumah kita adalah persinggahan tempat memadu cinta

1 Maret 2004
————————————

TUMBANG

Air hujan turun dengan derasnya
membawa arus dan gelombang pasang
tenggelamkan diriku ke dalam lautan
bersama dirimu jatuh berdua
tenggelam bersama nikmati derasnya gelombang
tiba-tiba suara halilintar mengema
menyambar diriku tak berdaya
lemah lunglai di dasar lautan bergelombang pasang
aku hanya bisa pasrah di dasar lautan
tersambar halilintar bagai pohon cemara
tumbang diantara rimbunnya belantara

3 Maret 2004
————————————

MENGALIR AIR BENING

Air hujan hari ini menghunjam bumi
menusuk dan menghancurkan bumi-bumi yang gembur dibawa larut dalam terkaman jemari-jemari
mencengkeram tajam bagai kuku naga pertapa
penjaga gerbang nirwana
kuku tajam menyobek bumi berdarah
bumi merah darah merayap perlahan
rata di bumi banjir rasa tak dapat dihindari
saat kita menanti untuk saling pergi
berpisah hari ini setelah terbawa derasnya hujan
membawa kapal penuh mimpi mengarungi isi bumi
yang telah terisi air hujan
datang meluap memecahkan bebatuan
mengalirkan air bening dari lembah ngaraimu
menghapus merah darah di bumimu
mengalir membawa kedamaian di hati
saat kita bersatu dalam perjumpaan
setelah sekian waktu kita tak ketemu.

Maret 2004
———————————–

DUA SENJA HARI

Dua senja hari telah berlalu
bersama hujan turun sore itu
menyapa aku dalam kesendirian
menjemput kerinduan dalam khayalan
dalam keramaian aku kesepian
suara tetes hujan begitu jelas terdengar
menimpa daun daun berderai
air hujan telah rata dengan bumi
mengalir ke lembahlembah nan dalam
berputar mengalir ke hatiku
dan menciptakan kerinduan
kerinduan di bilikbilik hatiku

Dua senja hari datang lagi
membuat kerinduan ingin berjumpa
dengan bidadari penggoda hatiku
lama bersemayam di nirwana
turun ke bumi karena jatuh hati
tinggalkan pelangi di batas cakrawala
di sini aku hanya dapat memandang
terpaku dalam keramaian
di hati yang sepi penuh kerinduan
menyingkap tabir rahasia alam

Dua senja hari begitu lama
menanti kerinduan di hati nan sepi
tiada perjumpaan dan perkataan
senja hari merambat pelan
ditemani derasnya hujan senja
sore itu begitu dingin terasa
menembus menusuk tulang-tulangku
semakin dingin kabut hujan menerpaku
aku masih terpaku dalam kerinduan
menanti dirimu turun menyapa
saat dirimu datang menyapa
aku masih terpaku memandang senja
yang berlalu dari hadapanku

7 Maret 2004
————————————

KUNCI PINTUMU

rinai hujan masih jatuh ke bumi
saat pagi hari tiada mentari menemani bumi
kedamaian dan kesejukan tercipta
membungkus kenikmatan sejati
di rumah kita bertabur cinta dan kasih sayang nan tulus
di dalam hati saat menyatu dalam perasaan
bertabur bunga yang kubawa
kau adalah permata keindahan alam yang bersinar
bagai air hujan menerpa sekujur tubuhku
bagai kilau permata dikala kumemandangmu
tiada bosan aku saksikan kilau-kilau permata itu
kudekap erat dirimu dan sinar-sinarmu
biar bersemayam dalam dada
dan tidak pergi meninggalkanku sendiri
kubawa dirimu ke awan biru
sambil bercanda di antara pelangi
kucoba membuka pintu rumahmu
namun kunci pintumu masih kau bawa
dalam genggamanmu yang erat
ingin rasanya kuminta padamu kunci itu
agar aku dapat membuka pintumu
dan aku dapat menikmati harumnya
aroma di bilikmu yang paling keramat
dalam hidupmu hanya ada satu labirin
yang dapat kaupertahankan
lambang keangkuhan kecantikanmu
gerimis pagi mengikuti waktu
saat kau coba menyerahkan kunci padaku
lambang keangkuhanmu satu-satunya
namun dinginnya angin yang mengalir
lewat jeruji alam menerpa tubuhku
kunci itu kau genggam lagi
saat aku tak berdaya
terkulai lemas di awan-awan
permata alam itu masih bersinar terang

13 Maret 2004
————————————

TUNGKU PERAPIAN

Kauciptakan bara api di dadaku
membakar poripori di tubuhku
getargetar panas menjalar ke akar-akar bilik hatiku
semakin membara waktu kaucipta
panas terasa menyelusuri seluruh tubuhku
saat kau tuangkan madu di tungku perapianku
bara api semakin berkobar membakar dinding hatiku bergetar dan berkobar memercikkan api cemburu
saat kau diam dan membisu
saat jawab tak terkata
gerimis yang datang
tak mampu memadamkan bara di tungku perapianku kurasakan begitu menyisir di bilik hatiku
terasa perih membakar hatiku
kapankah bara api ini akan padam
didera cemburu yang menggumpal di dada?
yang kutahu jawabnya ada di jarum jam berputar tak jemu.

18 Maret 2004
————————————

BUNGA HARUM

Aku datang dengan sejuta bunga untukmu
dalam perjalanan yang panjang kita tempuh berdua
sambil nikmati riuhnya orang saling bersuka
dengan deru kendaraan pekakkan telinga
sampai akhirnya kita pergi ketempat tenang dan sepi
memadu kasih yang telah tersumbat kerinduan
dengan bunga-bunga yang mewangi kutabur dalam hatimu hingga seluruh tubuhmu penuh dengan bunga-bunga
yang berserakan di tubuhmu yang harum
membuat angan melayang di awan biru
menggelora darah di tubuhku
menerjang pohon cemaraku
berguguran daun-daun di tubuhmu
aku terpesona lihat indahnya tubuhmu
hingga mentari tenggelam
aku masih terpaku di situ

20 Maret 2004
————————————-

DINGIN

Satu satu daunmu mulai tanggal berguguran di tanah nan gersang kucoba menyirami batangmu nan gundul agar tumbuh subur menghijau di hutan nan rimbun dan danau beningmu yang penuh kehidupan kucoba membasuh seluruh tubuhku dengan air di danaumu sebagai rasa rindu dan kasih sayangku padamu agar cemaraku kokoh berdiri sebagai lambang lelakiku yang perkasa, danaumu nan melimpah karena air hujan deras mengguyur kini meluap mengalir sungai-sungai ke hilir meluap bagai gelombang samudra, aku tertancap tak bergerak saat hujan turun dengan derasnya kau semakin meluap mengalir di sungai-sungai menerpa cemara dan tumbang kini kau kedinginan karena pohon lindungmu telah tumbang kau harus menunggu agar tumbuh lagi cemara di tepi danaumu

22 Maret 2004
————————————

AKU DATANG

Aku datang kepadamu
dengan secawan anggur
Bersulang kita hari ini
nikmati anggur memabukkan
kita terbang ke awan melayang
diantara bintangbintang
Kuserahkan jubahku padamu,
kuserahkan tubuhku padamu,
kuserahkan hatiku padamu,
sebatas itu dapat kuberikan padamu
Pasrahkah diriku untuk memilikimu?
Aku tetap berjalan
melewati segala rintangan,
jalan penuh kerikil dan batu tetap kulewati
Dengan secawan anggur di tangan
untuk pesta berdua dalam rentang waktu
Aku bertemu berlalu waktu
kala berjumpa denganmu
bintangbintang bertaburan di angkasa
Aku datang kepadamu dalam rindu

Maret 2004
————————————

BERTOPENG KEBOHONGAN

I
Di dermaga bening
penuh warna warni kehidupan.
Aku bagai ikan pengantin
diantara ikan yang lain
tubuhku penuh daya pesona
rumbai-rumbai tubuhku menggoda hati
Bahagia hidup di dermaga
penuh ketenangan
Perdu-perdu bercermin
pada beningnya air dermaga,
berkaca diri sendiri
Saksikan tingkah ikan
warna warni tiada iri benci
Perdu nan bijak selalu diam diri

Di balik perdu rimbun di tepi dermaga
datang sosok diam mata tajam
menatap ke dasar dermaga
mencari lena penghuni dermaga
Ikan-ikan di dermaga
tidak mudah dimangsa,
dia tahu mendekat berarti bahaya
Bangau diam tidak sabar diri
dengan topeng-topeng kebohongan

dijaringnya ikan di dermaga,
ikan-ikan telah bersembunyi
Jaring bangau hanya dapat sampah
dan kotorannya sendiri

Berdiri satu kaki
mengintai ikan di dermaga,
tidak dipikirkan akan jatuh
terjerembab masuk dermaga
jadi santapan isi dermaga
Bangau bertopeng kebohongan
berkaca pada dermaga
dilihat wajahnya berparuh panjang
bagai pisau bermata dua
terhunus siap mencabik
di kedalaman dermaga
tanpa pilih kasih
Ikan pengantin tahu datangnya bahaya
membawa pisau bermata dua

Bangau datang bertopeng sorban
dan bertopeng wajah kerut keriput,
bangau tetaplah bangau
dengan tipu muslihat dicarinya mangsa
Hari itu bangau kecewa
tidak didapatinya ikan pengantin
sebagai sarapan pagi.

Bangau terbang ke awan
mencari raja rimba berdiam diri
Dijumpainya singa jantan
mengasah taring di pembaringan
Bangau terbang
hinggap di depan singa jantan
mengadu tentang ikan pengantin di dermaga
Dijaringnya tiada mau,
ditipunya tiada tertipu
Sarapan pagi diri sendiri dan
singa jantan tiada ketemu

Ikan pengantin bahagia di dermaga
walau bahaya datang tiap pagi

II
Bangau terbang
membangun gugusan panah kematian
Timur mentari masih di ujung tonggak langit
Dalam gugusan
tiga bangau melepaskan diri
dilihatnya dermaga bening
penuh ikan berwarna warni menarik hati
membuat diri lupa teman sendiri
Tiga bangau menukik
paruh pisau bermata dua
ke arah dermaga tempat aku dan kekasihku
membangun gedung-gedung cinta kasih

Paruh pisau bangau tajam berkilau-kilau
seakan merobek jantung dan hatiku
Satu bangau hinggap di pohon
dengan telinga dan mata tajam awasi sekitar
Dua bangau tetap menukik ke dasar dermaga
mencari ikan pengantin
ke ujung dermaga satu
ke ujung dermaga yang lain
Air keruh dibuatnya
Tiada didapati ikan pengantin di dermaga

Aku dan kekasihku telah pergi
berbulan madu di rumah
penuh ketenangan dan kedamaian
Kita biarkan bangau bertopeng kebohongan
mencari kita di dermaga
tempat bidadari mandi tiap pagi
Pasti takkan ketemu
Bangau bertopeng kebohongan
bersorban kebingungan

Mengapa mencari kami?
Mengapa fitnah kami?
Datanglah pada kami,
buka topengmu biar bersih wajahmu,
bukalah kedok-kedok kebohonganmu,
temui kami di sini

Lihatlah kitabmu berdebu
pertanda kau lupa urusan baca kitabmu
Lihatlah tongkatmu
keropos dimakan rayap
Dan kau, bangau yang di atas pohon
lihatlah dahan yang kau pijak sudah rapuh
Aku kasihan pada kalian
diri sendiri tiada tampak di cermin sendiri

Sorbanmu nan apek
pertanda tak pernah kau cuci,
di cerminmu tampak bersih beraroma wangi
Kitabmu nan berdebu
pertanda tak pernah kau baca,
di cerminmu tampak bersih sering dibaca
Tongkatmu keropos di makan rayap
pertanda tak pernah kau periksa,
di cermin bagai baja penopang langit
Dahan yang kau injak telah rapuh
pertanda kau tidak pernah memperhatikan diri sendiri,
di cermin bagai lantai beton satu hasta tebalnya
Bangau-bangau itu lupa siapa dirinya
Jubahnya putih bersih
hatinya tersumpal sampah dan kotorannya sendiri
Topeng wajahnya jelas terlihat
membawa pisau-pisau bermata dua

Mengapa tidak urus diri sendiri?
Kalian dalam bahaya
Aku kasihan pada kalian
Cepat lepas topeng-topeng kebohongan kalian
Sebelum kami tiada peduli lagi pada kalian

24 Maret 2004
————————————

KUDAKI

Langkah kaki menyelusuri sungai
penuh batu dan air bening mengalir
batu-batu licin bagai punggung perawan
dari balik bukit nan gundul
kucoba meraih punggung batu
kudaki dan kunikmati indahnya pemandangan
sungai nan mengalir jernih
menarik hatiku untuk segera turun
nikmati segarnya air mengalir
kupuaskan dahaga dan keinginanku
untuk mandi dan merendam diri
dalam kesucian alam

Aku terbenam dalam air sungai
saat nikmati segarnya air bening
kucoba menggapai punggung batu
meronta penuh malu
saat daun-daun berguguran
kau memandangku segar berseri
aku bangkit dan meraih batangmu
aku jatuh lagi dalam kesucian airmu
air bening di sungai tetap mengalir
aku terdampar di sungaimu

Maret 2004
————————————-

TERBAKAR

Terdampar aku di kawah api
panas membakar tubuhku nan telanjang
tiada berdaya menggapai nirwana
angin datang membawaku
ke tanah luas nan menghijau
tapi tubuhku tetap terbakar api
panas api itu telah menjalar
ke seluruh tubuhku
walau dirimu mencoba menyirami
dengan dinginnya embun yang kau bawa
kau teteskan di tubuhku
aku tetap tak berdaya
menghadapi api membara
menyelusuri setiap darah di nadiku
menumbangkan pohon pinus di hutanku
sampai waktu tiba kita berdua berkemas diri
menikmati hidup dan kehidupan
serta berusaha agar dapat menghidupi
diri sendiri dan orang yang dicintai

31 Maret 2004
————————————-

BUNGA NIRWANA

Kubiarkan anganku melayang
menembus awan di langit biru
diantara bintang-bintang menuju nirwana.
Kau sambut kedatanganku di pintu nirwana
kau bawa secawan madu
kau tawarkan padaku
kau taburkan ke seluruh tubuhku
hingga kenikmatan kita rasakan tiada bertepi.

Kita buka pintu nirwana bersama-sama
kita nikmati indahnya pemandangan
penuh bunga-bunga semerbak
menembus relung hati kita
ombak samudra yang bergulung-gulung
membawa angan ke angkasa.
Percikan air gelombang membasahi tubuh kita
saat gelora ombak tiada henti
bergulung dan menantang karang.

Kaki-kaki berlari menyelusuri bibir pantai
pasir putih terseret arus gelombang
menerpa kaki-kaki kita.
Gelora ombak mengamuk

menggulung tubuh kita.
Terlelap kita dalam gelora ombak
hanya deru ombak yang lirih terdengar
saat keangkuhanmu sirna dalam dekapanku.

Dan kau bertanya ragu
tentang ombak yang bergulung di pantai
tentang bunga-bunga yang bermekaran di nirwana.
Sia-sia kau bertanya
tentang sesuatu yang telah sirna
karna semua begitu indah
membuat hati ingin selalu bersatu menikmati.

10 April 2004
————————————

MENERPAKU

Badai itu telah datang lagi menerpa bumiku berpusar di hati dan meruntuhkan semua yang ada di langit-langit cakrawala. Aku pertahankan semua yang dapat kuraih agar tidak terbawa oleh badai yang memporak-porandakan isi hati.

Tali yang kugunakan untuk berpegangan tertambat di dermaga. Badai itu terus berputar-putar mengelilingi tubuhku dan menyeretku ke samudra dan aku terdampar di perahu nan rapuh. Gelombang terus memburu perahuku. Aku tak sadar untuk sementara waktu hingga badai itu berlalu. Perahu yang membawaku masih terapung-apung di ujung gelombang dan tali yang kupegang masih melilit di tubuhku. Kutarik perahuku ke dermaga dan kujumpai dirimu menanti di ujung dermaga dengan wajah tersenyum.

Tubuhku lelah menahan badai yang menerpa. Seluruh tubuh basah oleh gelombang. Kau ulurkan tanganmu menyambutku. Rindu itu telah jadi badai kini kau datang membantuku untuk pergi menghindar dari lubang badai. Kau tarik diriku dan kau peluk tubuhku hingga kebahagiaan itu membangun sendi-sendi yang runtuh oleh badai kerinduan.

Aku rasakan kita bagai pengantin baru walau itu hanya ilusi saat kita bertemu hanya tatapan yang sayu bukan lagi seperti dulu.

Apakah kita bangun lagi puing-puing gedung yang diterjang badai?

Sebelum kau memulai membangun aku telah bangun gedung yang baru agar kita dapat segera beristirahat di rumah kita. Rindu itu begitu dalam menerpa hatiku. Saat kau tinggalkan puing-puing itu dan pergi mencari rumah baru. Walau kau tahu aku telah bangunkan rumah baru buat dirimu.

Aku sadar aku bukanlah kapal yang dapat menahan badai nan dahsyat tapi aku hanya perahu rapuh yang bersandar di dermaga.

17 April 2004
————————————

BURUNG BELIBIS

Malam membuka rahasia kelam
ketika bulan bersinar terang
bintang-bintang bertebaran di angkasa
sungai-sungai mengalir bening
hingga menikam jantungku
sampai pagi hari
mentari merayap di punggung gunung
sinar mentari pagi perlahan berpendar
membuka mataku yang terpejam
tersibak rasa rindu di hati
ingin berjumpa denganmu
kau begitu membuatku rindu
sampai dasar hati.

Berjumpa siang itu di dermaga
mengalun riak nan bening
ditingkahi burung-burung belibis
bermain dan bermanja dengan sesama
menawarkan kerinduanku
saat aku bercanda denganmu
di dermaga menikmati indahnya
bukit-bukit yang membentang di depan mata.

Keindahan itu bersarang di mataku
ketika kurebah di pangkuanmu
kau belai rambutku
membuat riak air di dermaga itu
menjadi gelombang pasang
saat kita jatuh di dalamnya
kau cium diriku dan begitu pula diriku
kita nikmati indahnya
burung-burung belibis ikut bercinta
mengikuti kita yang sedang bercinta.

Perlahan mentari ke ufuk barat
langit mulai biru pudar
saat kita tinggalkan dermaga
bersama burung-burung terbang ke sarangnya.

21 April 2004
————————————-

TERHEMPAS

Burung bangau tertawa terbahak-bahak saksikan aku tersiksa dalam penjara nan pengap dengan pedang terhunus di tangan tiap penjaga siap penggal kepalaku. Burung nazar telah menunggu dengan suaranya yang pekakkan telinga siap memangsa bangkai tubuhku.

Burung bangau tertawa dengan mata memandang tajam ke relung hatiku dan memperdayaku. Aku hanya pasrah tiada berdaya tubuhku lemah seperti daging tidak bertulang sendi-sendiku telah terpisah hari ini. Jeruji penjara ini telah membuat dagingku tanggal satu-satu tinggal hatiku yang masih menggelora darah. Aku hanya dapat termenung dan berpikir apa yang telah aku lakukan. Aku memang telah membuat dirimu begitu menderita.

Burung bangau tetap tertawa saksikan dagingku terpisah dengan hatiku. Pusaran angin itu membawa dagingku bertebaran terbawa arus angin yang terus berputar dan menghempaskanku. Hatiku terhempas di danau nan sepi dan asing bagiku.

Hatiku terus mencari dagingku yang terpisah. Walau bara api terus membakar tubuhku. Kutemukan daging itu di rumahmu nan sepi dan sejuk. Kita pun pergi mengembara menyatukan hati dan daging yang hilang.

14 April 2004
————————————

KAU DIMANA

Cahya mentari menembus lapis bumi
menembus pori-pori tubuhku
merampok sumber mata air di bumiku
mengalir peluh-peluh di sekujur tubuhku
menetes membasahi daun-daun dan ranting
anganku melayang menembus batas cakrawala
mengembara dan mencari bintang-bintang
yang bertaburan di angkasa
namun dimana bintangku
yang dulu bersinar terang
kini tiada kujumpai
hanya di alam mimpiku kau kupanggil
agar kembali bersinar seperti dulu lagi
biar hatiku damai dan tenteram
bersanding bersama bintang di angkasa
menikmati pelangi di cakrawala
dimana kau saat ini
aku ingin ketemu
sebagai obat rindu di hati
untuk menghilangkan guratan dijidatku
semakin hari bertambah banyak.

5 Mei 2004
————————————-

TERGORES

kabut terus bergulunggulung di ujung puncak gunung bagai selimut yang membelenggu kehidupan, batubatu besar perlahan luruh ke kaki gunung dan hancur, kusaksikan batubatu terus berguguran disertai longsoran tanah yang begitu dahsyat menimbun menimpaku, apa dayaku untuk dapat keluar dari reruntuhan batubatu itu hanya rasa yang begitu besar padamu yang dapat mengeluarkanku dari timbunan batubatu gunung, kuteriakkan namamu untuk mengenangmu agar jiwaku bangkit hancurkan batubatu itu.

Batubatu itu bagai beterbangan mendengar jeritanku, aku bebas keluar dari himpitan yang sangat berat, kucari dirimu yang telah pergi dari hadapanku, kutelusuri jalan-jalan sunyi penuh dengan kerikilkerikil dan ular berbisa di rimbunnya hutan belantara, ular yang kulewati diam seperti tidur dalam mimpinya tapi setelah kulewati perlahan ular itu menggigitku dari belakang dengan bisanya yang mematikan, dengan sisa-sisa jiwaku kuterus berjalan melewati jalan setapak di hutan belantara.

Dalam perjalananku yang lelah dan tertatih kujumpai rombongan bangau yang bertopeng kebohongan, mereka menatapku tajam dan saling berbisik lalu tertawa terbahak-bahak melihat aku berjalan terhuyung karena jiwaku tinggal separuh waktu, jiwaku yang separuh waktu telah pergi karena tergigit ular nan berbisa, aku hanya dapat memandang bangau-bangau itu tertawa, hatiku menangis melihat mereka dapat tertawa lepas, hatiku bagai teriris, dulu bangaubangau itu pernah minta tolong padaku saat terjaring di sawah petani, kini mereka mengejekku.

Dengan hati yang terluka aku tetap melanjutkan perjalananku walaupun dengan kedua tanganku sebagai kaki, karena kakiku telah berdarah dan tergores duri-duri dan kerikilkerikil tajam dalam perjalananku, di depan mataku terlihat musang menghadangku dengan mata melotot tajam ingin mencabik kakiku yang berdarah, dengan sisa tenaga kuberusaha mengusir musang dari hadapanku

aku terus berusaha mencapai tepi hutan yang membuatku terluka, berbagai binatang telah kujumpai dalam perjalananku mencari dirimu yang telah dicabik-cabik singa bodoh karena terhasut binatang lain, hutan pinus yang dulu menjulang tinggi kini roboh menghalangi perjalananku untuk dapat meraih kebahagian,

seberapa jauh lagi perjalananku mencari separuh jiwaku yang telah hilang?

kutelusuri semaksemak berduri mencari dirimu yang tersembunyi, lama sudah kumencari namun belum jua kutemukan, semakin lemah tubuhku menelusuri jalanjalan yang penuh rintangan, kutengadahkan wajahku ke langit gelap gulita tiada bintang di sana

akhirnya aku dapat keluar dari hutan yang penuh rintangan, di hamparan ladang itu tiada jalan lagi, di depanku jurang curam menganga, apabila aku terus berjalan tubuhku jatuh dan remuk dihantam tombaktombak batu di bawah sana, dan tidak mungkin aku kembali ke tengah-tengah hutan lagi, atau aku tetap di ladang ini tanpa pelindung apapun, kalau malam dingin sekali dan siang hari sinar mentari akan membakar tubuhku,

apakah aku harus mati di sini sendirian?

untuk sementara aku diam tiwikrama di ladang nan sepi sendirian, belum juga kutemukan dirimu, hanya bayang samar yang terlintas di benakku, luka-luka menganga di kakikakiku membuat tiwikramaku tiada hasil

jiwaku semakin tenggelam dalam kebimbangan untuk memilih jalan hidupku, berakhir di ladang sendirian atau aku harus berani terjun ke jurang ataukah kembali lagi ke dalam hutan?

5 Mei 2004
————————————

BENANG

Saat kurebahkan tubuhku
dihamparan rumput penuh embun pagi
kupandang langit biru
bertahta jingga keemasan
di pagi hari nan cerah
kusaksikan benang-benang jingga
menyulam renda-renda di cakrawala
saat benang emas itu menusuk hatiku
dan merenda di jiwaku
membuat pesona di hati
menyenangkan berbunga-bunga
bergelora cinta di relung hati
menyulam renda dengan benang emas
begitu indah menawan
jarum itu begitu tajam menusuk
setiap jenggal cakrawala menyulam asmara.

Saat jarum itu menusuk hatiku,
aku terkejut
kupandangi disekelilingku
semua renda tersulam benang emas
tiba-tiba perlahan mulai pudar
benang yang selalu berdua dengan jarum
kemana pergi selalu bersama
merenda asmara dengan benang emas
kini sepertinya benang itu telah lepas dari jarum.

Kesedihan meneteskan air mata hati
meleleh ke setiap jengkal pori-pori di tubuhku
saat kita bagai benang dan jarum asmara
keindahan telah berubah penantian dan tanda tanya
mungkinkah dirimu masih merindukanku
saat terakhir kali kau ucap tentang renda asmara
yang tiada kepastiannya.

30 Mei 2004
————————————

MERAJUT

Fajar pagi mulai bersinar kembali
disaat aku merasakan kerinduan
tetes embun kembali datang
membias benang emas mentari
merajut renda-renda yang kian pudar
kembali merajut renda yang telah berlobang
kini kita bagi kehangatan
dalam cakrawala penantian
gelombang angin menerpa
dingin tubuh kita
perlahan hawa hangat memuncak
dalam kerinduan
kala dua insan saling berdekapan

3 Juni 2004
————————————-

ULANG TAHUNMU

Mentari pagi malas merambat pelan
kabut pagi mulai merayap
menyelimuti bumi
saat kokok ayam jantan
membuyarkan impian
di pagi nan dingin ini
rasanya aku mencium harum tubuhmu
aku ingin pagi ini
bangun dari mimpi
kujumpai dirimu di sampingku
dan kucium keningmu
tanda sayangku padamu
dan kuucap selamat ulang tahun padamu

7 Juni 2004
————————————

JANGAN PERGI

Wahai Putri Maharani aku datang padamu
dengan kedua tangan di ujung hidung
berjalan penuh harap
agar kau sudi menerima kedatanganku
dihadapan singgasanamu nan megah
saat di depanmu kau palingkan wajahmu
dan pergi meninggalkan aku
duduk sendiri di depan singgasanamu
mengapa harus pergi Putri?

Kau adalah Putri Maharani
sedangkan aku lalat di tumpukan sampah
Kau tinggal isyaratkan telunjukmu di depanku
sebagai tanda untuk usir diriku dari depanmu
tidak perlu kau berpaling
dan berlari tinggalkan aku sendiri

Jangan kau pergi seorang diri
lihatlah di depan mata banyak kerikil tajam
dan duri siap merobek kaki

28 Juli 2004
————————————

MIMPI

Kurebahkan tubuhku yang penat di atas reotnya langit negeriku di antara tumpukan sampah limbah industri. tubuhku bersandar pada bangunan tua tak terawat penuh dengan rumah laba-laba. kucoba untuk pejamkan mataku agar penat di tubuhku hilang saat itu. untuk esok pagi mencari kehidupan kembali tapi apa yang kuharapkan tidak juga hadir dalam diriku. pikiranku melayang tentang awan biru yang sudah tidak biru lagi. penuh dengan asap yang bergulung hitam legam. perlahan seolah berjalan menuju kearahku dan menyelimutiku. tubuhku hitam legam, kucoba melihat bagian tubuhku, tapi semua tidak lagi terlihat. saat itu yang terlintas hanya dirimu yang berjalan pelan ke arahku dan dengan air yang kau bawa, kau percikkan ke wajahku. saat itu semua menjadi nyata, saat impian itu telah sirna dari diriku dan kujumpai dirimu berdiri menatapku tajam tak percaya. perlahan kau berbaring di sampingku dan menunggu waktu.

4 Agustus 2004
————————————

MAWARKU

Bunga mawarku….
kau ajarkan aku tentang harumnya bunga
aroma wangi menyelimuti tubuhku
hingga membuaiku ke alam mimpi
berselimut nikmatnya cinta
bungamu nan merekah menggodaku
untuk menggapai dan mencium
aroma bungamu

Bunga mawarku….
kau ajarkan aku tentang kerinduan
tentang wanginya tubuhmu
berbulan-bulan wangimu melekat di tubuhku
kian lama kian harum menggoda angan
untuk selalu ingat akan aromamu

Bunga mawarku…
kau ajarkan aku tentang kegelisahan di batinku
saat menunggu dirimu
dalam penantian yang panjang
berhari-hari kutunggu bungamu
tiada mekar mewangi
gundah hatiku ingin menikmati

rona bungamu
meratakan wangi di sekujur tubuhku
hanya angan datang menjemputku

Bunga mawarku…
kau ajarkan aku tentang kebencian
dengan duri-durimu kupeluk tubuhmu
durimu menusuk hatiku
keharuman tubuhmu menyiksa kerinduanku

Bunga mawarku…
aku sangat merindukanmu
jangan kau siksa diriku dengan duri-durimu
aku akan selalu menanti mekarnya bungamu
wangi tubuhmu

19 Agustus 2004
————————————

KUCOBA PERGI

Kucoba pergi
tinggalkan dirimu
tapi bayangmu
nyata di pelupuk mata
menambah kerinduan
hari ini aku tak kuasa
menahan rindu
menanti fajar keempat kali

Kucoba pergi
hilang sementara
dari peredaran
ternyata bayangmu
menyiksa batinku

11 September 2004

Tinggalkan sebuah Komentar
Aku Kembali

Agustus 24, 2010 pada 1:12 am (Puisiku) · Sunting

Di sini aku janji
pada mentari yang bersinar lagi
aku akan kembali
dengan seribu mawar di hati
tatkala kampung apung jadi saksi
kala jemariku kuterjemahkan dijemarimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: